Wednesday, December 27, 2017

Apa di balik keterkaitan nasab dengan Rasulullah SAW?

Rate this posting:
{[['']]}

Apa di balik keterkaitan nasab dengan Rasulullah SAW?

Oleh : 

Al Alim Al Allamah Al Arifbillah Murrobiruhina Al Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith,Mufti Medinah

Apa di balik keterkaitan nasab dengan Rasulullah SAW?

Keterkaitan nasab dengan Rasul­ul­lah SAW merupakan kebanggaan ter­besar dan termulia di sisi orang-orang pandai dan bijak. Keluarga inti beliau dan cabang-cabangnya adalah keluarga dan cabang keluarga termulia, lantaran na­sab mereka terhubung dengan nasab beliau dan keterkaitan kedudukan me­reka dengan kedudukan beliau.

Ulama, semoga Allah merahmati me­reka, bersepakat, pemimpin-pemimpin dari keluarga beliau yang mulia adalah manusia terbaik dari sisi dzatiyah (materi fisik dan psikis)-nya pihak bapak dan kakek, dan bah­wasanya mereka sama dengan se­lain mereka terkait hukum-hukum sya­ri’at dan sanksi hukum.

Adakah dalil-dalil, Al-Qur’an dan ha­dits, yang terkait dengan masalah itu!

Ada, di antaranya firman Allah SWT, 
 “Sesungguhnya Allah bermaksud hen­dak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahli Bayt, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” – QS Al-Ahzâb (33): 33.


Ulama mengatakan, firman-Nya “Ahli Bayt” mencakup tempat tinggal dan nasab. Dengan demikian, istri-istri beliau SAW adalah Ahli Bayt tempat tinggal, dan kerabat beliau adalah Ahli Bayt nasab.

Terdapat beberapa hadits yang me­nunjukkan hal ini, di antaranya hadits yang disampaikan Ath-Thabarani (Al-Kabir 3/56) dari Abu Sa’id Al-Khudri RA, ia mengatakan, “Ayat ini turun terkait Nabi SAW, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, semoga Allah meridhai mereka semua.”

Dalam sebuah hadits shahih dinyata­kan, Nabi SAW memberikan pakaian ke­pada mereka dan berdoa, 
 “Ya Allah, mereka adalah keluargaku dan orang-orang khusus bagiku, hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.” 
(Disampaikan oleh At-Tirmidzi No. 3871 dan Ahmad No. 6/292 dari hadits Ummu Salamah RA. At-Tirmidzi mengatakan, ”Ini hadits hasan dan merupakan hadits terbaik yang di­riwayatkan dalam hal ini. Menurut Alla­mah Arnauth dalam penjelasannya ter­ha­dap Al-Musnad, “Hadits ini shahih.”).

Dalam riwayat lain dinyatakan, Nabi SAW mengenakan pakaian pada me­reka dan meletakkan tangan beliau pada mereka serta berdoa, “Ya Allah, sesung­guhnya mereka adalah keluarga Mu­ham­mad, maka jadikanlah shawalat dan keberkahan-Mu kepada keluarga Mu­hammad, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaperkasa.” (Disampai­kan oleh Ahmad 3/323, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 3/53, dan Abu Ya’la da­lam Al-Musnad 12/344 dari hadits Ummu Salamah RA).

Di antara ayat-ayat yang menun­juk­kan keutamaan mereka adalah firman Allah SWT, “Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memper­oleh ilmu, katakanlah (Muhammad), ‘Mari­lah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istrimu, kami sendiri dan kamu juga, ke­mudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta’.” – QS Ali ‘Imran (3): 61.


Para ahli tafsir mengatakan, ketika ayat ini turun, Rasulullah SAW memang­gil Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, semoga Allah meridhai mereka. Lalu be­liau memangku Husain dan menggan­deng tangan Hasan, sementara Fathi­mah berjalan di belakang beliau dan Ali di belakang keduanya, lalu beliau ber­doa, “Ya Allah, mereka itu adalah ke­luargaku.”


Dalam ayat ini terdapat dalil yang jelas bahwa anak-anak Fathimah dan ke­turunan mereka disebut anak-anak be­liau SAW, dan nasab mereka dinis­bahkan kepada beliau dengan penisbah­an yang shahih dan berguna di dunia dan akhirat.


Dikisahkan, Harun Ar-Rasyid ber­ta­nya kepada Musa Al-Kazhim RA, 
 “Bagai­mana kalian mengatakan bahwa kalian ada­lah anak-cucu Rasulullah SAW pada­hal kalian adalah keturunan Ali? Padahal, seseorang hanya dinisbahkan nasabnya kepada kakek dari pihak bapaknya, bukan kakeknya dari pihak ibu.”


Al-Kazhim menjawab, “Aku berlin­dung kepada Allah dari setan yang terku­tuk, dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ‘Dan ke­pada sebagian dari keturunannya (Ibrahim), yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Dan demiki­an­lah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, serta Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas’ – QS Al-An’am (6): 84-85. Isa tidak memiliki ba­pak, tetapi dia digabungkan dalam ke­turunan para nabi dari pihak ibunya. Demikian pula kami digabungkan dalam keturunan nabi kita, Muhammad SAW, dari pihak ibu kami, Fathimah RA. Lebih dari itu, wahai Amirul Mu’minin, saat turunnya ayat mubahalah, tidaklah Nabi SAW memanggil kecuali kepada Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain RA.”


Demikianlah kisah ini sebagaimana disebutkan Allamah Syamsuddin Al-Wasithi dalam Majma’ al-Ahbab.


Adapun hadits-hadits yang terkait keutamaan dan keistimewaan keluarga Nabi SAW cukup banyak, dan dalam hal ini para imam menyusun berbagai karya tulis tersendiri.


Di antara hadits-hadts tersebut ada­lah yang diriwayatkan Zaid bin Arqam RA, “Suatu hari Rasulullah SAW berdiri di antara kami untuk menyampaikan ce­ramah di tempat air yang disebut Khumm, antara Makkah dan Madinah.


Beliau memuji dan menyanjung Allah SWT, menyampaikan nasihat dan pe­ringatan, kemudian mengatakan, ‘Keta­huilah, wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah manusia yang tidak lama lagi akan kedatangan utusan Tuhanku lantas aku memperkenankan dan aku me­ninggalkan di antara kalian dua pe­ning­galan berharga. Yang pertama, Ki­tabullah. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Terapkanlah Kitab Allah dan berpegang teguhlah padanya.’ Be­liau menganjurkan penerapan Kitab Allah dan menekankannya.


Kemudian beliau bersabda, ‘Dan ke­luargaku. Aku ingatkan kalian pada Allah terkait keluargaku, aku ingatkan kalian pada Allah terkait keluargaku, aku ingat­kan kalian pada Allah terkait keluarga­ku’.”


Hushain bertanya kepada Zaid, “Siapa saja keluarga beliau, hai Zaid? Bu­kankah istri-istri beliau termasuk ke­luarga beliau?”


Zaid menjawab, “Istri-istri beliau ter­masuk keluarga beliau, tetapi keluarga beliau sesungguhnya adalah mereka yang tidak diperkenankan menerima se­dekah sepeninggal beliau.”


“Siapa saja mereka?” tanya Hushain lagi.


Zaid menjawab, “Mereka adalah ke­luarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas.”


Hushain bertanya, “Mereka semua ti­dak diperkenankan menerima sede­kah?”


“Ya,” jawabnya (Disampaikan oleh Muslim No. 4425 dari hadits Zaid bin Arqam RA).


Pada redaksi lain (terkait yang di­katakan Nabi SAW di Khumm), “Sesung­guhnya aku meninggalkan di antara ka­lian dua perkara yang jika kalian berpe­gang teguh pada keduanya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku. Salah satu dari keduanya lebih besar dari yang lain. Yaitu (pertama), Kitab Allah SWT, tali yang menjulur dari langit ke bumi, dan (ke­dua) keturunanku, keluargaku. Ti­daklah keduanya berpisah hingga me­nemuiku di telaga surga. Maka, perhati­kanlah bagaimana kalian sepeninggalku dalam mencintai keduanya.” (Disampai­kan oleh At-Tirmidzi No. 3788 dan lain­nya, juga dari hadits riwayat Zaid bin Arqam).


Dalam salah satu syairnya, Imam Syafi’i RA mengatakan:

Wahai keluarga Rasulullahcinta kepada kalian semuaadalah kewajiban dari Allah dalam Al-Qur’an yang diturunkan-NyaCukuplah keagungan kedudukan kalianbahwa kalian semuasiapa yang tidak bershalawat kepada kalian tidak sah shalat baginya

Seorang pentahqiq (seseorang yang me­neliti nash-nash secara men­dalam), semoga Allah melimpahkan man­faat melalui mereka, mengatakan, “Siapa yang mencermati realita dan fak­ta, dia akan menemukan bahwa keluar­ga Nabi SAW – secara umum, kecuali sedikit se­kali – adalah yang melaksana­kan tugas-tugas agama, menyeru ke­pada syari’at pemimpin para rasul, ber­taqwa kepada Tuhan mereka, kalangan terpilih lantaran kesungguhan mereka, menjalin persatu­an yang kukuh.

(Sebuah maqalah mengatakan) ‘Siapa yang menyerupai bapaknya, dia bukan seorang yang aniaya.’


Ulama mereka adalah para pemim­pin umat dan tokoh terkemuka yang me­nyingkirkan tindak kezhaliman. Mereka adalah keberkahan bagi umat ini. Me­reka menyingkap berbagai kesuraman yang menyelimuti alam. Maka, harus ada di setiap masa dari kalangan mereka yang, lantaran mereka itu, Allah meng­hindarkan malapetaka dari manusia. Karena, mereka adalah keamanan bagi penduduk bumi, sebagaimana bintang-bintang adalah keamanan bagi pendu­duk langit.”


Apakah penisbahan kepada beliau SAW bermanfaat, baik di dunia mau­pun akhirat? Lalu, adakah dalilnya?

Ya, nisbah nasab kepada beliau SAW berguna, di dunia dan akhirat. Dalil yang melandasi hal ini cukup banyak, di antaranya sabda Nabi SAW, “Setiap hubungan nasab dan sabab (hubungan kekeluargaan lantaran pernikahan) ter­putus pada hari Kiamat kecuali nasabku dan sababku.” – Disampaikan oleh Ibnu Asakir dalam bukunya At-Târîkh (21: 67) dari hadits Ibnu Umar RA. Hadis ini me­nunjukkan besarnya manfaat penisbah­an kepada beliau SAW.

Dalil lainnya adalah hadits yang di­sam­paikan Ath-Thabarani dan lain­nya, (di­ku­tip) dari sebuah hadits yang cu­kup pan­jang, “Setiap sabab dan nasab terputus pada hari Kia­mat, kecuali sababku dan na­sabku.” (Di­sam­paikan oleh Ath-Thaba­rani dalam Al-Kabir 3/44 dan 11/343 dan Al-Ausath 6/357).


Dan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RA, ia mengatakan, “Aku mende­ngar Rasulullah SAW bersabda di atas mimbar, ‘Ada apa dengan orang-orang yang mengatakan bahwa keter­kaitan na­sab dengan Rasulullah SAW tidak ber­guna bagi kaum beliau di hari Kiamat ke­lak? Tentu, demi Allah, se­sungguhnya ke­luargaku terjalin di dunia dan akhirat, dan sesungguhnya aku, wahai manusia, ada­lah yang mendahului kalian ke telaga sur­ga’.” (Disampaikan oleh Ahmad 3/18 dan lainnya dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri RA).

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
   
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment