Thursday, June 21, 2018

Pengalaman KH.DR. Abdi Kurnia Djohan Ketika Mengikuti Dauroh Ulama Wahabi Dalam Pembahasan Aqidah Dan Tassawuf

Rate this posting:
{[['']]}

MEMUSUHI TASAWWUF

Atas izin salah satu guru saya, pada tahun 2009 saya menerima undangan untuk mengikuti dauroh para duat dari salah satu Yayasan dari Saudi. Guru menganjurkan agar saya ikut untuk mengetahui apa saja yang disampaikan. Umumnya semua materi yang disampaikan saya sudah pernah pelajari, seperti aqidah, ushul fikih dan fikih, aqidah, serta perbandingan Ahlussunnah dan Syi'ah.

Dari ketiga materi yang disampaikan, materi aqidah menurut saya lebih menarik. Karena di materi itulah dauroh yang diadakan ini ditargetkan mampu memberi persepsi baru kepada para da'i Indonesia tentang Aqidah Islam.

Secara kebetulan, materi Aqidah disampaikan pada sesi pertama. Materi disampaikan pada pukul 16.30 hingga datang waktu maghrib. Penyampainya adalah Syaikh Waleed bin Sulaiman al-Funaykh. Sebelum materi disampaikan, semua peserta dauroh diberikan selebaran tentang paham tasawwuf. Sayang saya tidak menyimpan selebaran itu.

Di selebaran itu dijelaskan makna dan hakikat tasawwuf yang disajikan dalam bentuk gambar. Diuraikan pula aliran-aliran di dalam tasawwuf dengan menyebut banyak nama, Qadiriyyah, Naqshabandiyyah, Qadiriyyah Naqshabandiyyah, Rifa'iyyah, Syadziliyyah, Tijaniyyah, Khalwatiyyah, dan masih banyak lagi.

Yang menarik dari penggambaran itu, pembuat bagan meletakkan kata "Syaithon" sebagai muara dari semua aliran tasawwuf. Penulis selebaran menulis bahwa tidaklah sebuah ajaran yang menyimpang dari sunnah Rasul melainkan syaithan berada di dalamnya (!!!)

Materi pun disampaikan oleh Syaikh. Beliau memulai dari hadits Jibril. Penjelasan pun meluncur satu per satu. Dimulai dari penjelasan tentang makna Tauhid Rububiyyah, hingga berakhir di al-Asma wa al-Shifat.

Ketika menjelaskan Tauhid Uluhiyyah, beliau mulai menyinggung fenomena syirik yang berkembang di kalangan umat. Menurutnya, dewasa ini praktik syirik terjadi tidak adanya pemahaman terhadap dalil. Beliau mengatakan;

كل شيء يجب معه الدليل او النص

Segala sesuatu (di dalam beragama) wajib besertanya dalil atau nash.

Beliau menegaskan bahwa penyimpangan itu cukup dibuktikan dengan mempertanyakan nash. Semua peserta kelihatannya setuju dengan uraian Syaikh, kecuali beberapa orang termasuk saya.

Setelah mengemukakan argumen-argumen, Syaikh mulai mengupas satu per satu bentuk penyimpangan yang beliau maksud. Pertama beliau menyebut penyimpangan yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad al-Bushiri, penulis Burdah Syarif.

Syaikh Waleed berkata bahwa penyimpangan di dalam bait-bait Burdah itu sangat banyak. Di antaranya adalah kalimat:

فَاِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا

Karena kebaikanmu yang demikian luar biasa, dunia beserta isinya (Allah ciptakan).

Beliau bertanya, " bagaimana mungkin Allah menciptakan sesuatu di dunia ini karena Nabi Muhammad? Tidakkah kalian berpikir tentang kesesatan orang ini (al-Busyiri)?"

Syaikh Waleed al-Funaikh kemudian melanjutkan bahwa Nabi Muhammad saja tidak mengetahui apapun dari perkara yang ghaib kecuali atas ilmu dari Allah. Lalu kenapa dikatakan bahwa dunia ini diciptakan karena kebaikannya? Ia pun mengutip ayat berikut:

(قُلْ إِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ مَا تُوعَدُونَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّي أَمَدًا)
[Surat Al-Jinn 25]

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat ataukah Tuhanku menetapkan waktunya masih lama.”

Menurut beliau, syair yang ditulis oleh al-Busyiri itu secara tegas menunjukkan kesesatannya. Parahnya lagi--tambah Syaikh al-Funaikh--kesesatan al-Busyiri kini dibudayakan di tengah masyarakat muslim. Mereka menjadikan syair al-Busyiri itu sebagai bagian dari ibadah. Padahal, tidak ada tuntunan dari Rasulullah dan juga dari generasi sahabat sesudahnya yang melakukan seperti apa yang dilakukan oleh al-Busyiri itu.

Setelah membahas "kesesatan" al-Busyiri, Syaikh Waleed pun mulai membahas kesesatan tasawwuf. Dan pembahasan tentang tasawwuf ini ternyata lebih panjang daripada pembahasan tentang al-Busyiri. Sehingga, materi tentang Tauhid Uluhiyyah--bisa dikatakan--isinya hanya pembahasan tentang al-Busyiri dan tasawwuf.

Sejak melihat dicantumkannya materi Aqidah sebagai materi pertama, saya sudah menduga bahwa sebenarnya di sinilah esensi dari diadakannya dauroh itu. Dugaan saya ternyata tidak meleset. Bahasan tentang aqidah yang dibuat menjadi dua sesi, hari Jum'at dan Sabtu, tampaknya diarahkan untuk sebagai pondasi terbangunnya gerakan sosial yang mengatasnamakan pemurnian aqidah.

Itu dibuktikan pada sesi kedua di hari Sabtu pagi. Pada paparan hari kedua, Syaikh Waleed menyoroti praktik beragama di lingkungan masyarakat Asia Tenggara yang menurutnya masih bercampur dengan tradisi Hindu dan Buddha. Fenomena itu menurutnya bukan cuma memprihatinkan, tapi juga membahayakan eksistensi ajaran Islam.

Ia pun mengajak para da'i untuk bekerja sama memperbaiki aqidah masyarakat. Dakwah ke arah tauhid harus ditegakkan dengan mengesampingkan ikhtilaf fikih. Sampai kepada satu poin, Syaikh Waleed membuat penegasan yang membuat saya secara pribadi terkejut. Beliau mengatakan bahwa umat ini akan selalu dalam kebaikan manakala bersih dari praktik tasawwuf. Ketika ada seorang peserta bertanya tentang bagaimana menyikapi fenomena tasawwuf di tengah masyarakat, dengan suara menggelegar khas orang Nejed, beliau mengatakan:

قِتَالُهُمْ خَيْرٌ لَكُمْ

Memerangi mereka merupakan kebaikan bagi kalian

Sang penanya pun tampak manggut-manggut dengan jawaban Syaikh. Di akhir penjelasannya, Syaikh al-Funaikh mengatakan bahwa para peserta diharapkan bisa memahami hakikat dakwah yang akan mereka lakukan di masyarakat.

Dari situ, saya bisa memahami kenapa model dakwah yang diajarkan Syaikh al-Funaikh ini, sangat membenci peringatan Maulid Nabi Muhammad, pembacaan tahlil, dan zikir berjamaah. Karena dalam pandangan orang-orang semisal Syaikh al-Funaikh, semua amalan tersebut merupakan bagian dari amalan tasawwuf, yang menurutnya haram dan bukan bagian dari ajaran Islam.

وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُوْنَ

(Kenangan ikut Dauroh di Jawa Barat 2009) 

Di Kutip melalui Akun Facebook Pribadi K.H Abdi Kurnia Djohan.

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
  
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment