Jaringan Islam Indonesia-Yaman

JARINGAN ISLAM INDONESIA-YAMAN

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Beberapa minggu sebelum berangkat ke Tarim, saya mecoba membaca kitab-kitab yang berkaitan dengannya, baik dari segi geografi tempat maupun tentang ulama'nya. Tujuan saya adalah mencoba mengenali terlebih dahulu agar lebih sayang. Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang.

Di antara kitab yang saya baca adalah: Asy-Syamil fi Tarikh Hadlramaut wa Makhalifiha karya Mufti Johor Malaysia, Habib Alawi bin Thohir Al-Haddad dan kitab Idam al-Qut fi Dzikri Buldan Hadlramaut karya Sayyid Abdurrahman bin Ubaidillah Assegaf. Kedua kitab ini saya baca atas rekomendasi dari Sidil Habib Dhiya'uddin al-Muthahhar Mranggen.

Selain kedua kitab di atas, saya juga membaca kitab kumpulan biografi ulama' khususnya para habaib dari Yaman, yang ditulis oleh pembesar habaib Jakarta pada masanya. Kitab itu bernama Taj al-A'ras 'ala Manaqib Al-Habib Al-Quthb Sholeh bin Abdullah Al-Attas karya Sidil Habib Ali bin Husain bin Muhammad bin Husain Al-Attas yang lebih terkenal dengan sebutan Habib Ali Bungur. Kitab Tajul A'ras pertama kali diterbitkan oleh Percetakan Menara Kudus pada kisaran tahun 1980an. Beberapa tahun lalu beredar cetakan baru dengan tahqiqan Dr. Abu Bakar Badzieb.

Saat membaca kitab Tajul A'ras tak sengaja saya menemukan keterangan dari Habib Ali Bungur tentang Habib Husain Al-Aydrus Luar Batang Jakarta Utara:

وأشهر مؤمني جاكرتا من البرزخيين بالصلاح والفلاح، الحبيب العارف بالله، المحبب إلى عباد الله، والفاني بشهوده عمن سواه، الحسين بن أبي بكر . . . العيدروس، وليد المعيقاب، المحلة المعروفة بين شبام والحزم بحضرموت، ودفين جاكرتا بجاوه.

"Dari mukminin Jakarta yang sudah meninggal yang paling terkenal dengan kesalehannya adalah al-Arif Billah Husain bin Abu Bakar Al-Aydrus. Beliau dilahirkan di Al-Mu'aiqib, daerah yang terletak antara Syibam dan Hazm - Hadramaut. Beliau wafat dan dimakamkan di Jakarta - Jawa."

كان إماما فاضلا، وعالما عاملا.

"Habib Husain Al-Aydrus adalah seorang Imam yang mulia, alim serta mengamalkan ilmunya."

وقد نوه بشأنه قطب الإرشاد الحبيب عبد الله بن علوي الحداد على ما في «المواهب والمنن» الحدادية.

"Quthbul Irsyad Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad pernah menyinggung soal Habib Husain Luar Batang sebagaimana dalam kitab Al-Mawahib wa al-Minan."

$ads={1}

فكان من أمره أنه سافر إلى جاوة فقصد جاكرتا للتجارة، ولكن العناية الربانية جذبته إلى ميدان الدعوة إلى الله بالحال والمقال... إلخ.

Di antara kisahnya, bahwa Habib Husain bepergian menuju ke Jakarta untuk berdagang. Akan tetapi Inayah Rabbaniyyah (perhatian khusus dari Allah) menariknya ke medan dakwah kepada Allah dengan tingkah laku dan ucapannya. . . ."

Mari kita fokus kepada mention Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad terhadap Habib Husain Luar Batang. Habib Ali Bungur menyebutkan rujukannya adalah kitab Al-Mawahib wa Al-Minan. Saya mendapatkan kitab dengan judul yang sama, akan tetapi berisi tentang manaqib Habib Hasan bin Abdullah bin Alawi Al-Haddad, bukan Habib Abdullahnya. Judul lengkap kitabnya adalah:

المواهب والمنن في مناقب قطب الزمن الحسن (١٠٩٩ هـ - ١١٨٨ هـ)

Kitab ini ditulis oleh cucu Habib Hasan, yaitu Habib Alawi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah al-Haddad.

Saya tidak tahu, apakah yang dimaksud Habib Ali Bungur adalah kitab ini atau bukan. Saya beserta Habib Dhiya'uddin al-Muthahar telah melakukan sekilas pencarian dalam kitab ini. Namun belum juga kami temukan.

ULAMA' YAMAN YANG MENJADI GURU SYAIKH YASIN PADANG

Syaikh Yasin Al-Fadani adalah ahli sanad kaliber dunia berdarah Padang Sumatra Barat. Tercatat dalam sejarah Syaikh Yasin berguru kepada lebih dari 400 guru dari berbagai negara di seluruh dunia. Di antara mereka banyak yang berasal dari Yaman. Dalam kitab Bulughul Amani fi at-Ta'rif bi Syuyukh wa Asanid Musnid al-'Ashri Yasin al-Fadani karya Syaikh Mukhtaruddin Palembang, salah satu murid dekat Syaikh Yasin, terdata ada 24 ulama Yaman yang menjadi guru Syaikh Yasin Padang. Mereka adalah:

1. Sayyid Sulaiman Al-Idrisi bin Muhammad bin Sulaiman Al-Ahdal (w. 1354 H), mufti Zabid Yaman.

Sayyid Sulaiman Al-Idrisi menuliskan ijazah marwiyat dan masmu'atnya untuk Syaikh Yasin Padang tertanggal 16 Dzul Hijjah 1353 H. Redaksi ijazahnya terdapat dalam kitab Bughyatul Murid min Ulum al-Asanid.

2. Sayyid Ahmad Al-Idrisi bin Muhammad bin Sulaiman Al-Ahdal (w. 1357 H), adik dari Sayyid Sulaiman Al-Idrisi, mufti Zabid Yaman sepeninggal kakaknya.

Syaikh Yasin Padang meriwayatkan darinya beberapa hadits musalsal. Di antaranya adalah musalsal bil Ahdaliyyin dan musalsal bil Yamaniyyin. Sayyid Ahmad Al-Idrisi menuliskan ijazah untuk Syaikh Yasin Padang pada awal bulan Rabi'uts Tsani 1356 H. Redaksi ijazahnya terdapat dalam kitab Bughyatul Murid min Ulum al-Asanid dan I'lam al-Qashi wa ad-Dani.

3. Al-Qadhi Husain bin Ali bin Muhammad Al-'Umari ash-Shan'ani Az-Zabidi (w. 1361 H)

Beliau menuliskan ijazah untuk Syaikh Yasin Al-Fadani dua kali. Yang pertama pada akhur bulan Jumadal Ula 1356 H. Kedua, pada tanggal 12 Rabiul Awal 1361 H. Ijazah yang kedua ini lebih panjang dari ijazah pertama. Redaksi kedua ijazah termuat dalam kitab Bughyatul Murid min Ulum al-Asanid.

4. Sayyid Ali bin Ahmad bin Abdurrahman As-Sadami Ar-Raudly (w. 1364), Syaikhul Qurra' di Yaman

Ijazahnya untuk Syaikh Yasin Padang ditulis di Sadam, 17 Syawal 1363 H. Teks ijazah ini termuat dalam kitab Bughyatul Murid juga.

5. Al-Faqih Yahya bin Muhammad bin Yahya Al-Hasani (w. 1367 H)

Beliau menuliskan ijazah untuk Syaikh Yasin Padang di Shon'a, 15 Rabiuts Tsani 1362 H. Redaksi ijazahnya juga termuat di Bughyatul Murid.

6. Al-Faqih Ahmad bin Yahya bin Muhammad bin Yahya (w. 1382 H)

Redaksi ijazahnya untuk Syaikh Yasin Padang juga termuat dalam kitab Bughyatul Murid.

7. Sayyid Abdul Qadir bin Yahya bin Sulaiman Al-Halabi (w. 16 Sya'ban 1360 H), muqri' kitab Shohih Imam al-Bukhari di Jami' Baitul Faqih

Beliau menuliskan ijazah untuk Syaikh Yasin dua kali. Pertama khusus dalam periwayatan kitab Shohih al-Bukhari. Kedua, ammah untuk semua marwiyat dan masmu'atnya. Kedua ijazah ini tertanggal 12 Sya'ban 1360 H. Keduanya juga tercantum dalam kitab Bughyatul Murid.

8. Syaikh Abdul Qadir bin Husain bin Tohir Al-Anbari, mufti madzhab Imam Hanafi di Zabid Yaman dan qari' Shohih al-Bukhari di Masjid Al-Asya'ir Zabid setiap bulan Rajab. Beliau wafat tahun 1362 H dalam umur 90 tahun.

Syaikh Yasin meriwayatkan darinya hadits Musalsal biz Zabidiyyin dan mendapatkan ijazah khossoh Fiqh Hanafi dan ijazah Ammah untuk semua marwiyat.

9. Al-Allamah Ahmad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdullah Al-Kasbi as-Shan'ani (w. 1366 H), salah satu guru di Madrasah Ilmiyyah Shon'a dan khotib di Sina'.

Redaksi ijazahnya untuk Syaikh Yasin Padang terdapat dalam kitab Bughyatul Murid.

10. Al-Allamah Yahya bin Muhammad bin Abdullah bin Ali Al-Aryani Ash-Shan'ani (w. 1362 H), seorang pengajar dan penyair unggul dari Shon'a Yaman.

11. Sayyid Dhiyauddin Zaid bin Ali bin Hasan Ad-Dailami al-Dimari al-Fathi (w. 1366 H).

Syaikh Yasin mendapatkan ijazah darinya secara lafadh dan tulisan, ijazah ammah untuk semua marwiyatnya. Ijazah ini tertanggal 15 Syawal 1360 H dan termuat dalam kitab Bughyatul Murid.

12. Sayyid Ahmad bin Ali bin Abdurrahman al-Kahlani Shon'a (w. 1386 H).

Redaksi ijazah tertanggal 21 Syawal 1362 H, terdapat dalam Bughyatul Murid.

13. Al-Allamah Abdul Wasi' bin Yahya Al-Wasi'i Ash-Shon'ani az-Zabidi (w. 1379 H), penulis kitab Ad-Durr al-Farid al-Jami' li Mutafarriqat al-Asanid

Syaikh Yasin mendengarkan darinya kitab Al-Awail As-Sumbuliyyah dan banyak hadits musalsal, di antaranya adalah sebagian Musalsalat Ibn Aqilah, Musalsal bi Ijazab Doa di Multazam.

Syaikh Abdul Wasi' mengijazahi Syaikh Yasin dengan ijazah ammah untuk semua marwiyatnya dan semua sanad yang ada dalam kitab Ad-Durr al-Farid. Ijazah ini ditulis pada 29 Rabiul Awal 1392 H dan redaksinya terdapat dalam kitab Bughyatul Murid.

14. Sayyid Muhammad bin Muhammad bin Yahya Al-Yamani Ash-Shan'ani az-Zabidi (w. 1380 H), penulis kitab Nailul Wathar fi Rijalil Yaman fil Qarnits Tsalits Asyar

Beliau adalah guru Syaikh Yasin Padang yang saling ber'tadbij' (saling bertukar sanad) dengan Syaikh Yasin. Ijazah beliau untuk Syaikh Yasin ditulis di Shon'a pada 5 Syawal 1363 H.

15. Syaikh Imaduddin Yahya bin Muhammad al-Ahnumi (w. 1370 H), penulis kitab Is'af al-Akabir wa al-Ashaghir bi Isnad Uli al-Atsbat wa ad-Dafatir.

Syaikh Yahya menulis ijazah untuk Syaikh Yasin pada awal Dzul Qa'dah 1363 H.

16. Al-Allamah Abu Bakar bin Ahmad bin Abdullah al-Khathib al-Anshori Al-Khazraji Tarim (1356 H).

17. Al-Allamah Sayyid Abdullah bin Umar hin Ahmad Asy-Syathiri Tarim Hadramaut (wafat di Tarim 29 Jumadil Ula 1361 H). Beliau adalah ayah dari Habib Salim Asy-Syathiri.

18. Sayyid Abdurrahman bin Ubaidillah bin Muhsin bin Alawi Ash-Shafi Assegaf (w. 1375 H), mufti Hadramaut.

Syaikh Yasin Padang mendengar darinya hadits musalsal bir rahmah di Masjidil Haram Makkah. Sayyid Abdurrahman menuliskan ijazah untuk Syaikh Yasin Padang tertanggal 14 Syawal 1362 H, di Seiwun Tarim.

19. Sayyid Syihabuddin Ahmad bin Abdurrahman bin Ali Assegaf Seiwun (w. 1357 H). Beliau menulis kitab bernama al-Amali yang berisi tentang biografi guru-gurunya.

20. Sayyid Umar bin Ahmad bin Abu Bakar bin Smith (w. 1387 H), penulis kitab an-Nafhah asy-Syadziyyah min ad-Diyar al-Hadlramiyyah. Beliau adalah seorang qadli dan  guru hadits di daerah Zanjabar. 

21. Sayyid Salim bin Hafidz bin Abdullah ibn Syaikh Abu Bakar bin Salim (w. 1379 H), kakek dari Habib Umar bin Hafidz Tarim.

Syaikh Yasin Padang belajar kepadanya di Makkah saat musim haji tahun 1320 H, 1355 H, 1356 H, dan tahun 1357 H.

22. Sayyid Muhammad bin Hadi bin Hasan Assegaf Seiwun Hadramaut (w. 1382 H)

Syaikh Yasin Padang mendengarkan darinya hadits musalsal birrahmah di Masjid Haeam saat musim haji tahun 1357 H. Sayyid Muhammad memberi ijazah ammah kepada Syaikh Yasin. Ijazah tersebut ditulis pasa 6 Syawal 1362 H dan redaksinya terdapat dalam kitab Bughyatul Murid.

23. Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Awadl Bafadlal Tarim Hadramaut

Syaikh Yasin mendengarkan darinya banyak hadits musalsal. Antara lain adalah musalsal birrahmah, musalsal bil mushofahah, dan musalsal bil musyabakah. Teks ijazah Syaikh Muhammad bin Awadl untuk Syaikh Yasin Padang terdapat dalam kitab Bughyatul Murid dan Ad-Durr an-Nasyir ala Tsabat al-Amir

$ads={2}

24. Sayyid Abdullah bin Tohir bin Abdullah bin Toha Al-Haddad Al-Haddar (w. 1367 H), musnid Qaidun dan saudara kandung Mufti Johor Malaysia, Habib Alawi bin Thahir Al-Haddad Al-Haddar

Darinya Syaikh Yasin mendengarkan banyak hadits musalsal. Di antaranya adalah musalsal bil awwaliyyah, musalsal bil mushofahah, musalsal bil musyabakah, musalsal bil hadlarim, dan musalsal bil fuqaha'. Beliau menuliskan ijazah untuk Syaikh Yasin tertanggal 17 Dzil Hijjah 1362 H. Teks ijazahnya terdapat dalam kitab Bughyatul Murid.

25. Syaikh Qasim bin Ibrahim bin Ahmad

Teks ijazahnya tertuang dalam kitab Bughyatul Murid.

Khidmah Ulama Nusantara terhadap Kitab Sullam at-Taufiq

Banyak sekali kitab ulama Hadramaut yang diterima oleh masyarakat Indonesia. Di antara sekian banyak, kitab "Sullam at-Taufiq Ila Mahabbat Allah ala at-Tahqiq" karya Habib Abdullah bin Husain bin Tohir Ba'alawi termasuk kitab paling populer. Santri junior di pesantren-pesantren Indonesia harus mengkhatamkan kitab ini sebelum melanjutkan ke jenjang kitab yang lebih tinggi. Maka, tak heran jika banyak ulama kita yang ikut serta khidmah terhadap kitab Sullam Taufiq. Ada yang menyarahi, banyak juga yang menadhomkannya.

Ulama Nusantara yang menyarahi Sullam Taufiq adalah Syaikh Nawawi Banten (w. 1314 H). Syaikh Nawawi menulis syarah berjudul "Mirqat Shu'ud at-Tashdiq fi Syarhi Sullami at-Taufiq". Dalam muqaddimah kitab ini, Syaikh Nawawi mensifati kitab Sullamut Taufiq dengan:

حوت مع صغر الحجم وحسن الاختصار ما لم يحوه كثير من الكتب الكبار

"Kitab Sullam at-Taufiq meski ukurannya kecil dan ringkas, tapi memuat masalah-masalah yang tidak dimuat banyak kitab besar."

Kitab Syaikh Nawawi ini adalah syarah Sullam at-Taufiq yang paling populer di Indonesia. Kitab ini dicetak berulang kali. Salah satu cetakan tertua adalah cetakan Maktabah Al-Wahbiyyah tahun 1291 H, 23 tahun sebelum Syaikh Nawawi wafat.

Adapun ulama Nusantara yang khidmah dengan menadhomkan Sullam Taufiq,  setidaknya ada empat kiai:

1. Sang Wali dari Pasuruan Jawa Timur, KH. Abdul Hamid, dengan kitab "Nadhom Sullam at-Taufiq". Nadhoman ini diterbitkan bersama terjemahannya oleh PP. Salafiyyah Pasuruan.

2. Syaikh Mahmud Mukhtar Bode Plumbong Cirebon. Beliau menadhomkannya dalam kitab "I'anat ar-Rafiq fi Nadhmi Sullam at-Taufiq". Kitab ini dicetak dalam dua juz disertai dg makna gandulnya.

3. KH. Ahmad Syathibi Cianjur atau yang terkenal dengan sebutan Mama Gentur. Beliau menadhomkannya dalam kitab "Nadhom Sullam at-Taufiq".

4. Kiai Ahmad Dain Kudus, adik dari KH. Arwani Amin Said Kudus. Meski wafat dalam usia muda yang hanya belasan tahun, tapi Kiai Ahmad Dain sudah meninggalkan karya tulis berupa nadhoman Sullamut Taufiq. Nadhoman itu beliau kasih nama "Inqadz al-Ghariq fi Nadhmi Sullamit Taufiq". Hingga sekarang kitab ini belum diterbitkan. Manuskripnya dipegang oleh KH. Ulil Albab Arwani di PP. Yanbu'ul Quran Kudus.

Khidmah Ulama Nusantara Terhadap Kitab Safinat an-Naja

Kitab Safinat an-Naja adalah kitab karangan ulama kebangsaan Hadramaut Yaman yang wafat dan dikebumikan di Jakarta. Beliau adalah Syaikh Salim bin Abdullah bin Saad bin Sumair al-Hadrami. Kitab Safinatun Naja sangat populer di kalangan santri pemula Indonesia. Tak heran jika mendapatkan perhatian khusus dari ulama Indonesia. Terbukti banyak dari mereka yang khidmah terhadap kitab mungil ini. Mulai dari menadhomkan, mengalih-bahasakan, hingga mensyarahinya.

Ulama Nusantara yang Menadhomkan Safinat an-Naja

Banyak ulama Nusantara yang menadhomkan Safinat an-Naja. Tujuannya antara lain agar lebih mudah dihafalkan para santri. Dalam ingatan saya ada beberapa kiai yang menadhomkannya. Mereka adalah:

A. Syaikh Ahmad Qusyairi bin Shiddiq Pasuruan, mertua waliyyullah Simbah KH. Abdul Hamid Pasuruan.

Syaikh Ahmad Qusyairi menadhomkan kitab Safinat an-Naja dalam kitab "Tanwir al-Hija fi Nadhmi Safinat an-Naja". Nadhoman ini banyak kita temukan di kitab-kitab ukuran saku kumpulan mutun. Naskah yang beredar mencantumkan penulisnya adalah Ahmad bin Shiddiq Al-Lasemi Al-Pasuruani. Awalnya saya mengira beliau adalah KH. Ahmad bin Shiddiq Jember mantan Rais Am PBNU, ternyata bukan. Yang benar adalah KH. Ahmad Qusyairi bin Shiddiq, kakak mantan 

Rais Am PBNU.

Kitab Tanwirul Hija mendapat perhatian khusus dari ulama malikiyah di Makkah, Syaikh Muhammad Ali Al-Maliki. Beliau menuliskan untuk kitab ini sebuah kitab syarah yang bernama "Inarat ad-Duja fi Syarhi Tanwir al-Hija".

B. Kiai Muhammad Ma'shum bin Siroj Gedongan Cirebon

Beliau menulis nadhom Safinat an-Naja dan memberinya nama "Nail ar-Raja Mandhumah Safinat an-Naja". Nadhoman ini kemudian disyarahi oleh mantan Rais Am PBNU dan Ketum MUI, KH. Ahmad Muhammad Sahal Mahfudh Kajen Pati dalam kitab "Faidl al-Hija ala Nail ar-Raja".

Hubungan antara kedua muallif Nusantara ini tak hanya sebatas nadhim dan syarih saja, melainkan juga hubungan kekerabatan. Keduanya sama-sama keturunan KHR. Sholeh bin KHR. Asnawi Sepuh Kudus. Nasab Mbah Ma'shum adalah KH. Muhammad Ma'shum bin Nyai Fatmah Zahro binti Nyai Fadhilah binti KHR. Sholeh bin KHR. Asnawi Sepuh Kudus. Sedangkan Mbah Sahal, nasabnya adalah KH. M. A. Sahal bin Nyai Badi'ah binti Nyai Hafshoh binti KHR. Ma'shum bin KHR. Sholeh bin KHR. Asnawi Sepuh. Jika diruntut, maka Mbah Ma'shum adalah paman dari Mbah Sahal.

C. Habib Abdullah bin Ali bin Hasan Al-Haddad Bangil (w. 1331 H)

Keterangan dari kitab Ats-Tsabat Al-Indunisi, beliau mempunyai banyak karya tulis. Salah satunya adalah "Nadham Safinat an-Naja".

Ulama Nusantara yang Mensyarahi Safinatun Naja

Kitab Safinah memuat intisari pembahasan fiqh ibadah dalam Madzhab Imam asy-Syafi'i. Karena ringkas dan padat, maka perlu penjabaran dan penjelasan agar lebih mudah difahami. Banyak dari ulama kita yang menuliskan syarah untuk kitab Safinah ini. Di antaranya adalah:

A. Syaikh Nawawi Banten dengan kitab "Kasyifat as-Saja Syarh Safinat an-Naja". Kitab ini terbilang syarah Safinah paling populer di Indonesia daripada syarah-syarah lain. Kitab Kasyifat as-Saja naik cetak berulang kali. Baik cetakan lokal maupun luar negeri. Salah satu cetakan luar negeri yang bagus dan enak dibaca adalah kitab cetakan kerjasama antara Dar Ibni Hazm dan Al-Jaffan & Al-Jabi Beirut Lebanon dengan tahqiqan Syaikh Bassam Abdul Wahhab al-Jabi. Cetakan pertama pada tahun 2011 M/1432 H dengan no ISBN 978-614-516-124-1.

B. Syaikh Utsman bin Said Tungkal Jambi (w. 1405 H). Beliau menyarahinya dengan kitab "Sullam ar-Raja li al-Wushul Ila Alfadh Safinat an-Naja". Kitab ini pernah dicetak oleh ..... (Keterangan menyusul)

C. Tuan Guru Zainuddin bin Abdul Majid NTB dalam kitab "Sullam al-Hija ila Syarh Safinat an-Naja".

Adapun ulama Nusantara yang telah mengalih-bahasakan kitab Safinat an-Naja ke dalam bahasa daerah salah satunya adalah Al-Arif Billah KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqi Surabaya. Kitab beliau bernama "Kasyf al-Hija fi Tarjamati Safinat an-Naja". Terjemahannya dalam bahasa Madura.

Ditulis Oleh : Ustadz Nanal Ainal Fauz

Demikian Artikel " Jaringan Islam Indonesia-Yaman  "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama