ANTARA QARIN DAN ARWAH Oleh Habib Lutfhi bin Yahya


Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya :
Dalam bahasa modern dikenal istilah black box*, dan qarin itu black boxnya manusia. Yang sering kita mainkan dan yang sering dibawa kesana-kemari itu black boxnya. Seperti lagu dalam kaset ada tujuh belas lagu, misalnya, yang diputar terkadang hanya nomor enam dan nomer tiga. Terus saja berputar di situ-situ saja beberapa lagu yang tercatat di dalam qarin itu tadi. Tidak bisa kurang dan tidak bisa lebih. Sebab tugas black box itu merekam semua perilaku yang semisal, qarin sama kedudukannya.
Maka sebagian ahli kasyaf (orang yang memiliki mata batin) jika berziarah ke ahli barzakh dia tahu ini muwakkal (perwakilan) atau ini qarinnya yang di sana. Sehingga para wali besar seperti Mbah Sholeh Bagusan Comal adalah termasuk dari ahli kasyaf yang luar biasa. Berangkat ziarah bersama rombongan. Begitu sampai di lokasi
ziarah langsung ngajak pulang, "Balik ae balik ae, do balik, balik yo..."
Tapi ucapan Mbah Sholeh tersebut ada alasannya. "Balik ae balik, percuma ra ono wonge, percuma ra ono wonge, wes balik ae (Pulang saja, percuma tidak ada orangnya)". Mbah Sholeh hanya kirim surat al-Fatihah lalu pulang. Sebab beliau tahu yang di situ tidak ada, arwahnya sedang kumpul bersama para wali lainnya ('ala masyrabahum); yang Syadziliyah berkumpul dengan arwahnya Imam asy-Syadzili, yang Qadiriyah berkumpul dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, yang Tijaniyah, yang Syathariyah, dst. kumpul dengan aimmat ath-thurufihim (para pimpinannya) yakni alladzi fihi al-madad min madad al-maula, kumpul bersama.
Ada para wali yang pulang ke kuburnya belum tentu sehari sekali atau seminggu sekali. Semisal ziarah ke Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni. Jika mau berziarah ke sana saat menjelang ba’da shalat Fajar atau menjelang Shubuh, maka bisa bertemu dengan Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni di kuburnya. Selain Sabtu pagi tidak akan ketemu, sebab beliau masih berkumpul bersama Baginda Nabi Saw. Minal arwah junudun mujannadah (ruh-ruh itu laksana tentara yang berkumpul)**, dikumpulkan di situ.
Di situ yang menjadi muwakkal adalah para malaikat, bukan qarin, yang ditugasi menjaga kuburan wali tadi. (Malaikat) "Ada hajat apa?" (Peziarah) "Saya hendak bertawasul dengan wali Allah." (Malaikat) "Apa keperluannya?" (Peziarah) "Mintakan pada Allah Swt. hajat saya begini dan begini..."
Malaikat itu lah nanti yang akan menyampaikannya kepada Allah Ta’ala dengan seizin wali tadi. (Malaikat) "Ini tamunya banyak Kiai, tadi di kuburanmu ada fulan dan fulan..." (Wali) "Ya, keperluannya apa saja, dibacakan satu-satu..." Umpanya demikian. Kemudian oleh si wali dihaturkan permintaan-permintaan (doa) tadi kepada Allah Swt.
Kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi. Tidak ada ruh yang bisa keluar dengan sendirinya. Tatkala Malaikat Izrail mencabut nyawa seorang hamba maka terlepaslah ruh dari jasadnya. Jika ada pertanyaan, banyak ritual yang konon bisa memanggil arwah dan bisa dimasukkan apakah itu termasuk asrar?
Jawabannya bisa diimbangi dengan logika. Lihat neon-neon lampu, seumpama kaca/bohlamnya dicopot masih ada apinya atau tidak? Yang nyala itu kaca atau setrumnya? Setrum. Jika setrumnya masih ada tapi bohlamnya tidak ada maka apinya masih tetap ada. Demikianlah arwah tatkala keluar dari jasadnya.
نور العالم والأسرار فيه الأنوار
"Cahaya orang alim dan asrar di dalamnya ada cahaya-cahaya." Sebab ibadahnya seorang wali itu sehari bisa mengkhatamkan al-Quran sekian kali, Tahajjud sekian, sholawat sekian, dzikir sekian, dst. Inilah asror yang luar biasa.
Arwahnya ditarik tapi jasadnya masih di dalam kuburnya. Ada jasad yang masih terjaga utuh, sebab melanggengkan wudhu, atau ahli Tahajjud, lebih-lebih hafidz al-Quran atau hablu al-Quran, ini yang dijaga. Sewaktu-waktu dia mendapat perintah oleh Allah Ta’ala untuk hadir saat kematian orang alim, atau saat negara genting, ruh itu diletakkan kembali kemudian bangun dari kuburnya ikut membela jihad fi sabilillah. Contohnya saat kematian Sayyidina Umar bin Abdul Aziz, para wali dan syuhada yang sudah wafat semuanya hadir untuk bertakziah kepada Umar bin Abdul Aziz.
Ada pula waktu itu ruh yang diizini Allah Swt. menghampiri ibunya yang masih hidup. Dia bersama rombongan diminta oleh para syuhada ikut bertakziah ke Umar bin Abdul Aziz. Namun izinnya hanya itu, tidak diperkenankan mampir.
Jika jasad telah hancur maka arwah mutlak "nurun yatala’la abwa kal barqil khathif kal mir-ah", seperti pantulan kaca yang kemilau. Yang pada akhirnya ruh itu masuk ke dalam jasad seseorang, maka termasuk sebuah keberuntungan besar bagi orang tersebut. Ini membutuhkan jasad yang betul-betul kuat. Jadi istilah memanggil arwah sebetulnya yang masuk adalah asrarnya, bukan ruh, semisal asrar para Wali Songo.
Berbeda dengan orang-orang ahli thariqah, maka madad min madadillah yang masuk. Allah Ta’ala memberikan madad kepada Nabi Saw., lalu para sahabat, kemudian kepada para imam thariqah. Itu berbeda karena haknya para wali, bukan masalah kesurupan atau kerasukan.
Semisal jika seorang (kiai) ahli thariqah akan wafat maka ruh-ruh suci akan hadir. Lalu dipersilakan olehnya laiknya menyambut tamu dan terkadang seperti sedang ngobrol sendiri. Seolah-olah kiai tersebut sedang zawalul ‘aqli (hilang akal). Padahal dia sedang melihat siapa saja yang akan menyaksikan dirinya kembali kehadirat Ilahi. Artinya dia sudah siap. Inilah yang dinamakan madad min madadillah. Sangat banyak para wali Allah yang mengalami demikian. Tapi jika ruh masuk ke dalam jasad manusia maka tidak ada nash yang kuat. Kalau asrar iya, betul, asrar dari ruh-ruh yang suci.
Adapun tawasulan berbeda lagi maksudnya. Di sini harus paham. Penyampaian asrar seperti di atas itu ya seperti wali itu sendiri. Artinya itu hak. Seolah-olah sama tapi tidak sama.
Semisal ditanyakan, ada yang kemasukan asrar tapi kenapa dawuh (perkataannya) tidak digugu/diikuti? Mau diikuti bagaimana jika dirinya sendiri saja belum bisa membedakan antara malaikat dengan iblis. Seperti halnya seseorang yang mengaku ketemu wali fulan sedangkan dirinya saja belum bisa membedakan mana ruh yang mahfudz (dijaga) dan yang ghairul mahfudz (tidak dijaga). Sehingga banyak yang salah memahami sampai-sampai dia meninggalkan shalat seolah-olah sudah ditanggung.
Apalagi jika yang datang itu semisal berkata, "Kamu itu cucuku, bukan orang lain." Repotnya di situ. Itu yang ngomong siapa? sudah bisa membedakan apa belum? Makanya jangan suka main-main dengan ilmu-ilmu seperti itu. Kalau belum waktunya tidak akan bisa. Tentang ini ada keterangan penting dalam kitab Munjinat al-Asrar bab khawash surat al-ikhlas.
_________________
*Kotak hitam atau black box adalah sekumpulan perangkat yang digunakan dalam bidang transportasi, mumnya merujuk kepada perekam data penerbangan (flight data recorder; FDR) dan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder; CVR) dalam pesawat terbang.

**Dalam kitab Ihya' Ulumiddin halaman 159-160, Imam al-Ghazali memberikan ulasan menarik tentang hadits al-arwah junudun mujannadah, sebagai berikut:
الارواح جنود مجندة فما تعارف منها ائتلف وما تناكر منها اختلف (*1) فالتناكر نتيجة التباين والائتلاف نتيجة التناسب الذى عبر عنه بالتعارف وفي بعض الالفاظ " الارواح جنود مجندة تلتقي فتتشام في الهواء (*2). وقد كنى بعض العلماء عن هذا بان قال ان الله تعالى خلق الارواح ففلق بعضها فلقا واطافها حول العرش فأى روحين من فلقتين تعارفا هناك فالتقيا تواصلا في الدنيا. وقال صلى الله عليه وسلم ان ارواح المؤمنين ليلتقيان علي مسيرة يوم وما رأى احدهما صاحبه قط (*3)
Ruh-ruh/jiwa itu laksana tentara yang berkumpul, maka yang saling mengenal daripadanya niscaya menyelaraskan (mudah bergaul atau saling menyesuaikan) dan yang bertentangan daripadanya niscaya saling menyelisihi (berseberangan ).".(1).
Kata "Tanakur/pertentangan" adalah natijah (hasil) dari perbedaan, dan "I'talaf/kejinakan" adalah hasil dari kesesuaian yang diibaratkan dengan "Ta'aruf" atau saling mengenal, atau berkenalan satu sama lain. Pada sebagian teks hadits di atas terdapat maksud yang mengindikasikan bahwa jiwa atau ruh itu ibarat tentara yang berkumpul dan berjumpa, lalu berciuman di udara. (2).
Sebagian Ulama menyebutkan hal ini dengan cara kinayah atau sindiran dengan mengatakan, bahwa Allah Swt. menjadikan segala nyawa, maka dipecahkanNya sebagian dan dithawafkan di sekeliling Arsy. Maka mana diantara dua nyawa atau ruh dari dua pecahan yang berkenalan itu lalu bertemu sebagai kesinambungan terhadap perjumpaan keduanya di dunia. Nabi Saw. bersabda, "Bahwa nyawa dua orang mu'min bertemu dalam perjalanan sehari, dan tidak sekali-kali salah satu dari keduanya melihat temannya." (3).
(1) HR. Imam Muslim dari Abi Hurairah dan Imam Bukhari meriwayatkan sebagai ulasan dari hadits Siti Aisyah).
(2) Hadits "Jiwa atau ruh itu ibarat tentara yang berkumpul dan berjumpa, lalu berciuman di udara", Imam ath-Thabarani menyandarkan kelemahan hadits ini dari hadits Ali.
(3). Hadits "Bahwa nyawa dua orang mu'min bertemu dalam perjalanan sehari, dan tidak sekali-kali salah satu dari keduanya melihat temannya", Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr dengan lafadz " تلتقى " dan berkata salah seorang dari mereka yang terdapat didalamnya Ibnu Luhai'ah dari Daraj. (footnote Ihya, Hal. 159, tentang makna "al-ikhwah fillah").

(Sya'roni As-Samfuriy. Disampaikan oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam Pengajian Ramadhan di ndalem beliau, tahun 2016).
Wallahu a'lam bishowab 

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
Redaksi

Rumah Muslimin Grup adalah Media Dakwah Ahlusunnah Wal jama'ah yang berdiri pada pertengahan tahun 2017 Bermazhab Syafi'i dan berakidah Asyariyyah. Bagi sobat rumah-muslimin yang suka menulis, yuk kirimkan tulisannya ke email kami di dakwahislamiyah93@gmail.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close