Sabtu, 28 November 2020

Nasihat Untuk Golongan Islam Yang Selalu Mengklaim Paling Benar

Rate this posting:
{[['']]}

NASIHAT UNTUK GOLONGAN ISLAM YANG SELALU MENGKLAIM PALING BENAR

Oleh : Ustadz Abdullah Al-Jirani

Sering membantah argument orang lain yang membawakan fatwa atau pendapat ulama dengan menyatakan bahwa “ucapan atau fatwa ulama bukan dalil, ulama juga bisa salah”. Tapi di sisi lain sering membawakan fatwa atau pendapat ulama untuk membela pendapatnya. Padahal sama-sama tidak disebutkan dalilnya. Dengan tema dan perbuatan yang sama, bisa divonis berbeda.  Untuk ‘kami’ benar dan untuk ‘kalian’ salah. Standar ganda.

Jadi, masalah sebenarnya bukan ada tidaknya dalil, atau disebutkan tidaknya dalil, tapi sesuai tidaknya dengan pendapat ‘kami’. Jika sesuai, walau tanpa dalil atau tanpa disebutkan dalilnya tidak masalah. Tapi kalau tidak sesuai, berapapun dalil yang dibawakan akan ditolak, apalagi tidak disebutkan dalilnya. Pokoknya yang benar cuma ‘kami’ dan yang lain harus salah. Ini salah satu bentuk ta’ashsub (fanatik buta) yang sering tidak disadari oleh para pelakunya.

Saudaraku, fatwa atau pendapat ulama memang bukan dalil. Kita juga tidak pernah menjadikannya sebagai dalil. Yang namanya dalil itu Qur’an, Hadis, Ijma’ dan qiyas. Ini yang disepakati. Yang diperselisihkan masih banyak. Maka, saat kita mendapatkan pendapat ulama  yang tidak disebutkan dalilnya, hendaknya kita berhusnu dzan (baik sangka) kepada mereka bahwa sebenarnya ada dalinya, tapi dengan berbagai pertimbangan “sengaja tidak disebutkan”. Mungkin untuk meringkas, atau untuk meringankan orang awam dalam memahaminya, atau khawatir memberatkan, atau pertimbangan yang lain.

Baca Juga :

Biografi & Karomah AlHabib Syechan bin Musthofa Al Bahar Wali yang Jadzab (Nyleneh)

Bagaimana mungkin mereka berpendapat tanpa didasarkan kepada dalil ? Sedangkan mereka adalah orang-orang yang bertaqwa kepada Allah, berilmu, amanah, dan merupakan pewarisnya para Nabi. Pantaskah kita mengklaim diri kita senantiasa di atas dalil sedangkan mereka (para ulama) kita tuduh tidak di atas dalil ? Kalau tidak tahu dalilnya, jujur saja katakan tidak tahu. Kalau tidak paham dalilnya, jujur saja katakan tidak paham. Jangan sampai seorang menggunakan kebodohannya  untuk menyalahkan orang lain. 

Menuduh ulama Rabbani berpendapat tanpa dalil, itu sama saja berburuk sangka kepada mereka.Buruk sangka kepada mereka, sama saja dengan merendahkan mereka. Merendahkan mereka, sama saja merendahkan Allah dan Rasul-Nya. Kalau misalkan kita tidak sependapat dengan mereka dalam suatu permasalahan, maka cukup tidak sependapat saja tanpa harus dibumbui dengan berbagai tuduhan dan buruk sangka. Tidak sependapat itu boleh, menghormati mereka hukumnya wajib, sedangkan merendahkan mereka hukumnya haram.

Imam Ibnu Asakir (w. 571 H) rh dalam kitab “Tabyin Kadzibil Muftari”, hlm. (29) berkata  : 

إِن لُحُوم الْعلمَاء مَسْمُومَة وَعَادَة اللَّه فِي هتك أَسْتَار منتقصيهم مَعْلُومَة لِأَن الوقيعة فيهم بِمَا هم مِنْهُ برَاء أمره عَظِيم والتنَاول لأعراضهم بالزور والافتراء مرتع وخيم

“Sesungguhnya daging ulama itu beracun. Dan kebiasaan Allah dalam mengoyak tirai orang yang merendahkan mereka adalah perkara yang pasti. Karena sesungguhnya mencela mereka dengan suatu alasan yang mereka berlepas diri darinya merupakan perkara yang besar (tanggungjawabnya). Dan membicarakan kehormatan mereka dengan keburukan dan kedustaan, merupakan fitnah yang sangat berat.”

Wallahu Al-Muwaffiq ila aqwam Ath-Thariq

16 Rabi’ul Awwal 1442

Abdullah Al-Jirani

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -


Jumat, 27 November 2020

Kontradiksi Dalam Bermazhab

Rate this posting:
{[['']]}

KONTRADIKSI DALAM BERMAZHAB

Oleh : Ustadz Abdullah Al-Jirani 

Di satu kesempatan melarang orang fanatik kepada mazhab Syafi’i. Tapi di kesempatan lain mencela orang yang menyelisihi “sebagian” pendapat mazhab Syafi’i dengan alasan tidak konsisten dalam bermazhab. Dua pernyataan ini kontradiksi (saling bertentangan). Yang pertama membantah yang kedua, dan yang kedua membantah yang pertama. Membuat pernyataan sendiri, lalu dibantah sendiri.

Jika kita mau berfikir jernih dan inshaf (adil), maka saat diketemukan ada pengikut mazhab Syafi’i yang menyelisihi “sebagian” pendapat mazhab, seharusnya dijadikan bukti bahwa pengikut mazhab itu tidak fanatik sebagaimana yang dituduhkan oleh sebagian pihak. Karena “penyelisihan” itu bukti tidak adanya “kefanatikan”. Lalu dari sisi mana hal ini dianggap tercela ? Kalian sendiri yang melarang orang fanatik, tapi saat ada orang yang membuktikan dirinya tidak fanatik kalian salahkan. Ini sangat aneh.

Saudaraku,...bermazhab itu bukan berarti harus mengikut pendapat mazhab secara totalitas. Tapi bagaimana seorang memahami fiqh di atas qawaid (kaidah-kaidah) mazhab serta mengikuti mayoritas pendapat mu’tamad dalam mazhab yang dia ikuti. Ada kalanya seorang mengikut pendapat di luar mazhabnya dalam sebagian masalah dengan pertimbangan tertentu. Ini diperbolehkan dan tidak mengeluarkan konsistensi seorang dalam dari bermazhab.

Contohnya Imam An-Nawawi (w. 676 H) rh. Beliau ini seorang ulama yang telah mencapai derajat mujtahid, atau tepatnya mujtahid tarjih/fatwa. Walaupun beliau bermazhab Syafi’i, namun beliau memiliki ikhtiyarat, yaitu beberapa pendapat yang beliau anggap lebih kuat dari sisi dalil yang menyelisihi pendapat mu’tamad mazhab. Secara umum, ikhtiyarat imam An-Nawawi dinilai lemah oleh para ulama jika dilihat dari sisi mazhab, namun kuat jika dilihat dari sisi dalil. [Sullamul Muta’allim]

Baca Juga :

Adakah Malaikat Penghitung Tetesan Air Hujan Di Dalam Islam?

Selain imam An-Nawawi, juga ada imam Al-Qaffal Asy-Syasyi, Al-Qadhi Al-Husain, Ar-Ruyani, Ibnu Khuzaimah, dan yang lainnya. Apakah dengan hal ini lalu mereka layak dilabeli dengan “tidak konsisten dalam bermazhab” ? Tentu tidak ?. Tidak ada seorang pun dari para ulama yang mengeluarkan mereka dari mazhab Syafi’i atau melabeli  “tidak konsisten dalam bermazhab”.

Disebutkan dalam kitab “Al-Madkhal”, hlm. (59) :

أنه ينبغي التنبيه هنا على مسألة مهمة يخطئ فيها بعض الطلبة وهي أن اختيارات بعض علماء المذهب لأقوال خارجة عن المذهب لا يعني بالضرورة خروجهم أو عدم انتسابهم للمذهب بل هم مع اختيارهم لتلك الأقوال باقون ضمن إطاره يقلدون أو يرجحون أو يخرجون -كأصحاب الوجوه- وفق قواعد وأصول المذهب.

“Seyogyanya untuk diperhatikan di sini terhadap suatu masalah yang sangat penting yang sebagian penuntut ilmu tersalah di dalamnya, yaitu sesungguhnya ikhtiyarat (berbagai pendapat yang dipilih) oleh sebagian ulama mazhab yang keluar dari pendapat (mu’tamad) mazhab, tidaklah mengeluarkan mereka atau meniadakan penyandaran mereka kepada mazhab (syafi’i). Bahkan mereka bersama dengan pendapat-pendapat pilihan mereka itu, tetap dalam bingkai mazhab, bertaklid, merajihkan (menguatkan), dan mengeluarkan kesimpulan hukum seperti ashabul wujuh berkesesuaian dengan berbagai kaidah dan ushul mazhab.”

Semoga bermanfaat. Alhamdulillah Rabbil 'alamin.

18 Rabi’ul Awwal 1442 H

Abdullah Al-Jirani 

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -


Kamis, 26 November 2020

Kyai Kampung Rasa Doktor

Rate this posting:
{[['']]}

KYAI KAMPUNG RASA DOKTOR

Oleh : Ustadz Abdullah Al-Jirani

Ada orang-orang  yang tidak pernah belajar kepada para ulama di luar negeri, tidak punya titel akademis apapun, tapi keilmuannya serasa doktor atau profesor, bahkan lebih. Mereka ini hanya fokus belajar kepada para guru yang ada di pondok pesantren di Indonesia dengan sistem belajar sorogan atau bandongan dari satu kitab ke kitab lain dalam berbagai disiplin ilmu. Masa belajarnya pun cukup lama, tahunan atau bisa sampai belasan tahun. Bahkan ada sebagian mereka walaupun sudah belajar belasan tahun, belum mau pulang kalau belum disuruh pulang oleh gurunya. Mereka ini, ilmu dan sanad (transmisi) keilmuannya jelas, bersambung sampai kepada para ulama mujtahidin, lalu bersambung sampai Nabi.

Baca Juga :

Mencintai Habaib Sesuai Seleranya, Mencaci Maki Habaib Semaunya?

Hafalannya pun sangat mutqin, baik hafalan quran, hadits, matan-matan ilmu, dan berbagai faidah-faidah ilmiyyah. Bahkan sampai ada yang hafal suatu faidah ilmu terletak di buku apa, halaman berapa, sebelah mana dan terbitan mana. Selain sudah khatam (selesai) belajar berbagai kitab, mereka juga sudah khatam "mengajarkan" kitab-kitab tersebut berkali-kali bahkan belasan kali kepada orang lain.

Saya pernah belajar sebuah kitab ushul fiqh tingkatan akhir pada seorang guru yang tidak punya titel apapun, yang selesai selama dua tahun. Waktu itu beliau bilang, bahwa beliau telah mengkhatamkan (selesai) mengajarkan kitab tersebut kepada murid-muridnya sebanyak enam belas kali. Jadi waktu mengajar saya kala itu adalah kali yang ke tujuh belas. Kalau sekarang mungkin sudah lebih dari dua puluh kali. Beliau juga sempat mengulang beberapa kali saat belajar kitab tersebut kepada guru beliau.

Mungkin jadi di sekitar kita ada guru-guru yang tipenya seperti ini. Perlu dicari, karena biasanya mereka tidak terkenal. Tidak pernah masuk TV nasional dan tidak masuk deretan ustadz "komunitas hijrah". Kami pribadi berkesempatan untuk mendapatkan sebagian dari mereka dan menimba ilmu darinya. Ini semua menjadi bukti, bahwa keilmuan tidak melulu diukur oleh sederet titel akademis ataupun "popularitas". Ilmu itu anugerah Allah yang akan diberikan kepada para hamba-Nya yang Dia kehendaki.

Baca Juga :

Pelajaran Ranting Kecil Dari Rasulullah SAW

5 Dzulhijjah 1441 H

Alfaqir : Abdullah Al-Jirani

****

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohobihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -


Rabu, 25 November 2020

Kisah Hatim Al-Ashom Pergi Haji Bermodal Tawakal

Rate this posting:
{[['']]}

KISAH HATIM AL-ASHOM PERGI HAJI BERMODAL TAWAKAL

Suatu hari ia berkata kepada istri dan 9 putrinya bahwa ia akan pergi untuk menuntut ilmu. Istri dan putri-putrinya keberatan. Karena siapa yang akan memberi mereka makan.

Salah satu dari putri-putri itu berusia 10 tahun dan hapal Al-Quran. 

Dia menenangkan semua: "Biarkan beliau pergi. Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan tidak pernah mati!"

Hatim pun pergi, Hari itu berlalu, malam datang menjelang. Mereka mulai lapar. Tapi tidak ada makanan. Semua mulai memandang protes kepada putri 10 tahun yang telah mendorong kepergian Ayah mereka.

Putri hapal Al Quran itu kembali meyakinkan mereka: "Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!"

Dalam suasana seperti itu, pintu rumah mereka diketuk. Pintu dibuka. Terlihat para penunggang kuda. Mereka bertanya: "Adakah air di rumah kalian?".

Baca Juga :

Filosofi Semar, Gareng, Petruk, Bagong (Punakawan) Dalam Islam

Penghuni rumah menjawab: "Ya, kami memang tidak punya apa-apa kecuali air".

Air dihidangkan. Menghilangkan dahaga mereka. Pemimpin penunggang kuda itu pun bertanya: "Rumah siapa ini?".

Penghuni rumah menjawab: "Hatim Al-Ashom". 

Penunggang kuda terkejut: "Hatim, ulama besar muslimin.."

Penunggang kuda itu mengeluarkan sebuah kantong berisi uang dan dilemparkan ke dalam rumah dan berkata kepada para pengikutnya: "Siapa yang mencintai saya, lakukan seperti yang saya lakukan.."

Para penunggang kuda lainnya pun melemparkan kantong-kantong mereka yang berisi uang. Sampai pintu rumah sulit ditutup, karena banyaknya kantong-kantong uang. 

Mereka kemudian pergi.

Tahukah anda siapa pemimpin penunggang kuda itu...?.

Ia adalah Abu Ja'far Al Manshur, Amirul Mukminin.

Baca Juga :

Shalawat Miftah Karangan Habib Ali Al Habsyi ( Shohibul Maulid Simthudduror )

Kini giliran putri 10 tahun yang telah hapal Al-Quran itu memandangi ibu dan saudari-saudarinya. Dia memberikan PELAJARAN AQIDAH yang sangat mahal sambil menangis, dia berkata:

"JIKA SATU PANDANGAN MAKHLUK BISA MENCUKUPI KITA, MAKA BAGAIMANA JIKA YANG MEMANDANG KITA ADALAH AL KHOLIQ?.

إذا كانت النظرة من المخلوق تكفينا فكيف بنظرة الخالق؟.

***

اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همنا

"Duhai Allah, jangan Kau jadikan dunia sebagai kegundahan terbesar kami."

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

 

Selasa, 24 November 2020

KH. Hasyim Asy’ari Mengambil Cincin Gurunya dari Lubang WC

Rate this posting:
{[['']]}

KH. HASYIM ASY'ARI MENGAMBIL CINCIN GURUNYA DARI LUBANG WC

Salah satu rahasia seorang murid bisa berhasil mendapatkan ilmu dari gurunya adalah taat dan hormat kepada gurunya. Guru adalah orang yang punya ilmu. Sedangkan murid adalah orang yang mendapatkan ilmu dari sang guru.

Seorang murid harus berbakti kepada gurunya. Dia tidak boleh membantah apalagi menentang perintah sang guru (kecuali jika gurunya mengajarkan ajaran yang tercela dan bertentangan dengan syariat Islam maka sang murid wajib tidak menurutinya). Kalau titah guru baik, murid tidak boleh membantahnya.

Inilah yang dilakukan Kiai Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul ‘Ulama). Beliau nyantri kepada KH. Kholil Bangkalan. Di pondok milik Kiai Kholil, Kiai Hasyim dididik akhlaknya.

Saban hari, Kiai Hasyim disuruh gurunya angon (merawat) sapi dan kambing. Kiai Hasyim disuruh membersihkan kandang dan mencari rumput. Ilmu yang diberikan Kiai Kholil kepada muridnya itu memang bukan ilmu teoretis, melainkan ilmu pragmatis. Langsung penerapan.

Sebagai murid, Kiai Hasyim tidak pernah ngersulo (mengeluh) disuruh gurunya angon sapi dan kambing.

Baca Juga :

Biografi & Karomah AlHabib Syechan bin Musthofa Al Bahar Wali yang Jadzab (Nyleneh)

Beliau terima titah gurunya itu sebagai khidmat (penghormatan) kepada guru.

Beliau sadar bahwa ilmu dari gurunya akan berhasil diperoleh apabila sang guru ridha kepada muridnya. Inilah yang dicari Kiai Hasyim, yakni keridhaan guru.

Beliau tidak hanya berharap ilmu teoretis dari Kiai Kholil tapi lebih dari itu, yang diinginkan adalah berkah dari KH. Kholil Bangkalan.

Kalau anak santri sekarang dimodel seperti ini, mungkin tidak tahan dan langsung keluar dari pondok. Anak santri sekarang kan lebih mengutamakan mencari ilmu teoretis.

Mencari ilmu fikih, ilmu hadits, ilmu nahwu shorof, dan sebagainya. Sementara ilmu “akhlak” terapannya malah kurang diperhatikan.

Suatu hari, seperti biasa Kiyai Hasyim setelah memasukkan sapi dan kambing ke kandangnya, Kiai Hasyim langsung mandi dan shaolat Ashar.

Sebelum sempat mandi, Kiai Hasyim melihat gurunya, Kiai Kholil termenung sendiri. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati sang guru. Maka diberanikanlah oleh Kiai Hasyim untuk bertanya kepada Kiai Kholil.

Baca Juga :

Shalawat Dari Rasulullah SAW Yang Di Berikan Kepada Habib Umar Melalui Mimpinya

“Ada apa gerangan wahai guru kok kelihatan sedih?” tanya Kyiai Hasyim kepada KH. Kholil Bangkalan.

”Bagaimana tidak sedih, wahai muridku. Cincin pemberian istriku jatuh di kamar mandi. Lalu masuk ke lubang pembuangan akhir (septictank),” jawab Kiai Kholil dengan nada sedih.

Mendengar jawaban sang guru, Kiai Hasyim segera meminta ijin untuk membantu mencarikan cincin yang jatuh itu dan diijini.

Langsung saja Kiai Hasyim masuk ke kamar mandi dan membongkar septictank (kakus). Bisa dibayangkan, namanya kakus dalamnya bagaimana dan isinya apa saja. Namun Kiai Hasyim karena hormat dan sayangnya kepada guru tidak pikir panjang.

Beliau langsung masuk ke septictank itu dan dikeluarkan isinya. Setelah dikuras seluruhnya, dan badan Kyai Hasyim penuh dengan kotoran, akhirnya cincin milik gurunya berhasil ditemukan.

Betapa riangnya sang guru melihat muridnya telah berhasil mencarikan cincinnya itu. Sampai terucap doa:

“Aku ridha padamu wahai Hasyim, Kudoakan dengan pengabdianmu dan ketulusanmu, derajatmu ditinggikan. Engkau akan menjadi orang besar, tokoh panutan, dan semua orang cinta padamu.”

Demikianlah doa yang keluar dari KH. Kholil Bangkalan. Karena yang berdoa seorang wali, ya mustajab. Tiada yang memungkiri bahwa di kemudian hari, Kiai Hasyim menjadi ulama besar.

Mengapa bisa begitu?

Disamping karena Kiai Hasyim adalah pribadi pilihan, beliau mendapat “berkah” dari gurunya karena gurunya ridha kepadanya.

Baca Juga :

Shalawat Penyembuh Penyakit Dari Sayyidina Al-Faqih Al-Muqqadam Muhammad Bin Ali Ra

Khasiat Sholawat Ibrahimiyah Supaya Punya Firasat Yang Tajam

Wallahu a'lam Bishowab 

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

 

Senin, 23 November 2020

Inilah Sebab Kenapa Didalam Islam Perempuan Sangat Berbahaya Bagi Lelaki

Rate this posting:
{[['']]}

INILAH SEBABNYA KENAPA DIDALAM ISLAM PEREMPUAN SANGAT BERBAHAYA BAGI LELAKI

Kalaulah orang perempuan itu tahu betapa mereka itu berbahaya buat orang lelaki, pasti mereka tak akan mahu untuk menonjolkan diri di khalayak ramai.

Sayyidina Umar Al-Khattab, moga Allah meridhoinya berkata, "Aku lebih rela berjalan dibelakang singa daripada berjalanan dibelakang wanita." .

Baca Juga :

Shalawat Dari Rasulullah SAW Yang Di Berikan Kepada Habib Umar Melalui Mimpinya

Dalam sebuah hadits, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

ما تَركْتُ بعدي فتنة أضرَّ عليكم من النساء

حديث متفق عليه، رواه البخاري و المسلم

Mafhummya: "Tidaklah aku tinggalkan selepasku fitnah yang lebih bahaya ke atas kalian daripada (fitnah) wanita."

[Hadits Muttafaqun 'alaih, Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim]

Sayyidah Fatimah Al-Batul menjawab ketika di soal oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah, "Yang terbaik bagi seorang perempuan itu bahawa dia tidak memandang lelaki dan tidak pula dipandang oleh lelaki." .

Dalam Hadits Hasan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

خير مساجد النساء قعر بيوتهنَّ

حديث حسن رواه احمد

Mafhumnya, "Sebaik baik masjid bagi orang perempuan adalah tempat yang tersembunyi didalam rumah mereka." Ini untuk tujuan sholat saja yang paling afdhal untuk perempuan adalah mereka sholat di rumah, maka bagaimana pula untuk kerja-kerja lain?.

Baca Juga :

- Makna Rukun Iman dan Rukun Islam di dalam Al-Qur'an

Sedangkan sholatlah yang paling utama dalam hidup sebagai seorang hamba Allah itu pun disarankan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم bahawa tempat yang terbaik adalah dirumah mereka.

Untuk orang lelaki, mintalah perlindungan daripada Allah, moga-moga Allah memelihara kita daripada terjatuh dalam fitnah wanita selain daripada fitnah ulama jahat dan fitnah Dajjal.

Faedah daripada Guru Mulia Habib Hussein Al-Haddar, "Sebahagian ulama berkata, jika terdapat di dalam rumah itu satu ruangan atau bilik yang dikhaskan untuk ibadah, maka orang perempuan boleh berniat iktikaf disitu dan insyaAllah, akan diganjarkan pahala seperti mana orang lelaki yang beriktikaf di masjid.

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

  

Minggu, 22 November 2020

Adab Dan Cara Makan Rasulullah SAW

Rate this posting:
{[['']]}

ADAB DAN CARA MAKAN RASULULLAH SAW

( Melumati Jari Setelah Makan )

Sifat tawadhu' pun juga mesti dilakukan ketika seseorang berhadapan dengan makanan,

Bukan hanya kepada manusia saja, Tapi berhadapan dengan makanan perlu untuk bersifat tawadhu', yakni menghargai kepada makanan tersebut,

Baginda Rasulullah bilamana selesai makan, maka akan membersihkan (melumati) sisa makanan yang ada pada 3 jari Nabi SAW, 

Baca Juga : 

Tujuh Do'a Penenang Hati Untuk Menghilangkan Stres, Sedih, Dan Gelisah

Jari : 

- Ibu jari,

- Jari telunjuk, dan

- Jari tengah

Nabi akan memulai membersihkan (melumati) sisa makanan pada jari itu bermula daripada :

- Jari tengahnya

- Kemudian jari telunjuk

- Kemudian ibu jari

Dibersihkan (di lumat), apa tujuannya ?

Karena :

1. Tidak ingin mempunyai sifat mubazir walaupun sebutir nasi,

2. Ingin menghargai rizki Allah SWT walaupun hanya satu butir nasi,

3. Mungkin saja pada sisa nasi itu yang ada pada tangan, disitu diletakkan keberkatan oleh Allah SWT,

Karena setiap makanan itu adalah rizki & Allah simpan berkat yang kita tidak tau dimana keberkatannya yang ada pada makanan,

- Mungkin, dalam piring yang diletakkan makanan tersebut

- Mungkin, yang ada dalam piring itu pindah ke tangan kita, yang kalau kita cuci barakah yang ada dalam tangan kita buang seperti itu, sementara yang kita cari ketika makan adalah keberkatan pada makanan.

4. Mungkin saja makanan itu adalah menjadi santapan kepada syaithon,

Syaithon kita beri makan sampai gemuk, dan dia akan mencari dari kita, istri kita, anak kita, sahabat kita, 

Kita beri makanan kepada syaithon dengan makanan yang kita bagi kepada mereka dengan kita tidak melakukan adab ketika makan, 

Baik itu karena tidak bismillah, ataupun karena dari sisa makanan itu, maka jangan sampai terbuang .

Wallaahu a'lam Bish-showab

Baca Juga : 

IJAZAH KEHAMILAN

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

  

Sabtu, 21 November 2020

Maulid Ad-Diba'i Karya Al Imam Abdurrahman Ad-Diba'i

Rate this posting:
{[['']]}

MAULID AD-DIBA'I KARYA AL IMAM ABDURRAHMAN AD-DIBA'I

Maulid ad-Diba’i 

Karya Al-Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Ali ad-Diba’i asy-Syaibani az-Zabidi ‎‎(866  - 944 H /1461 - 1537 M)‎

‎-----====-----‎

‎‎‏(‏‎اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ وبَارِك عَلَيْهِ ‏‎‏)‏

‎“Ya Allah, limpahkanlah rahmat, salam dan berkah kepada Nabi.”‎

أَحْضِرُوْا قُلُوْبَكُمْ يَا مَعْشَرَ ذَوِي الْأَلْبَابِ، حَتَّى أَجْلُوَلَكُمْ عَرَائِسَ مَعَانِي ‏أَجَلِّ الْأَحْبَابِ، اَلْمَخْصُوْصِ بِأَشْرَفِ الْأَلْقَابِ، اَلرَّاقِيْ إِلَى حَضْرَةِ ‏الْمَلَكِ ‏الْوَهَّابِ حَتَّى نَظَرَ إِلَى جَمَالِهِ بِلاَ سِتْرٍ وَلاَ حِجَابٍ. فَلَمَّا أَنَ أَوَانُ ظُهُوْرِ ‏شَمْسِ الرِّسَالَةِ فِيْ سَمَاءِ الْجَلاَلَةِ. خَرَجَ بِهِ مَرْسُوْمُ الْجَلِيْلِ، ‏لِنَقِيْبِ الْمَمْلَكَةِ ‏جِبْرِيْل. يَا جِبْرِيْلُ نَادِ فِيْ سَائِرِ الْمَخْلُوْقَاتِ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ وَالسّمَاوَاتِ ‏بِالتَّهَانِيْ وَالْبِشَارَاتِ. فَإِنَّ النُّوْرَ الْمَصُوْنَ، وَالسِّرَّ ‏الْمَكْنُوْنَ، اَلَّذِيْ أَوْجَدْتُهُ ‏قَبْلَ وُجُوْدِ اْلأَشْيَاءِ، وَإِبْدَاعِ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ، أَنْقُلُهُ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ إِلَى ‏بَطْنِ أُمِّهِ مَسْرُوْرًا. أَمْلاَءُ بِهِ الْكَوْنَ نُوْرًا. ‏وَأَكْفُلُهُ يَتِيْمًا. وَأُطَهِّرُهُ وَأَهْلَ بَيْتِهِ ‏تَطْهِيْرًا‎.‎

Mantapkan hati kalian, wahai golongan orang yang berakal. Sehingga aku jelaskan ‎kepada ‎kalian sifat-sifat baik sang kekasih agung,  yang telah ditetapkan dengan sebutan ‎julukan ‎termulia, yang pernah naik menghadap ke hadhirat Sang Maharaja, Yang Maha ‎Pemberi, ‎sehingga dapat melihat kemahaindahan-Nya tanpa tutup dan tanpa tirai. Tatkala ‎purnama ‎kerasulan hampir tiba di langit keagungan, keluarlah perintah Allah, Yang ‎Mahaagung, ‎kepada sang juru warta kerajaan langit, yakni Malaikat Jibril. “Wahai Jibril, ‎serukan kepada ‎seluruh makhluk penghuni bumi dan langit agar menyambutnya dengan ‎riang gembira. ‎Karena sesungguhnya cahaya yang terpelihara dan rahasia yang tersimpan, ‎yang Aku ‎ciptakan sebelum adanya segala sesuatu dan sebelum terciptanya bumi dan ‎langit malam ini ‎Aku pindahkan ke dalam perut ibunya dengan penuh kegembiraan, yang ‎dengannya ‎Kupenuhi alam ini dengan cahaya. Kupelihara ketika dalam keadaan yatim ‎piatu, dan Aku ‎menyucikannya beserta keluarganya dengan sesuci-sucinya.‎

‎‎‏(‏‎اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ وبَارِك عَلَيْهِ ‏‎‏)‏

‎“Ya Allah, limpahkanlah rahmat, salam dan berkah kepada Nabi.”‎

فَاهْتَزَّ الْعَرْشُ طَرَبًا وَاسْتِبْشَارًا. وَازْدَادَ الْكُرْسِيُّ هَيْبَةً وَوَقَارًا. وَامْتَلَأَتِ ‏السَّمَاوَاتُ أَنْوَارًا، وَضَجَّتِ الْمَلاَئِكَةُ تَهْلِيْلًا وَتَمْجِيْدًا وَاسْتِغْفَارًا. وَلَمْ تَزَلْ ‏أُمُّهُ تَرَى أَنْوَاعًا مِنْ فَخْرِهِ وَفَضْلِهِ، إِلَى نِهَايَةِ تَمَامِ حَمْلِهِ. فَلَمَّا ‏اشْتَدَّ بِهَا ‏الطَّلْقُ بِإِذْنِ رَبِّ الْخَلْقِ. وَضَعَتِ الْحَبِيْبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا ‏شَاكِرًا حَامِدًا كَأَنَّهُ الْبَدْرُ فِيْ تَمَامِهِ‎.‎

Maka ‘arsy pun berguncang penuh suka cita dan riang gembira. (Sementara) kursi ‎Allah ‎bertambah wibawa dan tenang. Langit dipenuhi berjuta cahaya, dan bergemuruhlah ‎suara ‎malaikat membaca tahlil, tamjid (pengagungan), dan istighfar. Dan sang ibunda ‎tiada ‎henti melihat bermacam tanda kemegahan dan keistimewaan sang janin, hingga ‎sempurnalah ‎masa kandungannya. Maka ketika sang bunda telah merasa kesakitan, ‎dengan izin Tuhan, ‎Sang Pencipta makhluk, lahirlah kekasih Allah, Muhammad ‎Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dalam keadaan sujud, ‎bersyukur dan memuji, dengan ‎wajah yang sempurna, laksana purnama.‎

Kediri, 12 Rabi’ul Awwal 1442 H/29 Oktober 2020‎

Dafid Fuadi

‎(Ketua Aswaja NU Center PCNU Kab. Kediri)‎

‎(Tim Peneliti & Nara Sumber Aswaja NU Center PWNU Kab. Kediri)‎

Baca Juga :

Filosofi Semar, Gareng, Petruk, Bagong (Punakawan) Dalam Islam

Biografi Habib Muhammad Al Bagir bin Alwi Bin Yahya

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

  

Jumat, 20 November 2020

7 Cara Mengatasi Ngantuk Seusai Shalat Subuh

Rate this posting:
{[['']]}

7 CARA MENGATASI NGANTUK SEUSAI SHALAT SUBUH

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Menahan kantuk sehabis shalat subuh merupakan hal yang sulit bagi orang yang tidak memiliki rutinitas pekerjaan di pagi hari.

Banyak sebagian orang sehabis melaksanakan shalat subuh ia pergi bekerja, pergi ke pasar, beres-beres rumah dll. namun banyak juga yang setelah habis shalat subuh ia tidur kembali, dikarenakan tidak ada aktivitas rutin yang biasa ia kerjakan.

Baca Juga :

Biografi & Karomah AlHabib Syechan bin Musthofa Al Bahar Wali yang Jadzab (Nyleneh)

Padahal, tidur setelah subuh merupakan hal yang tidak dianjurkan didalam islam, salah satunya dapat " menghilangkan rezeki "kita. Namun disini ada beberapa amalan yang dapat kita lakukan untuk mencegah kita dari tidur seusai subuh, berikut 7 Cara mengatasi ngantuk seusai shalat subuh :

1. BERWUDHU'

Ulama menjelaskan "Ngantuk dan bermalas-malasan" sarana tipuan setan, jika sering mengantuk diwaktu pagi lazimkanlah menahan wudhu'. Seperti diyakini dalam ilmu kedokteran, membasahi wajah dapat menyegarkan sel-sel kulit, maka didalam wudhu' tidak hanya keuntungan kesehatan tapi mendapatkan fadhilah/keutamaan.

2. LAKUKAN SHOLAT SUNNAH

Tidak dipungkiri, gerakan sholat adalah sangat besar manfaatnya dari segi kesehatan manapun.

3. MEMBACA AL-QUR'AN

Rutinkan setiap hari khususnya setelah sholat shubuh membaca walaupun satu maqra' surah. Jadikan ini amalan rutin untuk di istiqamahkan.

4. BACA DZIKIR ATAU SHALAWAT

Membaca dzikir dengan jahr jelas (didengar telinga:red).

5. RIYADHAH

Olah raga, orang sholeh terdahulu diantara olahraganya adalah mengucapkan kalimat tahlil "Laa ilaha Illallah" sambil menggerakkan tubuhnya.

6. MEMANDANG WARNA HIJAU

Memandang warna hijau, baik itu bunga/taman, berkhasiat menguatkan pandangan, selain menyegarkan mata.

7. WIRIDAN

Ulama sholeh terdahulu adalah orang-orang yang cerdas lagi bijak, mereka bersikeras untuk menjaga matanya dari ngantuk, mereka menjadikan bacaan wirid/hizib sebagai amalan rutinitas. Diantara mereka ada yang merangkum doa-doa ma'tsurat, doa dari Nabi dan doa yang bersumber dari Al-Qur'an untuk diamalkan, seperti wirdul lathif, doa fajar, dsb.

Baca Juga :

Shalawat Dari Rasulullah SAW Yang Di Berikan Kepada Habib Umar Melalui Mimpinya

Sumber : dinukil dari beberapa kitab amal

Semoga ini semua bermanfaat.

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim