Sejarah terbentuk kaum Syiah


Assalamu 'alaikum warahmatulahi wabarakatuhu

Sahabat Rumah-Muslimin yang semoga selalu dalam Lindungan Allah dan RahmatNya Allah SWT, kali ini kami akan membahas dengan tema, Sejarah terbentuk kaum Syiah, selamat membaca, dan semoga ada manfaat didalamnya.

Asal Mula Terbentuk Kaum Syiah

Pada saat Nabi Muhammad SAW wafat, umat Islam mengalami pergolakan tentang siapakah pengganti nabi yang akan menjadi khalifah. Semasa hidupnya, Nabi Muhammad tidak memberikan wasiat siapakah kelak yang akan menjadi penerusnya. Musyawarah yang diadakan kaum Mujahirin dan Anshar, terpilihlah Abu Bakar menjadi Khalifah yang pertama. Namun ada golongan yang tidak setuju dengankeputusan tersebut. Mereka menginginkan Ali bin Abi Thalib menjadi penerus kekhalifahan, karna posisi beliau sebagai ahli bait. Muncullah golongan Syiah untuk membela dan menjadi pengikut Ali. Sebagai sepupu dan menantu Rasulullah, golongan Syiah berpendapat bahwa Ali lah yang berhak menjadi khalifah.

Setelah khalifah yang ketiga Usman Wafat, umat Islam beramai membaiat Ali menjadi Khalifah. Setelah enam tahun menjabat, Ali banyak dihadapkan dengan peperangan dan pemberontakan. Karena Ali banyak memecat pejabat masa pemerintahan Usman. Selain itu harta orang kaya yang pernah diberikan pada masa Usman ditarik kembali. Karena kebijaksaan-kebijaksanaan Ali pada masa itu, mengakibatkan perlawanan Gubernur dari Damaskus yang merupakan khalifah Muawiyah. setelah perang Shiffin melawan kaum ini, pihak yang berperang mengadakan tahkim atau Arbitrase. Karena tahkim tersebut tidak menyelesaikan masalah, umat islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu Muawiyah, Syiah (pengikut) Ali, dan Al-Khawarij (golongan yang kelaur dari barisan Ali).

Setelah Ali terbunuh oleh kaum Al-Khawarij, dan pemerintahan Yazid naik tahta. Yazid merupakan anak dari khalifah Muawiyah yang menjalankan pemerintahan bersifat Monarki (kerajaan). Kekhalifahan diperoleh dengan cara kekerasan, diplomasi dan tidak dengan pemilihan suara terbanyak. Satu pendapat mengatakan bahwa Yazid anak Muawiyah dari istri yang tidak sah (selir) sehingga kaum Syiah menentang Yazid mengangkat dirinya menjadi khalifah.

Saat Yazid naik tahta penduduk Madinah dipaksa untuk mengambil sumpah untuk setia padanya. Namun hanya dua orang yang tidak mau bersumpah, yaitu Husein bin Ali dan Abdullah bin Zubair. Kemudian pengikut Ali yang merupakan Syiah mengadakan konsolidasi kekuatan untuk melawan Muawiyah. Kemudian pada tahun 680 M, Husein pindah dari Mekkah ke Kufah (Irak) atas permintaan golongan Syiah. Umat islam di sini tidak mengakui Yazid, lalu mengangkat Husein menjadi Khalifah. Dalam pertempuran di Kuffah, Husein terbunuh dan dipenggal. Kepalanya dikirim ke Damaskus, sedangkan tubuhnya dikubur di karbala.
Setelah kematian Husein banyak pemberontakan terjadi diantaranya, pemberontakan Mukhtar pada 687-687 M. Mukhtar mendapat banyak pengikut diantaranya kaum Mawali, Umat Islam bukan Arab yaitu dari Persia, Armenia dan lain-lain. Kaum ini dianggap sebagai warga negara kelas dua. Mukhtar terbunuh saat melawan gerakan oposisi lainnya, gerakan Abdullah ibn Zubair. Namun Ibn Zubair tidak dapat menghentikan gerakan Syiah ini.
setelah Husein ibn Ali tebunuh, Zubair mengakui menjadi dirinya menjadi khalifah. Tak lama setelahnya pasukan Bani Umayyah mengepung Mekkah dan Yazid terbunuh saat itu. Kemudian tentara Umayyah menyerbu Ka’bah, keluarga ibn Zubair dan sahabatnya melarikan diri dan mati terbunuh pada tahun 692 M.

Selain gerakan diatas, gerakan-gerakan anarkis yang lakukan oleh kelompok Khawarij dan Syiah juga dapat diredakan. Hubungan pemerintah dengan golongan oposisi membaik pada masa khalifah Umar ibn Abd Al-Aziz tahun 720 M. Saat itu kaum Mawali disejajarkan dengan muslim Arab dan memberikan kebebasan kepada penganut keyakinan dan kepercaan kepada penganut agama lain.
Asal Muasal Perpisahan Syiah dari Sunni

Kawan-kawan dan pengikut Ali percaya bahwa setelah Nabi wafat, kekhalifahan dan kekuasaan agama berada di tangan Ali, salah satu sahabat Nabi.

Namun, Ali dan kawan-kawan akhirnya harus kecewa karena setelah Nabi wafat, setelah selesai penguburan jenazah Nabi, pelaksanaan pemilihan khalifah dilakukan secara musyawarah. Ali dan kawan-kawan melakukan protes, tapi berlawanan dengan harapan mereka, protes itu tak diindahkan dan mereka malah diminta menurut karena keselamatan muslimin bisa terancam.

Protes dan kecaman inilah yang memisahkan kaum minoritas pengikut Ali (minoritas Syiah) dari kaum mayoritas Sunni, dan menjadikan pengikut-pengikutnya dikenal masyarakat sebagai kaum partisan atau Syiah Ali.

Syiah secara harfiah berarti partisan atau pengikut adalah kaum muslimin yang menganggap penggantian Nabi Muhammad SAW merupakan hak istimewa keluarga Nabi dan mereka yang dalam bidang pengetahuan dan kebudayaan Islam mengikuti mazhab Ahlul Bait.

Cerita ini terungkap dalam buku Islam Syiah, Asal Usul dan Perkembangannya yang ditulis oleh Allamah M.H. Thabathaba’i, terjemahan dari aslinya Syiah Dar Islam (Syiah dalam Islam). Buku tentang Islam sebagaimana dilihat dan ditafsirkan oleh Syiah dari penulis yang sama.

Allamah M.H. Thabathaba’i mewakili golongan utama dan intelektual dari ulama Syiah yang berpengaruh besar dan orang yang dianggap mewakili penafsiran Syiah yang lebih universal. Ia juga dikenal memiliki pengaruh yang mendalam di kalangan tradisional dan modern di Iran.

Mengenal 4 Kelompok dalam Syiah 

Syiah telah terbagi dalam kelompok yang jumlahnya hampir tak terhitung. Namun menurut Al-Baghdadi, pengarang kitab Al-Farqu baina Al-Firaq, secara umum mereka terbagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok tadi, terdiri dari beberapa kelompok kecil.

Mengutip buku Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? yang ditulis M. Quraish Shihab, cetakan kedua, April 2007, empat kelompok Syiah ini terdiri dari yang paling ekstrem sampai Syiah "abu-abu". Berikut ulasannya:

1. Syiah Ghulat
Seorang ulama Ahlussunnah, Muhammad Abu Zahrah, mengatakan kelompok Syiah ektremis ini hampir dapat dikatakan telah punah.

Di dalam Syiah Ghulat terdapat beberapa golongan, yakni As-Sabaiyah, Al-Khaththabiyah, Al-Ghurabiyah, Al-Qaramithah, Al-Manshuriyah, An-Nushaiziyah, Al-Kayyaliyah, Al-Kaisaniyah, dan lainnya.

Menurut Asy-Syahrastany, As-Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba'' yang konon pernah berkata kepada Sayyidina Ali: “Anta Anta,” yang berarti "Engkau adalah Tuhan". Ia juga menyatakan sahabat Nabi ini memiliki tetesan ketuhanan.

Sementara Al-Khaththabiyah adalah penganut aliran Abu Al-Khaththab Al-Asady yang menyatakan Imam Ja''far Ash-Shadiq dan leluhurnya adalah Tuhan. Sementara Imam Ja''far mengingkari dan mengutuk kelompok ini. Lantaran sikap tersebut, pemimpin kelompok ini, Abu Al-Khaththab, mengangkat dirinya sebagai imam.

Golongan Al-Ghurabiyah percaya malaikat Jibril diutus Allah untuk Ali bin Ali Thalib ra. Namun, mereka menilai malaikat Jibril keliru dan berkhianat sehingga menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad.

Sementara Syiah Qaramithah dikenal sangat ekstrem karena menyatakan Syyidina Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan. Kelompok ini pernah berkuasa di Bahrain dan Yaman, serta menguasai Mekah pada 930 Masehi.

2. Syiah Ismailiyah
Kelompok ini tersebar di banyak negara, seperti Afganistan, India, Pakistan, Suriah, Yaman, serta beberapa negara barat, yakni Inggris dan Amerika Utara.

Kelompok ini meyakini Ismail, putra Imam Ja''far Ash-Shadiq, adalah imam yang menggantikan ayahnya, yang merupakan imam keenam dari aliran Syiah secara umum. Ismail dikabarkan wafat lima tahun sebelum ayahnya (Imam Ja''far) meninggal dunia.

Namun menurut kelompok ini, Ismail belum wafat. Syiah Ismailiyah meyakini kelak Ismail akan tampil kembali di bumi sebagai Imam Mahdi.

3. Syiah Az-Zaidiyah
Ini adalah kelompok Syiah pengikut Zaid bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib r.a. Zaid lahir pada 80 H dan terbunuh pada 122 H. Zaid dikenal sebagai tokoh yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan semena-mena yang diterapkan Yazid, putra Muawiyah pada zaman Bani Umayyah.

Kendati golongan ini yakin kedudukan Ali bin Abi Thalib ra lebih mulia ketimbang Abu Bakar, Umar, dan Utsman, mereka tetap mengakui ketiganya sebagai khalifah yang sah. Lantaran masih menganggap tiga sahabat nabi yang lain, Syiah Az-Zaidiyah dinamakan Ar-Rafidhah, yakni penolak untuk menyalahkan dan mencaci.

Dalam menetapkan hukum, kelompok ini menggunakan Al-Quran, sunah, dan nalar. Mereka tidak membatasi penerimaan hadis dari keluarga Nabi semata, tetapi mengandalkan juga riwayat dari sahabat-sahabat Nabi lainnya.

4. Syiah Istna Asyariah
Kelompok ini dikenal juga dengan nama Imamiyah atau Ja''fariyah yang percaya 12 imam dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW.

Syiah Istna Asyariah merupakan mayoritas penduduk Iran, Irak, dan ditemukan juga di beberapa daerah di Suriah, Kuwait, Bahrain, India, Saudi Arabia, dan beberapa daerah bekas Uni Sovyet. Ini adalah kelompok Syiah mayoritas.

Sumber : ceritaajib

Wallahu a'lam bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Redaksi

Rumah Muslimin Grup adalah Media Dakwah Ahlusunnah Wal jama'ah yang berdiri pada pertengahan tahun 2017 Bermazhab Syafi'i dan berakidah Asyariyyah. Bagi sobat rumah-muslimin yang suka menulis, yuk kirimkan tulisannya ke email kami di dakwahislamiyah93@gmail.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close