Keutamaan dan Amalan dibulan Rajab


KEUTAMAAN DAN AMALAN DIBULAN RAJAB

Habibana Munzir bin Fuad Almusawa Alaihi Rahmatullah :

Rajab untuk kita. Malam-malam doa, malam-malam istighfar, malam-malam munajat, malam-malam bertobat, hari-hari yang penuh dengan bunga-bunga kemuliaan ibadah untuk mencapai cabang hingga menuai buah keberkahan di bulan Ramadhan, mereka yang banyak beribadah di bulan Rajab dan bulan Sya’ban maka ia akan mendapatkan limpahan keberkahan di bulan Ramadhan, adapun mereka yang sibuk di bulan Rajab dan Sya’ban lupa dan jauh dari Allah, maka di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan mereka akan dibuat sibuk oleh Allah subhanahu wata’ala dengan urusan-urusan dunia.

Misalnya sibuk dengan urusan ketupat, rumah yang belum dicat, anak belum beli baju baru dan lainnya, padahal sepuluh malam terkahir adalah malam-malam Lailatul Qadr namun mereka disibukkan hanya dengan urusan ketupat dan lainnya untuk hari lebaran

Kembali pada kemuliaan Rajab, bulan Rajab ini patut di muliakan. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh guru-guru kita untuk memperbanyak istighfar, dan kita bergembira dengan banyaknya yang beristighfar di masjid-masjid dan mushalla di bulan Rajab ini, namun sangat disayangkan sebagian kelompok yang demikian tegasnya menentang istighfar di bulan Rajab, menentang puasa di bulan Rajab, yang ujung-ujungnya mereka akan menentang ibadah لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم.

Kelompok-kelompok seperti ini hatinya keras bagaikan batu, mereka tidak mengenal shalawat dan cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak mengenal kelembutan Rasulullah, tidak mengenal kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mereka tau hanyalah pedang, pedang dan pedang ( kekerasan dan pertikaian).

Yang akhirnya kelompok yang seperti ini ngambek karena melihat kelompok Ahlu sunnah waljama’ah semakin maju dan jaya, maka mereka pun ingin maju juga yang akhirnya memilih cara dengan bom bunuh diri atau menjadi teroris, orang yang seperti itu adalah orang yang frustasi karena ingin maju namun tidak pula maju.

Mudah-mudahan di Jakarta tidak ada yang demikian, dan wilayah selain Jakarta juga dijauhkan oleh Allah dari kelompok-kelompok yang seperti itu, dan semoga mereka diberi hidayah oleh Allah,amin.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Kembali pada hadits yang kita baca tadi, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَاللهِ إِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرُ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً

“Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali”.

Inilah dalil untuk kelompok yang menentang istighfar 70 kali setiap selepas shalat Subuh dan ‘Isya di bulan Rajab. Ini sebagai dalil yang jelas, hadits riwayat Shahih Bukhari, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beristighfar lebih dari 70 kali setiap harinya, maka kita beristighfar sebanyak 70 kali selepas shalat Subuh dan 70 kali selepas shalat isya’, karena Rasulullah beristighfar lebih dari 70 kali, maka angka 70 kita dapatkan dan lebih dari 70 kali pun kita dapatkan, sungguh indah ajaran para salafussalihin untuk mengikuti sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, adapun kalimat istighfar dan taubat yaitu dengan mengucapkan:

رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ

'Rabbighfirli warhamni watub alayya'

“ Ya Allah ampunilah (dosa-dosa) ku, dan sayangilah aku, serta terimalah taubatku”

Bacalah kalimat itu sebanyak 70 kali di bulan Rajab , mengapa di bulan Rajab saja?, karena di bulan yang lainnya ada amalan-amalan yang lain yang akan kita amalkan, begitu banyak sunnah-sunnah yang belum kita amalkan,dan di bulan Sya’ban kita memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di bulan Ramadhan kita memperbanyak membaca Al qur’an.

Maka hal-hal yang kita lakukan selalu berada dalam jalur sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh karena itu disebut dengan nama Ahlu Sunnah Waljama’ah ,,,,dan 4 Imam yang telah disepakati sebagai Imam Ahlu Sunnah waljama’ah. Dan 4 imam madzhab yang telah disepakati sebagai imam-imam ahlu sunnah waljama’ah karena sanad keguruan mereka satu rantai.

Dimana Al Imam Ahmad bin Hanbal berguru kepada Al Imam As Syafi’i, dan Al Imam As Syafi’i berguru kepada Al Imam Malik, dan Al Imam Malik hidup satu zaman dengan Al Imam Abu Hanifah yang keduanya sering bertanya jawab satu sama lain.

Begitu pula sanad kita ini berasal dari guru-guru kita hingga bersambung kepada imam-imam 4 madzhab. Oleh karena itulah kita senantiasa menjaga hubungan kita dengan Allah subhanahu wata’ala dengan memperbanyak istighfar terlebih di bulan Rajab ini.

Wallahu a'lam Bishowab

Allahumma Sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa Shobihi wasalim

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama