Thursday, November 30, 2017

Cerita Kiyai Madad Salim mengenai Kehalusan perasaan Guru Mulia AlHabib Umar bin Hafidz

Rate this posting:
{[['']]}


Cerita Kiyai Madad Salim mengenai Kehalusan perasaan Guru Mulia AlHabib Umar bin Hafidz

Para Sayyidku hatinya perasa, halus layaknya Sayyidina Utsman.

( Edisi merindu)

Sebelum saya menceritakan betapa perasanya hati Habibana Salim As Syathiriy, saya ingin berbagi kisah dahulu tentang halusnya hati Habibana Omar Ben Khafidz.

Kyai Muhammad Alawi, kakak tertua saya ikut berziarah ke Tarim bersamba rombongan Ulama Muwasholah termasuk diantaranya Gus Sholahuddin Wahid .

Meraka berziarah keDaarul Mushthofa nya Al Habib Umar bin Hafidh . Direncanakan lama daurah / ziarahnya itu 5 hari.

Namun baru 3 hari berlangsung , Gus Sholah mengajak Kakak saya untuk pergi umrah dua hari lebih cepat dari skedul semestinya . Maka sesudah meminta ijin kepada pengurus Daarul Mushthofa , Kakak saya dan Gus Sholah di hari ketiga itupun langsung menuju Bandara Sewun untuk selanjutnya ke Jeddah dan Umroh. Tampaknya kedua orang ini belum sempat berpamitan kepada yang empunya Daarul Mushthofa , yakni Al Habib Umar .

Begitu keduanya chek in di Bandara , telepon Gus Sholah berdering dari seberang sana , Sayyid Sholih Aljufri menelepon :

" Gus , antum sama Kyai Alawi jangan masuk pesawat dahulu. Ini Habib Umar sedang menyusul antum berdua ke Bandara ."

Jarak antara Kota Aydit tempat Daarul Mushthofa dengan Kota Sewun kurang lebih 30 km . Kurang lebih satu jam kemudian terlihat mobil Habib Umar memasuki halaman parkir Bandara . Tampak Habib Umar bergegas keluar dari mobil. Melihatnya dari kejahuan kedatangan beliau, Gus Sholah dan Kakak saya pun segera keluar dari loby Bandara dan berlari kecil menghampiri Habib Umar .

" Ya Alawiy . Antum kenapa sudah ingin pergi ?
Apakah ada kesalahan yang aku perbuat sehingga kalian pergi lebih cepat ?
Jikalaupun itu kesalahan dari diriku , sungguh aku meminta kemurah hati kalian untuk memaafkanku. "

Begitu tutur kata halus Habib Umar sambil memegang tangan Kakak saya.
Kakak saya kehabisan kaa-kata untuk menjawab kalimat yang penuh rasa yang keluar dari sosok agung didepannya. Dengan terbata - bata kakak saya menjawab :

" Ya Maulaya Sesungguhnya kami sudah berpamitan kepada para Habaib di Majlas tadi. Jadi Maafkan kami jika kami belum sempat berpamitan khusus dengan antum ya Habib .  Kami pulang lebih cepat bukan lantaran kesalahan siapapun apalagi kesalahan Habib .  Tetapi Kyai Sholah ini mendapat kabar dari Indonesia bahwa beliau harus pulang beberapa hari lebih cepat dari yang direncanakan . Ada acara yang cukup penting . Sehingga Kyai Sholah memutuskan untuk mempercepat umroh agar dapat pulang lebih cepat ke indonesia nantinya. "

Begitulah potret akhlaq-akhlaq halus para Habaibana . Mereka membuktikan, bahwa mereka tidak ingin menjadi sebab ketidaknyamanan orang-orang didekat mereka.

Saking halusnya perasaan mereka, sampai bela-belain mengejar para tamu mereka yang telah pergi jauh, takut ada salah dari dalam diri mereka yang belum termaafkan .
  
Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholi 'ala sayidina Muhammad wa 'alihi wa shohbihi wa salim
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment