Wednesday, December 20, 2017

SHALAT

Rate this posting:
{[['']]}
Ayahanda Alhabib Abdulgadir ibn Ahmad Assegaf‬

SHOLAT 

Alhabib Ahmad ibn Abdurrahman Assegaf :
كلام الحبيب احمد بن عبدالرحمن السقاف رضي الله عنه وأرضاه 

Al-Habib Ahmad ibn Abdurrahman Assegaf adalah salah satu ulama dengan kapasitas ilmu pengetahuan zhahir dan bathin yang diakui oleh ulama-ulama sezamanya. Al-Arif Billah Alhabib Abdullah ibn Idrus al-Aydrus menyebut beliau sebagai kholifah di masanya. Pada satu kesempatan di masjid Thoha, Hadramaut, pada tanggal 20 Syawal 1353 Hijriyah, beliau memberikan ceramah ilmiah bertemakan shalat. Beliau berkata, shalat merupakan sarana paling utama bagi manusia untuk dapat selalu berinteraksi dengan Penciptanya. Dahulu Nabi Zakariya 'alayhis-salâm menjadikan shalat sebagai fasilitas ketika beliau meminta kepada Allah untuk diberikan keturunan. Doa beliau dikabulkan dan mendapatkan seorang putra yaitu Nabi Yahya yang merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya. Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hal yang paling membuatku senang adalah shalat." Dengan shalat beliau merasakan suatu kenikmatan yang tiada banding, berdialog dengan Allahu shubhânahu wa ta'âlâ.


Di dalam kitab "Nashoih Dinniyah", Alhabib Abdullah ibn Alwi al-Haddad mengibaratkan shalat sebagaimana kepala pada manusia. Manusia mustahil dapat hidup tanpa kepala. Demikian halnya semua perbuatan baik manusia akan sia-sia jika tanpa disertai shalat. Shalat merupakan parameter diterima atau tidaknya amal perbuatan manusia. Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda, "Pertama yang diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya diterima, maka seluruh amal sholehnya diterima, namun jika shalatnya ditolak, maka seluruh amal solehnya ditolak pula." Alhabib Ahmad kemudian bercerita, "Al-Walid Sayyid Alwi bin Abdurrahman Assegaf berkata, 'Sesungguhnya pamanku Abdurrahman bin Ali berkata, jika kamu mempunyai hajat baik urusan dunia ataupun akhirat, maka memintalah pertolongan kepada Allahu shubhânahu wa ta'âlâ dengan melaksanakan shalat. Bacalah akhir surat Thoha seusai shalat, InsyaAllah dengan segala kebesaran-Nya akan dikabulkan hajat dan keinginanmu.


كلام الحبيب احمد بن عبدالرحمن السقاف رضي الله عنه وأرضاه

Namun shalat kita pada masa sekarang ini tidaklah seperti shalat para salaf terdahulu yang penuh khusyu’ dan khidmat. Shalat kita merupakan shalat yang selalu dipenuhi kelalaian dan kealpaan, sehingga sangatlah kecil prosentase diterimanya. Orang-orang sufi terdahulu yang tidak diragukan lagi kedalaman ilmu pengetahuannya, menambahkan tiga rukun pada rukun-rukun shalat yang dikemukakan para ulama fiqih yaitu, khusuk atau tadabbur (hadirnya hati), khudu’ (merendahkan diri kepada Allah) dan ikhlas. Firman Allahu shubhânahu wa ta'âlâ: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ ۝ 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (QS. an-Nisa' [4]: 43)

Penafsiran mereka dalam ayat ini adalah, “Janganlah kalian mendekati (mengerjakan) shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk oleh kesenangan dunia hingga pikiran kalian kosong dari dari segala urusan dunia.” Sekarang kita saksikan orang-orang melaksanakan shalat namun hati mereka masih selalu tertuju pada urusan dunia, baik urusan jual beli maupun pekerjaan mereka. Akibatnya mereka lupa berapa rakaat yang telah mereka kerjakan, tidak mengetahui surat apa yang telah dibacakan imam. Mereka sama sekali tidak menghayati bacaan Alfatihah dan ayat-ayat yang lain dalam shalat, mereka tidak menyadari bahwa mereka berdiri di depan Maha Penguasa dan sedang berdialog dengan Maha Pencipta. Urusan-urusan duniawi benar-benar telah menguasai hati manusia. Orang yang memikirkan urusan dunia dalam shalat sama halnya dengan orang yang melumuri al-Qur’an yang suci dengan khamer. Shalat yang seharusnya menjadi wadah yang suci telah mereka penuhi dengan kotoran-kotoran yang menjijikkan. Tanpa ada niat ikhlas yang merupakan ruh dari shalat, orang yang demikian diibaratkan oleh Imam Ghazali rahimahullâhu ta'âlâ seperti seseorang yang menghadiahkan seonggok bangkai dengan kemasan rapi kepada seorang raja. Tentunya perbuatan tersebut bukannya menyenangkan hati raja melainkan membuat dia marah dan murka karena dianggap telah melecehkan kehormatan dan kebesarannya. Wal-iyadzubillâh ...

Sumber :Mohsen Basheban

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
  
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment