Saturday, March 31, 2018

Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al Jaelani

Rate this posting:
{[['']]}

KEJUJURAN SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANI

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Ketika ditanya mengenai apa yang menghantarkannya 
kepada maqam ruhani yang tinggi, 
beliau menjawab: “Kejujuran yang pernah kujanjikan kepada ibuku.” 
Kemudian Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menuturkan kisah berikut:

“Pada suatu pagi di hari raya Idul Adha, aku pergi ke ladang untuk membantu bertani. 
Ketika berjalan di belakang keledai, tiba-tiba hewan itu menoleh dan memandangku, 
lalu berkata: “Kau tercipta bukan untuk hal semacam ini.” 
Mendengar hewan itu berkata-kata, aku sangat ketakutan. 
Aku segera berlari pulang dan naik ke atap rumah. 
Ketika memandang ke depan, 
kulihat dengan jelas para jamaah haji sedang wukuf di Arafah.

Kudatangi ibuku dan memohon kepadanya: 
“Izinkanlah aku menempuh jalan kebenaran, biarkan aku pergi mencari ilmu 
bersama para orang bijak dan orang-orang yang dekat dengan Allah ﷻ.”

Ketika ibuku menanyakan alasan keinginanku yang tiba-tiba, kuceritakan apa yang terjadi. 
Mendengar penuturanku, ia menangis dengan sedih. 
Namun, ia keluarkan delapan puluh keping emas, harta satu-satunya warisan ayahku. 
Ia sisihkan empat puluh keping untuk saudaraku. 
Empat puluh keping lainnya dijahitkannya di bagian lengan mantelku. 
Ia memberiku izin untuk pergi seraya berwasiat agar aku selalu 
bersikap jujur apapun yang terjadi.

Sebelum berpisah ibuku berkata: 
“Anakku, semoga Allah ﷻ menjaga dan membimbingmu. 
Aku ikhlas melepas buah hatiku karena Allah ﷻ. 
Aku sadar aku takkan bertemu lagi denganmu hingga hari kiamat.”

Aku ikut kafilah kecil menuju Baghdad. Baru saja meninggalkan kota Hamadan, 
sekelompok perampok, yang terdiri atas enam puluh orang berkuda, menghadang kami. 
Mereka merampas semua anggota kafilah. 
Salah seorang perampok mendekatiku dan bertanya: “Anak muda apa yang kau miliki?” 
Kukatakan bahwa aku punya empat puluh keping emas.

Ia bertanya lagi: “Di mana?”

Kukatakan di bawah ketiakku.

Ia tertawa-tawa dan pergi meninggalkanku. 
Perampok lainnya menghampiriku dan menanyakan hal yang sama. 
Aku menjawab sejujurnya. 
Tetapi seperti kawannya, ia pun pergi sambil tertawa-tawa mengejek.

Kedua perampok itu mungkin melaporkanku kepada pimpinannya, 
karena tak lama kemudian pimpinan gerombolan itu memanggilku agar 
mendekati mereka yang sedang membagi-bagi hasil rampokan. 
Si pimpinan bertanya apakah aku memiliki harta. 
Kujawab bahwa aku punya empat puluh keping emas yang 
dijahitkan di bagian lengan mantelku.

Akhirnya ia menyobeknya dan ia temukan keping-keping emas itu. 
Keheranan, ia bertanya:
“Mengapa engkau memberi tahu kami, padahal hartamu itu aman tersembunyi?”

Jawabku: 
“Aku harus berkata jujur karena telah berjanji kepada ibuku untuk selalu bersikap jujur.”

Mendengar jawabanku, pimpinan perampok itu tersungkur menangis. 
Ia berkata: “Aku ingat janjiku kepada Dia yang telah menciptakanku. 
Selama ini aku telah merampas harta orang dan membunuh. 
Betapa besar bencana yang akan menimpaku!?”

Anak buahnya yang menyaksikan kejadian itu berkata: 
“Kau memimpin kami dalam dosa. Kini, pimpinlah kami dalam taubat!”

Keenam puluh orang itu memegang tanganku dan bertaubat. 
Mereka adalah sekelompok pertama yang memegang tanganku dan 
mendapat ampunan atas dosa-dosa mereka.

Sumber : Kitab Mawa’idz Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani  Karya Syaikh Shalih Ahmad Asy-Syami
  
Wallahu a'lam Bishowab

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد

Allahumma Sholli 'Ala Sayyidina Muhammad, Wa 'ala Aali Sayyidina Muhammad.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment