Pengertian Itjihad, Ittiba dan Taqlid Dalam Islam


Istilah-Istilah Yang Berkaitan Dengan Masalah-Masalah Fiqh

1. Ijtihad

Dari segi bahasa Ijtihad berarti sungguh-sungguh sedang menurut istilah ijtihad adalah menggunakan seluruh kesanggupam untuk menetapkan hukum-hukum syari’at, orangnya disebut mujtahid. syarat-syarat Ijtihad

• Mengetahui nas dari Al-Qur’an dan As-Sunnah kalau tidak mengetahui maka ia bukan mujtahid dan tidak boleh berijtihad
• Mengetahui soal-soal ijma, hingga ia tidak berfatwa yang berlainan dengan ijma’
• Mengetahui bahasa arab
• mengetahui ilmu ushul fiqh (kaidah dasar pengambilan hukum fiqh)
• mengetahui nasikh dan mansukh

2. Ittiba’

Ialah menerima perkataan orang lain dengan mengetahui sumber-sumber atau alasan perkataan tersebut, orangnya disebut muttabi’

3. Taqlid

Ialah mengikuti pandapat orang lain tanpa mengetahui sumber atau alasannya.

a. Syarat-syarat taqlid :
Bertaqlid diboleh dengan syarat-syarat orang awam (orang biasa) yang tidak mengerti cara-cara mencari hukum, ia boleh mengikuti pendapat lain dan mengamalkannya.
Adapun orang yang pandai dan sanggup mencari sendiri maka hendaklah mencari sendiri atau minimal ittaba’ kepada salah satu madzhab tertentu.

b. Syarat-syarat masalah yang ditaqlid

– Hukum akal

Dalam hkum akal tidak boleh bertaqlid kepada orang lain, seperti mengetahui adanya zat yang menjadikan alam serta sifat-sifatNya dan hukum akal lainya, karena jalan menetapkan hukum-hukum tersebut ialah akal, sedang setiap oarng punya akal, karena itu tidak ada gunanya bertaqlid kepada orang lain.

– Hukum syara’

Hukum syara ada dua macam yaitu yang bisa diketahui dengan pasti seperti wajibnya shalat lima waktu, puasa, zakat dan haji dalam masalah ini tidak boleh seseorang bertaqlid. Yang kedua masalah-masalah yang diketahui dengan penyelidikan dan mencari dalil, seperti ibadah furu’iyah.

c. Taqlid yang diharamkan

1. Taqlid kepada orang lain dengan tidak memperdulikan Al-Qur’an dan As-sunnah
2. Taqlid kepada orang yang tidak diketahui keahliannya untuk ditaqlidi

Pesan Imam Empat Dalam Masalah Lain-Lain

Imam Abu Hanifah :

“Jika perkataanku manyalahi kitab Allah dan Hadits Rasul, maka tinggalkanlah pendapatku”. “seseoarang tidak boleh mengambil perkataan saya sebelum mengetahui dari mana saya berkata”.

Imam Malik :

“Saya hanya manusia biasa yang kadang salah kadang benar, selidikilah pendapat saya, kalau sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka ambillah, jika menyalahi hendaklah tinggalkanlah”.
Imam Syafi’i :

“Perumpamaan orang yang mencari ilmu tanpa hujjah (alasan) seperti orang yang mancari kayu bakar di waktu malam, ia membawa kayu-kayu itu sedang ia tidak tahu di dalamnya ada ular yang siap menggigit sedang ia tidak tahu.

Imam Ahmad Bin Hanbal :

“Janganlah taqlid kepada saya, Malik, Tsauri, Auza’i, tapi ambilah dari mana mereka mengambil”.

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama