Cara Paling Awal Mempelajari Al-Qur'an


Cara Paling Awal Mempelajari Al-Qur'an

Syekh Ragip Frager

(terj. bebas oleh Herry Mardian)

GURUKU, Safer (Muzaffer) Effendi, mengajarkan aku beberapa cara paling dasar untuk mempelajari Al-Qur'an. Ia membiasakan aku untuk mencari ayat-ayat yang punya makna khusus untukku. Dia mengajarkan, "biarkan matamu melihat-lihat Quran, halaman demi halaman. Namun ketika ada ayat tertentu yang terasa melompat dari kertas dan tampil mendekat ke matamu, tulislah."

Bacalah hingga kau sampai pada ayat yang menyentuh hatimu. Lalu, lewatkan beberapa waktu dengan ayat tersebut. Jika bisa, bacalah Arabnya terlebih dahulu untuk dirimu, karena ada berkah ketika kau mendengarkan kalimat-kalimat asli Al-Qur'an--apalagi kalimat-kalimat itu adalah kalimat-kalimat Allah untuk manusia. Lalu, bacalah artinya dalam bahasamu. Perlahan-lahan, nikmati dan teguk kalimat-kalimat suci itu. Biarkan ayat-ayat itu tenggelam ke dalam dirimu.

Perhatikan apa saja yang paling menyentuh hatimu di ayat itu. Apa di sana ada sebuah frasa, atau kata, yang sangat menyentuhmu? Tuliskanlah frasa itu, atau kata tersebut. Lukiskan bagaimana frasa atau kata itu menyentuhmu, dan apa maknanya bagimu saat itu.

Kelak kau bisa melihat lagi apa yang kau tuliskan. Kau mungkin akan menemukan hal-hal atau makna-makna baru saat itu, ketika kau membaca lagi ayat tersebut. Ini adalah tanda bahwa ada sesuatu dalam dirimu yang telah tumbuh, dan kau sudah mampu memahaminya sedikit lebih dalam.

Beginilah cara belajar yang sesungguhnya, bukan belajar cepat-cepat untuk menyelesaikan kuliah sebagaimana umumnya di sistem pengajaran barat. Di cara belajar seperti ini, kita membaca, lalu kita merenungkan, mengkontemplasikan diri kita pada apa yang sudah kita pelajari. Sebagaimana kata Rasulullah, sesaat tafakkur lebih baik daripada beribadah enam puluh tahun.

Setiap kata, setiap surat dan setiap ayat dalam Quran adalah sebuah wahyu. Kita tak akam mampu memahaminya secara penuh, karena itu adalah wahyu dari Allah. Jika kita mampu memahaminya secara utuh dengan kecerdasan kita yang terbatas, maka Al-Quran bukanlah wahyu yang datang dari sesuatu yang tak terbatas. Meski begitu, setiap perenungan dari kata-kata Tuhan akan membawa kita mendekat pada Tuhan.

Kata-kata yang paling agung tak akan bisa menginspirasi kita jika kita tidak mencernanya. Seperti engkau menaruh makanan di mulut, lalu meludahkannya kemudian berkata, "makanan ini tidak bagus. Ia tidak memiliki nilai gizi apapun yang berguna untukku." Kita harus mencerna apa yang kita telah. Kita harus 'mengunyahnya' pelan-pelan, berulang-ulang. Jadi, bacalah, dan bacalah lagi. Renungkan ayat-ayat itu, dan 'rasakan' ayat itu untuk dirimu.

Bisa juga, kita menggambar sesuatu yang diinspirasikan oleh kata-kata tertentu. Kita melihat gambaran-gambaran yang sangat kuat dalam mimpi kita. Banyak sekali darwis yang memperoleh pengajaran-pengajaran yang luar biasa dalam mimpi-mimpi mereka, dan itu benar-benar sebuah pengajaran yang sangat indah, yang profan. Jadi, bukan kata-katanya yang penting. Tapi--makna--nyalah yang penting.

Biasakan untuk memberi waktu pada dirimu setidaknya satu jam setiap minggu untuk duduk, diam, dan melakukan cara belajar kontemplatif seperti ini. Mulailah dari ayat yang mudah, atau yang sudah kau ketahui, atau yang sangat kau sukai. Jangan terburu-buru, beri waktu agar kau dapat mengapresiasi keindahannya dan beberapa lapis maknanya. Jika kau mampu, bacalah Arabnya dan tuliskan juga Arabnya. Lalu tuliskan artinya dalam bahasamu. Kemudian ucapkan, baca ayat itu beberapa kali dengan bersuara, dan perhatikan apa yang terjadi pada dirimu--secara mental, emosional, maupun fisik. Penting untuk membacanya dengan bersuara, selain membaca di dalam hati. Membaca dengan bersuara akan menyentuh hati kita lebih dalam, karena Qur'an pada dasarnya adalah untuk dibaca dengan bersuara.

Kata Rasulullah, sesaat bertafakkur lebih baik dari ibadah enam puluh tahun. Apa artinya 'tafakkur'? Cara tafakkur yang paling dasar sebenarnya mudah. Biasakan dirimu menyisihkan waktu satu jam atau dua jam setiap minggu. Mulailah dari permulaan, surat Al-Fatihah, dan lihat apa yang bisa kau temukan dari surat pendek tersebut.

Bagian manapun dari Qur'an akan bisa membuka hati kita dan menuntun kita--surat apapun, kata apapun, ayat manapun. Kita belum berada pada tingkat di mana sebuah huruf atau sebuah titik akan membuka sebuah kebenaran, tapi ayat-ayat tertentu akan bisa menginspirasi kita.

Bahasa memiliki daya untuk merubah sesuatu, dan itu sebabnya kita harus berhati-hati dengan pembicaraan-pembicaraan kita setiap hari. Kata-kata yang kita gunakan tidak seharusnya disikapi dengan sambil lalu--apalagi sikap kita pada kata-kata untuk berdoa atau berzikir. Setiap kata dalam Al-Qur'an adalah utusan dari Allah. Allah sendiri yang mengutusnya untuk menginspirasi kita.

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama