Memetakan Asma'ul Husna Dan Sifat Lainnya


MEMETAKAN ASMA'UL HUSNA DAN SIFAT LAINNYA

(Kajian #AWAramadhan18 ke 3: Klasifikasi Sifat Ketuhanan)

Oleh: Kiyai Abdul Wahab Ahmad

Sebelumnya telah kita bahas tentang pemetaan sifat Allah secara umum menurut Asy'ariyah dan bahwa sebenarnya sifat Allah itu tak terbatas. Beberapa orang kemudian bertanya-tanya bagaimana cara kita menyikapi Asma'ul Husna yang berjumlah 99 itu (menurut qaul yang paling populer tentang jumlah Asma'ul Husna) dan juga sifat seperti istiwa', yad, wajh, dan sebagainya? Apakah sifat-sifat di tersebut juga bisa dipetakan demikian ataukah ada di luar pemetaan tersebut?

Sebelum dilanjutkan, perlu kiranya ditegaskan kembali bahwa sifat wajib bagi Allah tersebut seluruhnya mempunyai tiga karakter, yaitu:

1. Akal dan nash secara pasti menetapkan adanya sifat-sifat itu pada diri Tuhan.
2. Akal dan nash secara pasti meniadakan lawan atau kebalikan dari sifat-sifat itu dari Tuhan.
3. Sifat-sifat itu menjadi syarat ketuhanan (شرط الألوهية) yang apa bila satu saja dari sifat itu tidak ada, maka Dzat yang bersangkutan tidak mungkin disebut sebagai Tuhan dan karenanya tidak layak disembah atau dipertuhankan.

Bila kita amati dengan seksama seluruh sifat Allah yang tercermin dalam Asmaul Husna, ternyata tak satu pun yang sesuai dengan 3 karakter tersebut. sebab itulah kita dapati banyak sekali sifat-sifat dalam Asmaul Husna yang ada bersama kebalikannya. Sifat al-Rahman dan al-Rahim (Maha Pengasih dan Penyayang) ada bersama sifat al-Dlar (Pemberi petaka), Sifat al-Razzaq (Pemberi Rizki) juga ada bersama sifat al-Mani' (Penahan rizki), sifat al-Muhyi (yang memberi kehidupan) juga ada bersama sifat al-Mumit (yang mematikan), sifat al-Mu'iz (Yang Memuliakan) ada bersama al-Mudzillu (Yang Menghinakan) dan demikian seterusnya. semua ini memastikan bahwa kebanyakan sifat-sifat yang terdapat dalam Asmaul Husna tidak bisa dimasukkan dalam kategori sifat wajib sebagaimana sifat lainnya yang sudah kita bahas.

Namun ada juga dari beberapa sifat dalam Asmaul Husna yang memenuhi tiga karakter di atas sehingga bisa masuk dalam kategori sifat wajib. Akan tetapi seluruh sifat yang demikian sudah tercakup dalam pemetaan sifat wajib itu sendiri sehingga tidak menambah satupun dari sifat wajib yang sudah ada, bahkan ada beberapa sifat dalam Asmaul Husna yang memang secara literal merupakan sifat wajib itu sendiri seperti sifat al-Sami', al-Bashir, al-Baqi dan lainnya. Dan, ada juga yang tak masuk secara literal dalam kategori sifat wajib tetapi maknanya sudah ada dalam salah satu sifat wajib, misalnya: Sifat al-Qawiyyu (Yang Maha Kuat) sudah masuk dalam cakupan sifat Qudrah, sifat al-Ghaniy (Maha Kaya) sudah masuk dalam cakupan sifat Qiyamuhu binafsihi, sifat al-Awwal sudah masuk dalam cakupan sifat Qidam, sifat al-Akhir sudah masuk dalam cakupan sifat Baqa', dan demikian seterusnya.

Adapun sifat-sifat dalam Asmaul Husna yang bermakna tindakan, seperti: memberi, melakukan perhitungan, memuliakan, menghinakan, memelihara, memberi keamanan, memberi kesejahteraan, menciptakan, mengampuni, memaksa, mengampuni, dan seterusnya yang menjadi yang mayoritas sifat yang terdapat dalam Asmaul Husna masuk dalam kategori sifat Jaiz Allah. Seluruh sifat yang bermakna tindakan ini sama sekali tidak berhubungan dengan kemuliaan Dzat Allah sehingga keberadaannya tidak menyebabkan Allah menjadi lebih mulia dan ketiadaannya tidak menyebabkan berkurangnya kamuliaan Allah.

Dengan demikian, tindakan Allah untuk menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya dari ketiadaan sama sekali tidak membuat Dzat Allah semakin sempurna dan begitu pula keputusan Allah untuk menghancurkan semuanya sama sekali tidak berpengaruh pada kekayaan dan kesempurnaan Allah. Demikian juga ketika Allah memberi rizki kepada seseorang atau ketika Allah menyempitkan rezekinya, hal ini sama sekali tidak berpengaruh pada keagungan Allah. Inilah yang dimaksud dengan sifat yang bisa ada dan bisa juga tidak ada (Jaiz) bagi Tuhan. Seluruh sifat yang berupa tindakan ini pada hakikatnya adalah efek yang timbul dari sifat wajib qudrah (kuasa) dan iradah (kehendak) Allah.

Adapun sifat yang tak berupa tindakan tapi juga tak harus ada dalam Dzat Tuhan (bukan syarat ketuhanan) seperti al-Lathif (Yang Maha Lembut) dan lain sebagainya maka tak termasuk dalam kategori sifat wajib yang seluruhnya terkait dengan Dzat ataupun sifat jaiz yang terkait dengan tindakan, namun masuk dalam kategori sifat kamalat atau sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah.

Dengan pemetaan seperti di atas, maka sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna dapat juga dipetakan sesuai kategori wajib, jaiz dan kamalat. Demikian juga sifat-sifat lain yang tak disebut dalam Asmaul Husna yang versi 99 tersebut tetapi disebutkan dalam versi Asmaul Husna yang lebih banyak atau disebutkan dalam hadis sahih secara umum.

PEMETAAN DARI PERSPEKTIF LAIN

Selain bisa diklasifikasi atau dipetakan seperti pemaparan sebelumnya, sifat-sifat Allah juga bisa dipetakan dengan melihat hubungannya dengan Dzat Allah atau dengan melihat dalil yang digunakan untuk menetapkannya.

Bila melihat hubungannya dengan Dzat Allah, maka seluruh sifat Allah bisa dipetakan menjadi dua kategori, yaitu:

1. Sifat Dzatiyah, yakni sifat yang selalu melekat kepada Dzat Allah dan selalu ada bersama Allah sejak masa tanpa awal mula (azali) hingga selamanya. Misalnya: Sifat wujud, qidam, baqa' dan seluruh sifat wajib lainnya. Seluruh sifat dzatiyah ini bersifat permanen tanpa mengalami perubahan.

2. Fifat Fi'liyah, yakni sifat yang berupa tindakan Allah yang tidak berhubungan dengan Dzat sebab mempunyai awal mula dan terserah Allah kapan mau diakhiri. misalnya: sifat mencipta baru ada ketika Allah mulai menciptakan makhlukNya, sifat memberi baru dimulai ketika Allah memberikan sesuatu kepada hambaNya dan demikian seterusnya. Seluruh sifat fi'liyah ini tidak permanen dan dapat mengalami perubahan dari ada menjadi tiada atau dati tiada menjadi ada.

Adapun bila kita melihat dalil yang digunakan untuk menetapkan sifat-sifat itu, maka sifat Allah bisa dibagi menjadi dua kategori juga, yaitu:

1. Sifat Aqliyah, yaitu sifat Tuhan yang keberadaannya dapat ditetapkan melalui dalil-dalil rasional, misalnya: Sifat Wujud, Qidam, Baqa' dan seterusnya. Meskipun keberadaan sifat aqliyah ini dapat ditetapkan melalui dalil rasional, namun bukan berarti keberadaannya hanya ditetapkan oleh dalil rasional belaka seperti dipahami oleh beberapa orang yang tidak mengenal aqidah asy'ariyah. Seluruh sifat ini juga bisa ditetapkan melalui dalil-dalil tekstual dari Alquran ataupun hadis sebagamana akan kita lihat di kajian berikutnya.

2. Sifat Khabariyah atau Sam'iyah, yakni sifat-sifat Tuhan yang keberadaannya hanya dapat ditetapkan melalui dalil-dalil tekstual saja (al-Qur'an dan Hadis sahih). Rasio atau akal sama sekali tidak bisa menjangkau keberadaan sifat-sifat ini sebab merupakan ranah yang 100% di luar ranah pikiran. Yang masuk kategori ini adalah sifat istiwa', yad, 'ain, wajh, nuzul, ghadhab, ridha, wilayah, 'adawah, hubb, dan banyak lainnya yang disebutkan oleh Allah dan Rasulullah. Semua ulama Asy'ariyah sepakat menetapkan seluruh sifat Khabariyah ini, tidak seperti yang disangka orang non-Asy'ariyah yang gagal paham terhadap mazhab akidah mayoritas ulama ini.

Apabila pemetaan di atas ini dicampur aduk, maka terjadilah perbedaan pendapat di kalangan Asy'ariyah maupun non-Asy'ariyah. Misalnya: sifat istiwa' bila ditinjau dari hubungannnya dengan Dzat apakah termasuk sifat Dzatiyah ataukah sifat Fi'liyah? Sebagian ulama menggolongkannya pada sifat Dzatiyah dan sebagian lagi pada sifat Fi'liyah tergantung bagaimana mereka memaknai istiwa' tersebut.

Dalam pemetaan ini saya tak menyertakan nukilan sebab akan terlalu panjang dan berbelit karena biasanya para ulama membahas dari satu sisi saja di suatu tempat dan membahas di sisi lain di tempat berbeda. Ada juga yang keukeuh pada perspektifnya saja dan mengabaikan perspektif ulama lain sehingga terkesan saling bertentangan dan tak bisa disatukan. Belum lagi bila kita membahas sifat yang keberadaannya diperselisihkan seperti sifat Idrak misalnya, maka akan jauh lebih panjang lagi. Pembahasan mendetail tentang perdebatan mereka tersebut tak menarik bagi kebanyakan orang dan hanya memusingkan bagi lebih banyak orang lagi. Jadi, kita cukupkan dengan ulasan secara global saja.

Lalu bagaimana ulasan masing-masing sifat wajib, mustahil, jaiz dan lain-lain itu? Insya Allah akan kita akan bahas dalam kajian-kajian berikutnya.

Semoga bermanfaat.

Oleh: Kiyai Abdul Wahab Ahmad

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
  

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama