Pertanyaan Bagi Yang Menganggap Ibadahnya Telah Baik


"Muslim ?"

"Yup," Aku menjawab percaya diri.

"Sholat ?"

"Sure."

"Bisa jelaskan, apa artinya Allahu Akbar ?"

"Allah Maha Besar," Mantap jiwa, batinku.

"Maksudnya ?"

"Ya itu. Allah Maha Besar."

"Bisa dijelaskan ?"

"Itu saya kira self explanatory. Simpel. Allah itu Maha Besar."

"Apanya yang besar ?"

"Allahnya"

"Besar apanya ?"

"KekuasaanNya," Mulai bertanya sendiri, dalam hati.

"Bagaimana maksudmu, bagaimana Maha Besarnya kekuasaanNya ?"

"Dia memberi saya semuanya. Memberi hidup. Udara. Air. Tubuh yang baik. Orangtua yang menyayangi. Memberi saya rejeki. Makanan yang cukup. Keturunan. Teman-teman."

"Begitu kekuasaan-Nya?"

"Ya."

"Sholatmu tepat waktu ? Di awal waktu ?"

"Mmmmhhh...nggak ssiiih," mengatupkan gigi atas dan bawah.

"Khusyuk ?"

"Shhhh.....," no answer.

"Pernah sholat dimana kau merasa hanya ada dirimu dan Dia di semesta ini ?"

"...."

"Apa yang melayang dalam pikiranmu begitu tanganmu kau angkat dan takbir kau ucapkan ketika memulai sholat ?"

Diam. Tak ada jawab.

"Apa yang terbersit dalam hatimu ketika engkau baru hendak memulai bacaan Iftitah ?"

"Semangkuk bakso panas dengan mie kuning," jawabku dalam hati.

"Wajah siapa yang muncul di kepalamu ketika membaca Al Fatihah ?"

Kembali mengatupkan gigi atas dan bawah.

"Apa yang teringat untuk dilakukan setelah sholat ketika kau mulai membaca Al Ashr sewaktu sholat, surat kesukaan yang otomatis meluncur dari bibirmu ?"

Rahang mengencang. Tak ada suara.

"Muslim ?"

Tak berani menjawab.

"Sholat ?"

Diam.

"Kau mengaku muslim. Kau menyatakan dirimu telah ber-sholat. Kau merasa paham makna Allahu Akbar, kata yang kau ucapkan empat kali dalam satu rakaat.

Setidaknya 68 kali dalam sehari sholat wajibmu, sejuta dua ratus empat puluh satu ribu kali dalam 310.250 rakaat sholatmu selama 50 tahun.

Ringan dari bibirmu meluncur kata Allahu Akbar. Mudah bagi lisanmu menyatakan Dia Maha Besar. Tapi tak sekalipun Allahu Akbar-mu kau ucapkan dengan kehadiran dirimu secara utuh, dengan penghadapan wajah yang sungguh-sungguh, dengan kehadiran hati yang penuh, dengan kedalaman penghayatan batin akan ke-Maha-Besaran Tuhan pemilik alam jasad dan alam ruh."

Hening.

"Muslim ?"

Diam. Gigi atas dan bawahku mengatup. Rahangku mengencang.

"Sholat ?"

Waktu seperti berhenti. Aku diam seribu kata.

"Tugasku disini untuk bertanya tentang sholatmu. Dan sepertinya kita masih akan perlu berbicara kembali tentang takbirmu, kalimat pembuka sholatmu, sebelum melanjutkan ke Iftitah, Al Fatihah, tuma'ninah dan seterusnya. Aku tak tahu akan berapa lama kita berbicara tentang sejuta Allahu Akbar-mu itu."
...

Tiba-tiba saja aku merasa perjalanan disini akan sangat sangat lama. Hari pertama. Tanah kuburku masih basah. Ingin rasanya kuhentakkan dahiku ke batu nisan di atas sana. Ingin rasanya menyelam ke perut bumi dan hancur ditelan lava. Ingin rasanya aku tak pernah hadir ke dunia.

Copas dari status FB-nya Abi Yahya

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
  

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama