Thursday, June 21, 2018

Hati-Hati Dengan Golongan Islam Yang Merasa Paling Benar Sendiri

Rate this posting:
{[['']]}

Hati-Hati Dengan Golongan Islam Yang Merasa Paling Benar Sendiri

Guru Mulia Sayyidī al-Ḥabīb `Umar bin Ḥafīdz:

"Orang yang memiliki sifat 'merasa paling benar sendiri' adalah seperti Jenis kayu bakar terbaik yang dapat dinyalakan dengan cepat dan besar untuk membangkitkan perpecahan antara orang-orang beriman. 'Merasa paling benar' adalah penyakit yang menyebabkan orang bertindak membabi buta mengikuti kelompok atau mengikuti nafsu diri mereka sendiri. Ini menyebabkan mereka mengklaim bahwa cara mereka atau kelompok mereka adalah jalan Allah dan Rasul-Nya.

Para ulama Shaleh dari umat ini ditanya:
“Apa hukum yang telah ditetapkan Allah untuk masalah ini atau itu?",

Mereka (sholehin) akan memperbaiki pertanyaan itu,
Katakan, "apa pendapat para ulama untuk masalah ini atau itu?",
Atau

"Apa pendapatmu tentang masalah ini atau itu menurut pengertianmu dari al Qur'an atau Sunnah?",

Para shalehin tidak akan mengklaim memiliki pengetahuan mutlak dan menyeluruh tentang segala putusan Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan sangat berhati-hati menyikapinya.

Juga Para Imam empat madzhab diwaktu menetapkan suatu perkara (berfatwa), mereka akan berkata,:'Ini adalah menurut apa yang kami pahami / mengerti tentang agama Allah'.

Mereka adalah orang yang mengenal dan sangat dekat dengan Allah dan Rasul Nya. Namun mereka sadar dan tahu bahwa pemahaman atau opini mereka tidak bisa mutlak benar mencakup seluruh aspek dalam agama Allah.

Zaman sekarang, kita menemukan orang-orang yang berpikir bahwa mereka memiliki hak monopoli pada agama Allah dan bahwa setiap orang harus mengikuti pendapat mereka. Mereka menunjukkan kejahilan yang lengkap tentang agama. Bahkan, mereka menunjukkan penghinaan untuk urusan Allah, dimana setiap orang harus mengikuti mereka.

Siapa pun yang tahu kebesaran agama tahu bagaimana berbicara.

Nabi ﷺ tidak menyukai penampilan ilmu pengetahuan tanpa ada cahaya dan penjelasan apapun.

Sayyidina `Alī menggambarkan orang-orang yang "duduk di dalam suatu majlis dan saling membanggakan satu sama lain.

Sehingga Salah satunya menjadi marah dengan temannya jika ia pergi dan duduk dengan majlis orang lain". Adalah majlis yang sia sia dan amalan mereka tertolak..

Dan jika amalan mereka tidak diterima, kemana amalan itu pergi? Semua amalan mereka akan pergi kembali kepada pemimpin mereka,'iblis' yang akan menguasai dan memerintah mereka dan meyakinkan mereka bahwa tindakan mereka paling benar, dan mereka adalah hamba yang shaleh atau ulama yang baik dan pemuka ummat, dia (iblis) akan memerintahkan mereka untuk membunuh orang dan menyiksa mereka dan memperlakukan agama sebagai mainan.

Jelas sekali gerakan seperti itu tertolak, hanya amalan dan kata kata yang baik yang diterima Allah, dan kata-kata yang baik hanya terbit dari hati yang murni karena adab dan kerendahan hati mereka di hadapan Allah.

Lihatlah bagaimana khalifah pertama kita, Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq. Tidak ada orang yang lebih lama berkumpul dengan Nabi ﷺ seperti beliau dan tidak ada yang memperoleh manfaat dari Nabi sebanyak yang diterima Abu Bakar, Terlepas dari semua ini, setelah diangkat menjadi khalifah beliau berkata: "Jika Kalian melihat bahwa aku melakukan hal yang benar, dukunglah kebijakanku itu dan jika Kalian melihat bahwa aku telah tersesat atau melenceng, luruskan aku",

beliau tidak mengatakan: "Akulah Khalifah, kalian telah berjanji untuk setia kepada ku, jadi dengarkan dan patuhi aku".

seorang badui berteriak:"Jika kami melihat Anda tersesat, kami akan meluruskan Anda dengan pedang kami "Abu Bakar menerima apa yang dia katakan dan tidak memberi tanggapan apapun. (Berarti beliau setuju dgn apa yang dikatakan orang badui itu),..

Ini adalah generasi pertama, dan ini adalah pemahaman mereka tentang agama kita.

Khalifah berikutnya, Sayyidina `Umar berteriak:"Seorang wanita benar, dan Umar salah!" Apa yang dikatakan (oleh wanita itu) adalah sesuai dengan Qur'an, jadi aku menarik kembali pada apa yang telah aku katakan. (Yang tidak sesuai Qur'an)".

Begitulah bagaimana para salaf memahami Islam. Mereka adalah Khulafā` yang sangat tertuntun namun tidak satupun dari mereka yang mengaku memiliki monopoli atas Islam. Bahkan mereka melihat diri mereka sebagai pelayan ummat dan Islam.

Sayyidina `Umar berkata kepada salah satu sahabat:" Katakan padaku satu hal yang tidak Anda sukai tentang aku". Awalnya sahabat itu menolak, tapi ketika Umar bersikeras, sahabat itu berkata:"aku mendengar bahwa Anda mengenakan dua pasang pakaian dalam satu hari dan bahwa Anda telah makan dua macam lauk setiap kali makan".

Sayyidina Umar bertanya: "Apakah ada hal lain?" "Tidak," jawabnya. "Aku akan memperbaiki kedua urusan ini" kata khalifah Umar, dan sejak hari itu dan seterusnya ia tidak lagi memakai dua set pakaian dalam satu hari dan tidak makan dua jenis lauk dalam jamuan makannya.

Siapa yang mau kita tiru jika kita tidak meniru mereka? Allah memerintahkan kita untuk meniru mereka:
والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. (At Tawbah 100).

Tak satu pun dari mereka mengatakan: "kami tahu Islam secara keseluruhan"

Sayyidina al-Hasan al-Basri menyadari hal ini setelah beliau pernah berkumpul bersama Sayyidina `Alī dan sekitar tujuh puluh sahabat yang bertempur di Badr.

Hal ini menyebabkan dia berani mengkritik para ulama di zamannya. Dia mengatakan tentang mereka: "Aku telah melihat, jika salah satu dari kalian di tanya tentang sesuatu (tentang masalah agama), kalian langsung memberikan fatwa sementara kalian berjalan di sepanjang jalan. Jika Sayyidina `Umar ditanya pertanyaan yang sama beliau tidak akan langsung menjawab tetapi beliau akan mengumpulkan ahlu Badar dan berkonsultasi dengan mereka sebelum berfatwa, Dengan kata lain, penghormatan terhadap agama ini telah hilang dari hati Kalian".

Ini adalah bagaimana al-Hasan al-Basri melihat orang-orang pada zamannya. Seandainya orang-orang yang sama masih hidup di zaman sekarang tentunya kita akan menghormati mereka dan mencari keberkahan melalui mereka! Ini adalah pemahaman aslaf tentang rahasia Kitab dan pesan dari nabi Terkasih ﷺ . Umat harus datang untuk mengetahui kenyataan ini dan meniru Manusia terbaik ﷺ dan orang-orang yang mewarisi Khilafah (pemimpin lahir batin) > ulama kita dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Wallahu a'lam Bishowab



Allahuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'alihi wa shohbihi wa salim
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment