Tuesday, June 26, 2018

K.H Abdi Kurnia Djohan : Memahami Khawarij Pada Masa Sayyidina Ali Bin Abi Thalib KW

Rate this posting:
{[['']]}

K.H Abdi Kurnia Djohan : Memahami Khawarij Pada Masa Sayyidina Ali Bin Abi Thalib KW

Saya memahami fenonena "Khawarij" pada masa Sayyidina Ali ibnu Abu Thalib radhiyallahu anhu sebagai berikut:

1. Rasulullah pernah mengatakan bahwa nasib Ali ibnu Abu Thalib hampir tidak berbeda dengan Nabi Isa alayhissalam. Ali akan mengalami fitnah sebagaimana dialami Nabi Isa alayhissalam, yaitu dimusuhi oleh pengikutnya dan disalahpahami oleh pengikutnya yang setia kepadanya. Keterangan hadits ini bisa dibaca di dalam Tārikh ul-Khulafa karya al-Hafidz al-Suyuthi;

2. Popularitas Sayyidina Ali menanjak di tengah ketidakpercayaan masyarakat terhadap Rezim Sayyidina Utsman ibnu Affan. Ahmad Syalabi di dalam karyanya, Tārikh ul-Hadlarat il-Islamiyyat menjelaskan bahwa Sayyidina Usman banyak dirugikan oleh kebijakan para pejabat yang diangkatnya. Nama baik Sayyidina Utsman menjadi rusak karena kebijakan-kebijakan tidak populis dari para pejabat yang diangkatnya. Sayyidina Utsman sendiri, karena beberapa alasan, tidak mampu bersikap tegas terhadap para pejabatnya yang notabene berasal dari qabilahnya (Umayyah).

3. Di tengah situasi politik yang tidak kondusif, opini masyarakat menjadi terbelah. Sebagian kelompok masyarakat merindukan kembali sosok Umar yang dipandang mampu menegakkan keadilan pasca wafatnya Rasulullah. Para perindu Umar ini melihat Ali bin Abu Thalib sebagai sosok yang bisa menyamai Umar dalam ketegasan dan keadilan. Namun, sebagian kelompok yang lain menilai bahwa naiknya Ali ke tampuk kekhalifahan akan mengancam eksistensi politik mereka yang telah diuntungkan oleh Rezim Utsman ibnu Affan. Mereka bahkan menilai bahwa Ali berpotensi lebih keras daripada Umar sehingga bisa jadi jika memegang kekuasaan akan menyingkirkan mereka-mereka yang telah memperoleh keuntungan dari pemerintahan Utsman. Opini ini ditulis oleh Ahmad Syalabi di dalam Tārikh ul-Hadharat il-Islamiyyat dan Hasan Ibrahim Hasan di dalam Tarikhul Islam.

4. Di tengah polemik yang semakin meruncing itu, sekelompok kabilah memutuskan untuk mempercepat revolusi. Penyerbuan ke kota Madinah pun tidak dapat dihindari. Secara kebetulan, Ali tidak sedang berada di Madinah. Situasi Madinah tidak terkendali. Aksi mob pun meledak. Sayyidina Utsman terbunuh di dalam rumahnya karena aksi massa yang brutal tersebut.

5. Muawiyah ibnu Abu Sufyan mengutuk aksi tersebut dan menuntut pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang berada di belakang aksi mob itu. Bani Umayyah sebagai klan dari Utsman ibnu Affan menuntut darah atas terbunuhnya paman mereka dalam peristiwa tersebut. Peristiwa ini juga memancing amarah Sayyidah Aisyah yang masih keponakan Utsman ibnu Affan.

6. Situasi Madinah semakin kacau ketika terjadi aksi massa itu. Setelah mengetahui Sayyidina Utsman terbunuh, sebagian massa meneriakkan nama Ali sebagai khalifah. Massa kemudian mendatangi Abbas ibnu Abdul Muthallib radhiyyalahu anhu, agar membuat deklarasi pembaitan Ali sebagai khalifah.

7. Melalui aksi massa, nama Ali pun dikukuhkan sebagai khalifah setelah Utsman.

8. Bagi para tokoh Muhajirin dan Anshor, pembaiatan Ali sebagai khalifah itu dianggap bermasalah. Muawiyah malah menduga Ali sebagai dalang aksi massa tersebut. Dugaan itu diperkuat dengan tidak sedikitnya orang-orang yang diketahui dengan Ali, terlibat di dalam aksi itu.

9. Naiknya Ali ke tampuk kekhalifahan mengawali konflik baru antara dirinya dengan Bani Umayyah. Muawiyah sebagai wakil dari Bani Umayyah, masih sulit menerima fakta naiknya sebagai khalifah.

10. Muawiyah menuntut agar Ali menyerahkan beberapa pengikutnya yang diduga melakukan penyerangan kepada Sayyidina Utsman. Namun, tuntutan itu ditolak. Ali menegaskan bahwa tidak ada satu pun dari pengikutnya yang terlibat di dalam penyerangan itu. Ia pun meminta waktu untuk mengusut tuntas aksi massa yang menyebabkan terbunuhnya Utsman.

11. Tekanan tidak saja datang dari Muawiyah, Sayyidah Aisyah pun melakukan upaya yang sama. Ali dalam posisi yang sulit. Karena kedua tokoh, seperti menuduhnya terlibat dalam penyerangan Utsman.

12. Aisyah pun bereaksi. Bersama dengan Thalhah ibnu Ubaidillah, ia memimpin pasukan menyerang Ali yang ketika memindahkan pemerintahan di Makkah. Pertempuran tidak terhindari. Thalhah pun gugur dalam pertempuran itu. Serangan Sayyidah Aisyah bisa dipatahkan. Sebagai bentuk penghormatan, Ali menghantarkan Sayyidah Aisyah, isteri Rasulullah itu kembali ke Madinah.

13. Baru selesai dengan Aisyah, Ali dihadapkan dengan manuver Muawiyah. Lambannya upaya penuntasan kasus oleh Ali, mendorong Muawiyah untuk mengambil tindakan tegas. Muawiyah menyatakan Pemerintahan Ali tidak sah karena cacat secara hukum. Ia pun mendeklarasikan diri sebagai Khalifah. Manuver Muawiyah itu didukung Amru ibnu al-Ash, Gubernur Mesir. Adanya sokongan dari Amru membuat posisi politik Muawiyah menjadi kuat.

14. Ali menganggap tindakan yang dilakukan Muawiyah sebagai pemberontakan. Atas dorongan pendukung setianya, Ali memutuskan untuk memerangi Muawiyah.

15. Perang di antara keduanya tidak terelakkan. Di Medan Shiffin kedua kekuatan bertemu. Ali didukung oleh kabilah-kabilah Arab dari Hijaz, Madinah, Harurah, Yaman dan Irak. Kebanyakan pendukung Ali adalah orang-orang desa yang lugu tapi mempunyai militansi yang sangat tinggi, terutama mereka yang berasal dari Harurah.

16. Bertemunya keluguan dan militansi pada pendukung Ali ini, yang sering menimbulkan masalah bagi Ali. Ketidakpahaman mereka terhadap dinamika politik dan kakunya pemahaman mereka terhadap idealisme sering menyulitkan Ali di dalam mengambil keputusan politik. Bahkan dalam banyak kesempatan, mereka sering berselisih keras dengan Ali. Analisis ini dikemukakan oleh Ahmad Syalabi di dalam karyanya Tarikhul Hadlarat il-Islamiyyah. Sebagai tambahan bisa juga di dalam karya Harun Nasution.

17. Namun demikian, diakui bahwa tingginya militansi para pendukung Ali itu yang menjadi faktor penentu kemenangan Ali di dalam mengalahkan lawan-lawan politiknya. Ini terjadi ketika pertempuran Shiffin. Pasukan Muawiyah mampu dipukul mundur. Posisi politik Muawiyah pun terpojok jika kalah dalam pertempuran tersebut.

18. Mengantisipasi kekalahan yang menyakitkan, Muawiyah pun mengajukan tawaran damai. Belakangan diketahui bahwa tawaran itu hanyalah siasat untuk menyelamatkan posisi politiknya. Amru ibnu al-Ash menancapkan Mushaf al-Qur'an di ujung tombak sebagai simbol tawaran damai.

19. Melihat situasi itu, Ali pun menghentikan gerak pasukannya. Pertempuran pun berhenti. Namun, seperti telah ditulis sebelumnya, masalah kini terjadi pada internal pendukung Ali. Polemik pun terjadi. Mereka yang berasal dari Harurah menyatakan ketidaksetujuannya terhadap sikap Ali yang menerima tawaran damai kelompok Muawiyah.

20. Dalam pandangan faksi Harurah, tindakan Muawiyah tidak dapat diampuni karena telah melakukan pemberontakan. Mereka berpegang kepada ucapan Rasulullah, yang mereka pahami bahwa orang yang melakukan bai'at kepada seseorang setelah ada bai'at yang pertama, wajib diperangi. Penerimaan tawaran damai, oleh Ali, menurut mereka dianggap sebagai pengakuan terhadap manuver kalangan pemberontak. Ini yang dianggap menyalahi Al-Qur'an dan Sunnah.

(Prabumulih, 22 Ramadhan 1439)

Sumber : Dikutip dari akun facebook Pribadi Beliau Abu Talat Aulad Djohan

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment