Wednesday, July 4, 2018

Biografi Sayyidina al-Imam Ustadz al-Adzhom Muhammad Bin Ali (al-Faqih al-Muqaddam Ra)

Rate this posting:
{[['']]}

Biografi Sayyidina al-Imam Ustadz al-Adzhom Muhammad Bin Ali (al-Faqih al-Muqaddam Ra)

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy, dan Alawiyin, Asal Usul & Peranannya, karya Alwi Ibnu Ahmad Bilfaqih, dari kitab Manaqib Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad Bin Ali Ba'Alawi dan Wafayat A'yanil Yaman, oleh Abdul Rahman bin Ali Hassan]

[Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad - Ali - Muhammad Shohib Mirbath - Ali Khali’ Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-’Uraidhi - Ja’far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]

Yang pertama kali dijuluki 'al-Faqih al-Muqaddam' adalah waliyullah Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Marbad. Soal gelar yang disandangnya, karena waliyullah Muhammad bin Ali seorang guru besar yang menguasai banyak sekali ilmu-ilmu agama diantaranya ilmu fiqih. Salah seorang guru beliau Ali Bamarwan mengatakan, bahwa beliau menguasai ilmu fiqih sebagaimana yang dikuasai seorang ulama besar yaitu al-Allamah Muhammad bin Hasan bin Furak al-Syafi'i', wafat tahun 406 Hijriah. Sedangkan gelar al-Muqaddam di depan gelar al-Faqih yang berasal dari kata Qadam yang berarti lebih diutamakan, dalam hal ini waliyullah Muhammad bin Ali sewaktu hidupnya selalu diutamakan sampai setelah beliau wafat maqamnya yang berada di Zanbal Tarim sering diziarahi kaum muslimin sebelum menziarahi maqam waliyullah lainnya.

Al-Waliyullah al-Imam Sayidina Al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’Alawy, dilahirkan di kotaTarim, beliau anak laki satu-satunya dari Imam Ali bin Muhammad Shahib Marbad yang menurunkan 75 leluhur kaum Alawiyin, sedangkan Imam Alwi bin Muhammad Shahib Marbad menurunkan 16 leluhur Alawiyin, termasuk di antaranya yang dikenal sebagai walisongo, di tanah Jawa, Indonesia. Sayyid Muhammad bin Ali yang terkenal dengan nama al-Faqih al-Muqaddam ialah poros sesepuh semua kaum Alawiyin.

Sayyidina Muhammad bin Ali yang terkenal dengan nama al-Faqih al-Muqaddam ialah sesepuh semua kaum Alawiyin. Beliau dilahirkan di Tarim. Beliau seorang yang hafal al-quran dan selalu sibuk menuntut berbagai macam cabang ilmu pengetahuan agama hingga mencapai tingkat sebagai mujtahid mutlak.

Beliau dikenal dengan gelar lain yakni ustadzul A’zham (Guru besar), beliau adalah bapak dari semua keluarga Alawiyin, keindahan kaum muslimin dan agama Islam.

Mengenai Imam al-Faqih al- Muqaddam Muhammad bin Ali, Sayyid Idrus bin Umar al-Habsyi dalam kitabnya Iqdul Yawaqiet al-Jauhariyah mengatakan: " Dari keistimewaan yang ada pada Sayyidina al-Faqih al-Muqaddam adalah tidak suka menonjolkan diri, lahir dan batinnya dalam kejernihan yang ma'qul (semua karya pemikiran) dan penghimpun kebenaran yang manqul (nash-nash Alquran dan Sunnah).

Penulis buku al-Masyra' al-Rawy berkata: "Beliau adalah seorang mustanbith al-furu' min al-ushul (ahli merumuskan cabang-cabang hukum syara' yang digali dari pokok-pokok ilmu fiqih. Ia adalah Syaikh Syuyukh al-syari'ah (mahaguru ilmu syari'ah) dan seorang Imam ahli hakikat, Murakiz Dairah al-Wilayah al-Rabbaniyah, Qudwah al-'Ulama al-Muhaqqiqin (panutan para ulama ahli ilmu hakikat),Taj al-A'imah al-'Arifin (mahkota para Imam ahli ma'rifat) dan dalam segala kesempurnaannya beliau berteladan kepada Amir al-Mukminin (Imam Ali bin Abi Thalib).

Beliau adalah al-’arif billah, seorang ulama besar, pemuka para imam dan guru, suri tauladan bagi al-’arifin, penunjuk jalan bagi as-salikin, seorang qutub yang agung, imam bagi Thariqah Alawiyyah, seorang yang mendapatkan kewalian rabbani dan karomah yang luar biasa, seorang yang mempunyai jiwa yang bersih dan perjalanan hidupnya terukir dengan indah. Thariqahnya adalah kefakiran yang hakiki dan kema’rifatan yang fitrah. Beliau Imam Faqihi Muqadam adalah penutup Aulia-illah (para waliyullah) yang mewarisi maqam Rasulullah saw, yaitu maqam Quthbiyah Al Kubra (Wali Quthub besar).

Beliau adalah sosok ulama yang mendapat keistimewaan dari Allah SWT sehingga mampu menyingkap rahasia ayat-ayat-Nya. Allah juga memberinya kemampuan untuk menguasai berbagai macam ilmu, baik lahir maupun batin.

Beliau lahir pada 574 H/1154 M. Di masa remaja ia menuntut ilmu kepada para ulama besar, antara lain Al-Allamah Al-Faqih Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Salim Marwan Al-Hadhrami, seorang guru yang agung, pemuka para ulama besar di Tarim; Al-Faqih Asy-Syeikh Salim bin Fadhl; dan Imam Al-Faqih Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Ubaid, pengarang kitab Al-Ikmal ‘alat Tanbih.

Kecerdasannya sudah tampak sejak masa kanak-kanak, sehingga ia sering mendapat perhatian lebih dari guru-gurunya. Salah seorang gurunya, Al-Imam Abdullah bin Abdurrahman, hanya akan memulai pelajaran jika muridnya Al-Faqih al-Muqaddam yang istimewa itu sudah hadir.

Selain itu, ia juga belajar kepada beberapa ulama besar yang lain, seperti Al-Qadhi Al-Faqih Ahmad bin Muhammad Ba’isa, Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Abul Hubbi, Asy-Syeikh Sufyan Al-Yamani, As-Sayid Al-Imam Al-Hafidz Ali bin Muhammad bin Jadid, As-Sayid Al-Imam Salim bin Bashri, Asy-Syeikh Muhammad bin Ali Al-Khatib, dan pamannya sendiri, Asy-Syeikh As-Sayid Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath(paman beliau) dan masih banyak lagi.

Beliau belajar fiqh Syafi’i kepada Syeikh Abdullah bin Abdurahman Ba’Abid dan Syeikh Ahmad Bin Muhammad Ba’Isa, belajar Ushul dan ilmu logika kepada Imam Ali Bin Ahmad Bamarwan dan Imam Muhammad Bin Ahmad Bin Abilhib, belajar ilmu Tafsir dan Hadits kepada seorang Mujtahid bernama Sayid Ali bin Muhammad Bajadid, belajar ilmu tasawuf dan hakikat kepada Imam salim Bashri, Syeikh Muhammad Ali Al Khatib dan pamannya Syeikh Alwi Bin Muhammad Shahib Mirbath serta Syeikh Sufyan Al Yamani yang berkunjung ke Hadramaut dan tinggal di kota Tarim.

Di antara sikap tawadhunya, beliau tidak mengarang kitab-kitab yang besar, akan tetapi ia hanya mengarang dua buah kitab berisi uraian yang ringkas. Kitab tersebut berjudul : Bada’ia Ulum Al Muksysyafah dan Ghoroib Al Musyahadat wa Al Tajalliyat. Kedua kitab tersebut di kirimkan kepada salah satu gurunya Syeikh Sa’Adudin Bin Ali Al Zhufari yang wafat di Sihir tahun 607 H. Setelah melihat dan membacnya ia merasa takjub atas pemikiran dan kefasihan kalam Imam Muhammad Bin Ali. Kemudian surat tersebut di balas dengan menyebutkan di akhir tulisan suratnya : ‘’Engkau wahai Imam, adalah pemberi petunjuk bagi yang membutuhkannya’’. Imam Muhammad Bin Ali pernah ditanya tentang 300 macam masalah dari berbagai macam ilmu, maka beliau menjawab semua masalah tersebut dengan sebaik-baiknya jawaban.

Selain dikenal sebagai ulama yang ketinggian ilmunya diakui oleh para ulama Hadramaut, ia juga terkenal sebagai dermawan yang suka memperhatikan nasib rakyat miskin. Setiap hari di bulan Ramadan, rumahnya selalu ramai oleh antrean fakir miskin yang menanti pembagian sedekah kurma.

Di rumahnya memang selalu tersedia gudang khusus untuk menyimpan 360 guci penuh kurma, setiap hari dibagikan kurma satu guci, sehingga dalam setahun habis 360 guci. Kurma itu adalah hasil kebun yang memang khusus untuk fakir miskin.

Tak mengherankan jika namanya cukup harum di kalangan masyarakat Tarim, ibu kota Hadramaut kala itu. Apalagi ia juga dikenal sebagai al-‘arif billah, ulama besar, pemuka para imam dan guru, suri teladan bagi al-‘arifin, penunjuk jalan bagi as-salikin, imam bagi tarekat Alawiyah, yang mendapatkan kewalian dan karamah luar biasa, yang mempunyai jiwa bersih.

Di masa-masa awal pertumbuhannya, beliau menjalaninya dengan penuh kesungguhan dan mencari segala hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Beliau berpegang teguh pada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, serta mengikuti jejak-jejak para Sahabat Nabi dan para Salafus Sholeh. Beliau ber-mujahadah dengan keras dalam mendidik akhlaknya dan menghiasinya dengan adab-adab yang sesuai dengan syariah.

Beliau juga giat dalam menuntut ilmu, sehingga mengungguli ulama-ulama di jamannya dalam penguasaan berbagai macam ilmu. Para ulama di jamannya pun mengakui akan ketinggian dan penguasaannya dalam berbagai macam ilmu. Mereka juga mengakui kesempurnaan yang ada pada diri beliau untuk menyandang sebagai imam di jamannya.

Mujahadah beliau di masa-masa awal pertumbuhannya bagaikan mujahadahnya orang-orang yang sudah mencapai maqam al-’arif billah. Allah-lah yang mengaruniai kekuatan dan keyakinan di dalam diri beliau. Allah-lah juga yang mengaruniai beliau berbagai macam keistimewaan dan kekhususan yang tidak didapatkan oleh para qutub yang lainnya. Hati beliau tidak pernah kosong sedetikpun untuk selalu berhubungan dengan Allah. Sehingga tampak pada diri beliau asrar, waridad, mawahib dan mukasyafah.

Boleh dikata, sedetik pun hatinya tidak pernah kosong dalam berhubungan dengan Allah. Sosoknya penuh dengan sikap tawaduk, dan menyukai ketertutupan, tidak pernah pamer. Suatu ketika ia berkirim surat kepada seorang pemuka sufi bernama Syekh Sa’ad bin Ali Adz-Dzafari. Setelah membacanya, Syekh Sa’ad terkagum-kagum karena merasakan asrar, rahasia kewalian, dan anwar, cahaya kewalian, di dalamnya.

Dalam jawabannya, Syekh Sa’ad antara lain menulis, “Wahai Faqih, orang yang diberikan karunia oleh Allah yang tidak dipunyai oleh siapa pun, engkau adalah orang yang paling mengerti syariat dan hakikat, baik yang lahir maupun yang batin.”

Tentang ketokohan dan kepribadiannya, Imam Syekh Abdurrahman As-Saggaf berkata, “Aku tidak pernah melihat atau mendengar suatu kalam yang lebih kuat daripada kalam Al-Faqih Muhammad bin Ali, kecuali kalam para nabi. Dan aku tidak dapat mengunggulkan seorang wali pun kecuali para sahabat nabi, atau orang yang mendapat kelebihan melalui hadis seperti Uwais Al-Qarni, atau Al-Faqih Muqaddam.”

Sepanjang hidupnya ia banyak mengalami pengalamaan spritual, antara lain bertemu Nabi Hud dan Nabi Khidlir.

Di zamannya, ia banyak menghasilkan ulama besar. Dan yang paling utama ialah Syekh Abdullah bin Muhammad 'Ibad dan Syekh Sa’id bin Umar Balhaf. Para ulama yang lain: Syekh Al-Kabir Abdullah Baqushair; Syekh Abdurrahman bin Muhammad ‘Ibad; Syekh Ali bin Muhammad Al-Khatib dan saudaranya, Syekh Ahmad; Syekh Sa'ad bin Abdullah Akdar dan saudara-saudara sepupunya; dan masih banyak lagi.

Beliau, Al-Faqih Al-Muqaddam, pernah berkata, “Aku terhadap masyakaratku seperti awan.” Suatu hari dikisahkan bahwa beliau pernah tertinggal pada saat ziarah ke kubur Nabiyallah Hud alaihis salam. Beliau berkisah, “Pada suatu saat aku duduk di suatu tempat yang beratap tinggi. Tiba-tiba datanglah Nabiyallah Hud ke tempatku sambil membungkukkan badannya agar tak terkena atap. Lalu ia berkata kepadaku, ‘Wahai Syeikh, jika engkau tidak berziarah kepadaku, maka aku akan berziarah kepadamu.’”

Disuatu saat Al Imam Faqihi Muqadam duduk bersama sahabatnya, ketika itu ada seseorang yang nampak seperti Badui datang mengunjunginya, dengan di atas kepalanya membawa keju. Maka berdiri Imam Faqihi Muqadam untuk mengambil keju tersebut lalau memakannya. Para sahabatnya yang hadir saat itu merasa heran dan bertanya : ‘’Siapa dia ? maka beliau menjawab : Nabi Khidir as. Kejadian tersebut menjelaskan bahwa : Allah telah mengangkat derajat Al Faqihi Muqadam sebagai seorang Ahli Hakikat dan Ahli Kasyaf. Ini terlihat dari isyarat keju yang di makannya dari kepala Nabi Khidir as. Keju tersebut di ibaratkan sebuah buah dari sebuah dari hasil mujahadah para wali. Dan di jadikan Imam Al Faqihi Muqadam bagi para wali seperti kedudukan Malaikat Jibril terhadap para Nabi. Syeikh Fadhal bin Abdullah Bafadhal berkata : ‘’Banyak dari manusia yang mendapatkan anugrah dari imam Al Faqihi Muqadam lantaran didikan dan kebaikannya, khususnya dua orang Syeikh Kabir Abdullah bin Muhammad Abbad dan Syeikh Said Bin Umar Balhaf’’.

Imam Muhammad Bin Ali Al Faqihi Muqadam berdoa untuk para keturunannya agar selalu menempuh perjalanan yang baik, jiwanya tidak di kuasai oleh kedzaliman yang akan menghinakannya, serta tidak ada satupun dari anak cucunya yang meninggal kecuali dalam keadaan mastur ( Kewalian yang tersembunyi ).

Beliau seorang yang gemar bersedeqah sebanyak dua ribu ratl kurma kepada yang membutuhkannya, memberdayakan tanah pertaniannya untuk kemaslahatan umum. Beliau juga menjadikan isterinya Zainab Ummul Fuqara sebagai khalifah beliau.

Beliau, Al-Faqih Al-Muqaddam, banyak menghasilkan para ulama besar di jamannya. Beberapa ulama besar berhasil dalam didikan beliau. Yang paling terutama adalah dua orang muridnya, yaitu Asy-Syeikh Abdullah bin Muhammad ‘Ibad dan Asy-Syeikh Sa’id bin Umar Balhaf. Selain keduanya, banyak juga ulama-ulama besar yang berhasil digembleng oleh beliau, diantaranya Asy-Syekh Al-Kabir Abdullah Baqushair, Asy-Syeikh Abdurrahman bin Muhammad ‘Ibad, Asy-Syeikh Ali bin Muhammad Al-Khatib dan saudaranya Asy-Syeikh Ahmad, Asy-Syeikh Sa’ad bin Abdullah Akdar dan saudara-saudara sepupunya, dan masih banyak lagi.

Sayidina al-Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad AlMuhajir. Al-Faqih Al Muqaddam adalah tokoh Ala­wiyin pertama yang menyebarluaskan ajaran tasawuf, setelah mengenakan “khirgah” (baju tasawuf) dari seorang tokoh ahli sufi, ialah Syekh Abu Madyan. Al Faqih Al Muqaddam menerima “khirgah” itu melalui seorang perantara, Syekh Abdurrahman bin Mu­hammad Al Muq’ad, seorang murid Syekh Abu Madyan. Syekh Abdurrahman diutus oleh gurunya khusus untuk tugas itu, tapi ia telah wafat di Makkah sebelum sempat menemui Al Fagih Al Muqaddam.

Meski demikian, sebelum wafat ia telah melimpahkan misi itu kepada kawan yang dapat dipercaya ialah Syekh Abdullah Al Maghribi untuk menyampaikan “khirgah” kepada Al Fagih Al Muqaddam di Tarim, Menurut kitab AlMasyra ‘Arrawiy, Al Fagih Al Mugaddam telah mencapai derajat Al Mujtahid Al Muthlaq di dalam ilmu Syari’at, - makam Al Quthbiyah di dalam bidang tasawuf. Gurunya ,Syech Muhammad Bamarwan mengatakan Al Faqih Muqaddam telah memenuhi syarat untuk menduduki jabatan AI-Imamah-.

Sayyidina Muhammad bin Ali yang terkenal dengan nama al-Faqih al-Muqaddam ialah sesepuh semua kaum Alawiyin. Beliau seorang yang hafal al-quran dan selalu sibuk menuntut berbagai macam cabang ilmu pengetahuan agama hingga mencapai tingkat sebagai mujtahid mutlak.

Penulis buku al-Masyra' al-Rawy berkata: "Beliau adalah seorang mustanbith al-furu' min al-ushul (ahli merumuskan cabang-cabang hukum syara' yang digali dari pokok-pokok ilmu fiqih. Ia adalah Syaikh Syuyukh al-syari'ah (mahaguru ilmu syari'ah) dan seorang Imam ahli hakikat, Murakiz Dairah al-Wilayah al-Rabbaniyah, Qudwah al-'Ulama al-Muhaqqiqin (panutan para ulama ahli ilmu hakikat),Taj al-A'imah al-'Arifin (mahkota para Imam ahli ma'rifat) dan dalam segala kesempurnaannya beliau berteladan kepada Amir al-Mukminin (Imam Ali bin Abi Thalib).

mengenai ketinggian derajat maka diriwayatkan bahwa awal derajat Imam al-Faqih al-Muqaddam adalah akhir derajat Syeikh Abdul Qadir Al-Jailaniy, menunjukkan derajat yang demikian agung.

AsSyeikh Abdurahman AsSeqaf berkata : ”Tidak aku lihat dan aku dengar suatu kalam yang melebihi kalam Imam Al faqihi Muqadam kecuali kalam para Nabi”. Sedang Imam Al faqihi Muqadam bernah berkata kepada kaumnya ’’Kedudukan ku terhadap kalian seperti kedudukan Nabi Muhammad kepada kaumnya’’. Didalam riwayat lain AsSyeikh Abdurahman AsSeqaf : berkata ’’Kedudukan ku terhadap kalian seperti kedudukan Nabi Isa kepada kaumnya’’. Berkata AsSyeikh Al Kabir Abu Al Ghaits Ibnul Jamil :’’Derajat kami tidak akan menyamai derajat Imam Al Faqihi Muqadam, terkecuali hanya setengahnya saja’’. Dalam salah satu kalimat yang ditulisnya kepada gurunya Syeikh Sa’aduddin, Imam Al Fiqihi Muqadam bekata ‘’Aku telah di Mi’rajkan ke Sidratul Muntaha sebanyak tujuh kali ( dilain riwayat dua puluh tujuh kali).

Imam Mursyid Tarekat Alawiyah

Dialah yang mula-mula dijuluki Al-Faqih Al-Muqadam, fakih yang diunggulkan.

Dalam mengambil sanad keilmuan dan tarekat, ia mengambil dari dua jalur. Jalur pertama dari orangtua dan pamannya, sementara orangtua dan pamannya mengambil dari kakeknya, dan terus sambung-menyambung, akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW.

Jalur kedua dari seorang ulama besar pemuka sufi, Syekh Abu Madyan Syu’aib, melalui dua muridnya, yaitu Abdurrahman Al-Maq'ad Al-Maghrabi dan Abdullah Ash-Shaleh Al-Maghrabi. Syekh Abu Madyan mengambil dari gurunya, gurunya mengambil dari guru sebelumnya, dan terus sambung-menyambung, akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW.

Mengenai kesufian beliau. Adapun sumber penisbatan Al-Khirqah dan Silsilah Isnad Didalam Kesufian Beliau Al Faqihi Muqadam, diterangkan mengambil sanad Khirqah Kesufian berasal dua jalur, salah satu dari jalur ayah-kakek beliau ( Ahlulbait ), yakni beliau dididik dan menerimanya dari ayah beliau, Ali bin Muhammad dan dari paman beliau, Alwi bin Muhammad, keduanya menerima dari ayahnya Muhammad Syahib Mirbath, beliau menerimanya dari ayahnya, Ali Khali’ Qasam, beliau menerimanya dari ayahnya, Alwi Shahib Samal, beliau menerimanya dari ayahnya, Ubaidillah, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam Muhajir Ahmad bin Isa, beliau menerimanya dari ayahnya, Isa an-Naqib, beliau menerimanya dari ayahnya, Muhammad, beliau menerimanya dari ayahnya, Ali al-Uraidhi, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam Ja’far as-Shoddiq, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam Muhammad al-Baqir, beliau menerimanya dari ayahnya, Ali Zainal Abidin, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam al-Hussein dan dari pamannya al-Imam al-Hassan, keduanya menerima dari kakeknya Nabi Muhammad SAW, juga dari ayahnya al-Imam Ali bin Abi Thalib sedangkan Nabi SAW menerimanya dari Allah seperti yang beliau katakan:

“Aku dididik oleh Tuhanku dan ia mendidikku dengan sebaik-baik didikan”.

Sedang jalur yang ke dua, Beliau Al Faqihi Muqadam diterangkan mengambil sanad Khirqah Kesufian di bawah usia 20 tahun, dari seorang Sufi terkemuka yang berasal dari Maroko. Selengkapnya yakni; lewat Abu Madyan al-Maghribi (Syeikh Syu’aib bin Husain Al Anshari) yang wafat di tahun 594 H, dengan perantaraan Abdurrahman Al-Muq’ad dan Abdullah As-Shaleh. Sedangkan Syeikh Syu’aib Abu Madyan menerimanya dari Syeikh Abu Ya’za al-Maghribi, beliau menerimanya dari Syeikh Abul Hasan bin Hirzihim atau yang dikenal dengan nama Abu Harazim, beliau menerimanya dari Syeikh Abu Bakar bin Muhammad bin Abdillah ibnl Arabi dan Al-Ghadi Al-Mughafiri. Sedangkan ibnl Al-Arabi menerimanya dari Syeikh Al Imam Hujjatul Islam Al-Ghadzali, beliau menerimanya dari gurunya, iaitu Imam al-Haramain Abdul Malik bin Syeikh Abu Muhammad Al-Juwaini, beliau menerimanya dari ayahnya, Abu Muhammad bin Abdullah bin Yusuf, beliau menerimanya dari Syeikh Abu Thalib al-Makki, beliau menerimanya dari Syeikh Syibli, beliau menerimanya dari Syeikh Junaid Al Baghdadi, beliau menerimanya dari pamannya, yaitu As-Sirri As-Siqthi, beliau menerimanya dari Syeikh Ma’ruf al-Karkhi, beliau menerimanya dari gurunya, Syeikh Daud at-Tho’i, beliau menerimanya dari Syeikh Habib al-’Ajmi, beliau menerimanya dari Imam Hasan al-Basri, beliau menerimanya dari Imam Ali bin Abi Thalib, beliau menerimanya dari Rasulullah SAW, beliau menerimanya dari malaikat Jibril, dan beliau menerimanya dari Allah Ta’ala.

Karena kebanyakan orang jika ia mendalami tashawwuf maka ia lebih kurang meninggalkan dakwah dan mengajar ilmu syariah, atau begitu pula sebaliknya jika ia menjadi ulama, sibuk dengan hadits dan ilmu syariah dan meninggalkan ilmu kesucian hati dan ibadah (tadzkiyatul Nafs)

maka Thariqah alawiyyah memadukan keduanya, ilmu syariah yang kuat, tashawwuf yang kokoh pula.

al-Imam al-Faqih al-Muqaddam.ra memelopori perpaduan ilmu syariah dan haqiqah, kembali kepada masa para sahabat dan Tabiin.

Beliau memadukan syariah dan haqiqah pada Thariqah Alawiyyah ini, sedangkan umumnya pada semua Thariqah tidak demikian, mereka mengkhususkan pada tasawwuf dan dzikir, berbeda dengan Thariqah alawiyyah yang tetap mendalami syariah, tidak meninggalkan kesibukan syariah, bahkan mewajibkan taklim (belajar dan mengajar) fiqih, hadits, nahwu, ushul, tafsir dll pada murid muridnya, dan para guru-gurunya (mursyid) tetap mengajar nahwu, hadits, fiqih, ushul, tafsir, sibuk dengan ummat, berdakwah, dan kesibukan syariah lainnya, sedangkan umumnya thariqah lain adalah menyendiri (Tajarrud) dari pergaulan, menyingkir dari keramaian, dan menyibukkan diri untuk selalu berduaan dengan Allah swt dalam dzikir, dan larut dalam mabuk dzikrullah, misalnya dengan menari, mematikan lampu, melompat lompat sambil berpegangan tangan (wherling-darwis-hadhrah dll).

Murid-muridnya kebanyakan lepas dari memperdalam syariah, dan guru-gurunya pun kebanyakan meninggalkan aktifitasnya dalam mengajar syariah, dan sibuk dalam menuju pada dzikir dan dzikir.

Mengenai kedudukan thariqah lainnya yang juga dari dzurriyyah atau pun bukan dzurriyyah masing masing memiliki kemuliaan disisi Allah swt, namun dari sisi kelebihan Thariqah alawiyyah adalah perpaduan dan keselarasan Syariah dan Haqiqah, dan sebenarnya hal inilah yang mutlak selaras dengan Sunnah sang Baginda Nabi saw dan syariah.

Bisa dilihat para Imam-Imam Thariqah Allawiyyah, semacam Imam Haddad, Imam Seggaf, Imam Aidrus, dan ratusan lainnya, mereka kesemuanya telah sampai pada derajat Al Hafidh, yaitu hafal lebih dari 100 ribu hadits berikut sanad dan hukum matannya, atau Hujjatul Islam, yaitu hafal lebih dari 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, mereka fuqaha, mereka berdakwah, mereka ulama, mereka mengajar ilmu dan murid muridnya pun dididik untuk mengikuti sunnah, berbeda dengan umumnya thariqah lain, mereka berpakaian sunnah hanya saat dzikir bersama saja, selepas itu mereka berpakaian biasa dan tenggelam dalam kesibukan duniawi, dan jika ditanya tentang hukum-hukum syariah mereka umumnya buta, karena guru-gurunya atau pun badal/wakil/deputy tidak mendidik mereka syariah dan sunnah, hanya dzikir dan dzikir dan pendidikan syariah tak ada atau sedikit terlihat pada bimbingan thariqah mereka. Namun tentunya kesemua thariqah adalah mulia di sisi Allah SWT dan Rasul-Nya SAW, terkecuali yg menyimpang dari syariah Rasul saw.

Thariqah Allawiyah sangat menekankan mengenai pentingnya menuntut ilmu. Para Habaib Mursyid guru di Hadramaut ketika bercerita mengenai para karomatul awliya', yang ditekankan adalah aspek mujahadah mereka dalam mencari Ilmu dan menundukkan hawa nafsu, dan tidak banyak berbincang mengenai karomatul awliya' belaka.

Sedangkan aspek yg kedua yang juga sangat ditekankan adalah upaya Pensucian Hati. Bukan hanya pembersihan hati. Hal ini dilakukan dengan berbagai amal zahir dan batin, dan dengan bimbingan seorang syeikh yang mumpuni. Para orang tua di sana menegakkan sunnah Nabi hingga yg sekecil-kecilnya dan menjadi Contoh Hidup dari Cermin Nubuwwah. Hidup mereka diabdikan untuk mendekatkan diri dan meraih setinggi-tinggi kedudukan disisi Allah Ta'ala. Sehingga memiliki Hati yang Jernih (Shofi).

Beliau.ra sangat mementingkan Pensucian Batin. Seorang yang berniat baik dan lama berada dalam didikan seorang Mursyid yang mumpuni, maka ia akan berada dalam keadaan terbebas dari penyakit: iri, dengki, benci, ujub, takabbur, riya, pamer, su’uzann, dan berbagai penyakit hati lainnya. Dan perlahan-lahan dirinya terisi oleh cahaya sifat-sifat yang mulia: sabar, cinta, rahmah, mudah memaafkan, menanggung gangguan, rendah hati, merasa dirinya orang yang paling rendah dihadapan Allah Ta'ala, mahabbah, dst.

Mereka tak sanggup mencaci maki karena hati mereka putih bercahaya. Perbuatan maksiat membuat mereka sakit, sehingga dirasakan berat untuk memulainya. Mengajarkan Mahabbah dan menjauhkan kebencian.


Thariqahnya adalah kefakiran yang hakiki dan kema'rifatan yang fitrah. Beliau wafat pada tahun 653 H/1233 M, akhir dari bulan Dzulhijjah. Beliau disemayamkan di pekuburan Zanbal, di kota Tarim. Banyak masyarakat yang berduyun-duyun menghadiri prosesi pemakaman beliau. Beliau meninggalkan 5 orang putra, yaitu Alwi, Abdullah, Abdurrahman, Ahmad dan Ali.

Radhiyallohu anhu wa ardhah…

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy, dan Alawiyin, Asal Usul & Peranannya, karya Alwi Ibnu Ahmad Bilfaqih, dari kitab Manaqib Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad Bin Ali Ba'Alawi dan Wafayat A'yanil Yaman, oleh Abdul Rahman bin Ali Hassan]

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa'alaa aalihi wa shohbihi wa bariik wa salim

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment