Monday, July 2, 2018

Makna Hamba Allah Yang Di Tinjau Dari Kalimat Habib Umar Bin Hafidz Ketika Dalam Pembukaan Khutbah

Rate this posting:
{[['']]}

Makna Hamba Allah Yang Di Tinjau Dari Kalimat Habib Umar Bin Hafidz Ketika Dalam Pembukaan Khutbah

Oleh : KH. DR. Abdi Kurnia Djohan

Ada satu kalimat dari al-Allamah al-Habib Umar ibnu Hafidz hafidzohullah, yang masih berputar-putar di memori kepala ini. Kalimat yang beliau ucapkan itu seperti menggambarkan "kedekatan" beliau terhadap Rasulullah. Kalimat itu diucapkan beberapa kali setiap beliau membaca syahadatain di dalam pembukaan khutbah. Ini yang saya ingat. Pada waktu beliau mengucapkan:

وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدِنَا وَ مَوْلَانَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ

Dan aku bersaksi bahwasanya pemimpin dan junjungan kita, Nabi Muhammad, adalah hamba-Nya...

Beliau menambahkan dengan kalimat:

اَلَّذِى جَلَسَ كَعَبْدٍ، وَأَكَلَ كَعَبْدٍ، وَأَكَلَ مَعَهُ عَبْدٌ، وَشَرِبَ كَعَبْدٍ، وَاجْتَمَعَ مَعَ عَبْدٍ

Yang duduk seperti seorang hamba sahaya (duduk), yang makan seperti seorang hamba sahaya makan, yang makan bersamanya hamba sahaya, yang minum seperti hamba sahaya minum dan berkumpul bersama hamba sahaya...

Bagi saya pribadi, kalimat yang beliau ucapkan itu penuh makna dan menjelaskan makna gelar "hamba Allah" yang disandang oleh Rasulullah.

Melalui kalimat itu, seakan Habib Umar ingin mengatakan bahwa sikap tawadlu' (rendah hati) merupakan ciri khas hamba Allah.

Penjelasan Al-Habib Umar di atas seperti menjabarkan karakteristik ibadurrahman yang terdapat di dalam ayat:

(وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا)

[Surat Al-Furqan:63]

Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam,”

Masya Allah, begitu dalamnya makna "hamba Allah" jikalau demikian.

Lalu, yang menjadi pertanyaan, jika manusia yang seharusnya bersikap seperti seorang hamba, tapi perilakunya semena-mena, bahkan merasa dirinya paling berkuasa, apakah pantas menyandang gelar sebagai hamba Allah/hamba Tuhan?
  
Sumber : KH. DR. Abdi Kurnia Djohan
 
Wallahu a'lam Bishowab
 
Allahuma sholii a'laa sayyidina muhammad wa a'laa aalihi wa shohbihi wa bariik sa salim
   
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment