Wednesday, July 4, 2018

Rendah Hatilah, Tapi Jangan Rendah Diri

Rate this posting:
{[['']]}

" Rendah Hatilah, Tapi Jangan Rendah Diri " ( Gus Mus )

Rendah Hati bersumber dari hati yg Tawadhu.
Rendah Diri bersumber dari hati yang Riya atau ujub.

Rendah hati adalah saat kita mengenali diri kita rendah(banyak dosa dan lemah). Dan kita tidak marah dengan kenyataan/kebenaran tersebut, kita menerima dengan lapang dada kebenaran tersebut, konsekuensinya kita ngga akan marah jika direndahkan, dihina oleh orang lain. (selanjutnya kita tobati ke Allah).

Sementara orang rendah diri(minder), adalah orang yg mengenali kebenaran mengenai maksiat dan kelemahan dirinya, TAPI dia tidak suka dengan kebenaran itu, di benci dengan kebenaran tersebut, karena aslinya dia pengen jadi orang suci serta bisa mengatur hasil(punya kekuasaan dan kekuatan seperti Allah).

Ini yang sangat penting untuk kita pahami terutama jika kita punya anak, Jika anak kita bersedih karena mengenali kebenaran(apakah kesalahannya ataukah karena kelemahannya mendapat keinginannya/gagal) . Saat dia merasa minder.

MAKA cara membantu anak kita untuk kembali tenang(hati ke tengah lagi) adalah dengan mendampinginya MENERIMA KENYATAAN saat itu. JANGAN SEKALI-KALI malah alihkan perhatiannya pada kesenangan duniawi, yaitu menghiburnya dengan membelikan hadiah2 mahal, atau mengajak makan2 di tempat yg dia suka, atau mengajak jalan dan rekreasi.

Cara demikian adalah cara orang yg cinta dunia, cara orang barat, ITU mendidik anak kita menjadi materialistis.

Pertama yang harus kita lakukan adalah Kita sendiri harus rendah hati dulu, yaitu kita menganggap biasa saja, bahkan kita menganggap baik kegagalan/kesalahan yang ditemukan oleh anak kita. KARENA dia mendapat kesempatan untuk menundukkan hawa nafsunya pada kebenaran.

Kita tawadhu beneran(rendah hati) adalah sangat penting, karena ini mencegah kita untuk panik saat melihat anak kita tersiksa menerima kebenaran/kenyataan.

Sesudahnya, kita akan berinteraksi dengan anak kita secara alami menularkan rasa tawadhu kita pada mereka, yaitu rasa bahwa kebenaran(kesalahan dan kegagalan) adalah hal yg biasa dan manusiawi serta lumrah. Tidak harus marah dan melawan saat kenyataan itu diperlihatkan pada kita. selanjutnya setelah bisa menerima kenyataan, baru kita ajarkan dia untuk tobat pada Allah dan mengenali kesalahan2nya lalu berdasar dari informasi mengenai dirinya tersebut, kita dampingi dia membuat rencana pencegahan agar kesalahan (faktor kesalahan dari diri sang anak) tidak terulang lagi.

Sementara untuk kegagalan, maka kita ajrkan anak untuk lapang dada menerima kegagalan dan husnudhon bahwa itu datang dari sisi Allah,dan insyaAllah baik bagi sang anak.. Kalau bisa dampingi terus anak kedepannya untuk melihat hikmah2 dari kegagalan tersebut.

Tulisan : Diah Listyani

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholi 'ala muhammad nabiyil umiyi wa 'alihi wa shohbihi wa salim

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment