Sikap Kita Terhadap Koruptor



SIKAP KITA TERHADAP KORUPTOR

Habibana Munzir bin Fuad Almusawa Alaihi Rahmatullah:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa barangsiapa yang menutupi ( aib ) seorang muslim di dunia (tidak membicarakannya), maka Allah subhanahu wata’ala akan menutup aib atau dosa-dosanya di dunia dan di akhirat.

Namun yang terjadi di zaman sekarang, justru aib-aib orang lain dikupas habis dan dipaparkan di khalayak ramai, bahkan terkadang orang yang tidak memiliki aib sekalipun akan dilontarkan kepadanya, atau mungkin hanya sekedar dugaan saja, seperti demo yang sering terjadi tentang tuduhan terhadap orang lain akan perbuatan korupsi yang kemudian dengan cepat meminta untuk menangkap dan mengadilinya atau memasukkannya ke dalam penjara.

Berkaitan dengan permaslahan korupsi dan demo, seperti yang tadi telah disampaikan oleh ustaz Musthafa, bahwa jika kita menuduh orang lain sebagai koruptor terhadap harta maka setiap diri kita adalah seorang koruptor terhadap Allah subhanahu wata’ala, mengapa demikian?,

Karena setiap waktu yang diberikan oleh Allah kepada kita sebagai makhlukNya dalam kehiduapn ini, hanyalah untuk beribadah kepadaNya, namun berapa banyak waktu yang telah kita lewatkan untuk hal-hal diluar ibadah bahkan untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ( الذاريات : 56 )

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” ( QS. Adz Dzaariyaat : 56 )

Bentuk ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala tidaklah terbatas dalam perbuatan tertentu saja namun begitu beragam dan sangat banyak bentuknya, seperti berbudi pekerti yang baik kepada kedua orang tua, kepada tetangga dan kerabat, kepada teman, serta kepada semua manusia baik yang seagama atau yang berbeda agama dengannya.

Hal-hal demikian yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita, adapun lepas dari perbuatan tersebut maka sungguh hal itu adalah termasuk ke dalam perbuatan korupsi terhadap Allah subhanahu wata’ala.

Jika kita perbuat hal-hal yang diluar ibadah selama satu detik maka berarti kita telah melakukan korupsi selama satu detik, jika selama satu menit, maka kita telah melakukan korupsi selama satu menit, jika satu hari maka kita telah melakukan korupsi selama satu hari, hukuman seorang koruptor sehari di neraka bagaikan hukuman 100 tahun di dunia, maka waspada dan berhati-hatilah akan hal ini.

Dan janganlah begitu cepat menggunjing orang yang berbuat korupsi karena bisa jadi kita juga termasuk orang yang korupsi kepada Allah subhanahu wata’ala, dan juga perbuatan menggunjing orang lain maka kita juga akan mendapat bagian dari dosanya, selama kita bukanlah orang yang berhak untuk menyelesaikan atau menangani perbuatan korupsi itu, maka janganlah kita ikut serta menggunjing atau menghakimi mereka yang berbuat korupsi. Perbuatan menggunjing sangat dilarang oleh agama Islam, sebagaima Allah subhanahu wata’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ ( الحجرات : 12 )

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik terhadap hal itu. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” ( QS. Al Hujurat : 12 )

Maka daripada menggunjing orang lain, lebih baik kita gunakan lisan kita untuk berdzikir atau melakukan perbuatan baik dan mulia untuk sesama. Tidak semua dari kita mampu dan bisa melakukan hal itu, namun kita selalu berusaha untuk mencapainya, sebab usaha kita untuk mencapai hal tersebut dilihat oleh Allah subhanahu wata’ala, dan usaha untuk mencapai kebaikan adalah merupakan kebaikan.

-----------------------------------------------------------------------
*tambahan admin: tausiyah yang senada dengan ini dulu yang membuat admin diam merenung sambil menitikan air mata di Majelisnya Beliau, karena saat itu admin sedang benci bencinya terhadap koruptor hampir tercita rasa putus asa terhadap pemerintahan...

Alhamdulillah, beruntungnya disaat kita punya Guru Panutan... Guru yang mempunyai sanad bersambung kepada Rasulullah.. Guru yang cinta kepada Rasulullah, Guru yang punya keikhlasan berdakwah, guru yang mengajarkan jalan kebaikan (bukan permusuhan) menjadi angin sejuk ditengah udara panas, yang menuntun kita bagai mana kita bersikap sesuai tuntunan Rasulullah Saw, yang tidak pernah lakukan dan menciptakan kemunkaran sehingga hari hari kita penuh dengan keluhuran

siapapun mereka yang memiliki sifat seperti itu, cintailah dan ikutilah mereka....

Wallahu a'lam Bishowab

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa'ala alihi washobihi wasalim

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama