Tuesday, September 11, 2018

3 Mazhab Aqidah Ahlusunnah Wal Jama'ah ( Fikriyah, Atsariyah, Sufiyah )

Rate this posting:
{[['']]}
syeikh zuhair nasir, yang menguasai 3 jalur ilmu dalam memahami aqidah

3 MAZHAB AQIDAH AHLUSUNNAH WAL JAMA'AH ( FIKRIYAH, ATSARIYAH, SUFIYAH )

Oleh : Ustadz Fauzan Inzaghi

Mazhab dari kata zahaba, yang berarti jalan. Dalam konteks aqidah, mazhab adalah jalan yang di tempuh untuk mengetahui aqidah yang benar. Toh aqidah cuma satu, kenapa bisa berbeda jalannya? Ini berkaitan langsung dengan cara memperoleh pengetahuan atau yang dinamakan dengan madarik al-ilm. secara garis besar cara memperoleh info/pengetahuan ada 3 jalur.

Jalur pertama jalur akal, tapi apa standarnya? disini harus dipakai ilmu timbangan akal(mantiq) atau matematika, contoh ibu/induk lebih tua dari anak, akal tidak mampu membayangkan kalau ada anak lebih duluan ada dari ibu. Tentu ada pembahasan lebih mendetail itu hanya contoh simpel. Apakah kita bisa mengenal aqidah yang benar melalui akal? Iya, itulah yang dilakukan mazhab asyary-maturidi. Makanya dalam kitab-kitab asyairah-maturidiyah dipenuhi dengan penjelasan logis

Jalur kedua adalah kabar yang terpercaya, yaitu kabar yang benar. Kamu belum pernah ke eropa, tapi kamu yakin eropa itu ada, pengetahuan dari mana itu? Ya dari ilmu penerimaan kabar, dalam khazanah ilmu islam dikenal dengan mustalah hadis. Setelah kita percaya bahwa seorang adalah nabi dan nggak mungkin salah maka selama kabar itu periwayatannya benar maka kita akan menerimanya. Nah yang sangat kental melalui jalur ini adalah mazhab atsariyah. Makanya dalam buku mereka dipenuhi dengan dalil.

Jalur ketiga adalah jalur hissy(panca indeta). Kamu liat aku lagi ngupil, lalu kamu punya pengetahuan baru kalau "aku sedang ngupil", melalui apa kamu mendapatkan info kamu? Ya dari indera kamu yaitu mata. Bisa nggak kita tahu tentang aqidah yang benar melalui indera kita? Kalau orang biasa sih nggak bisa, tapi ada orang-orang tertentu bisa, ini dinamakan kasyaf, dimana pintu ghaib dibukakan, sehingga inderanya bisa melihat apa yang nggak dilihat orang biasa, baik itu melalui latihan(riyadhah annafs) seperti sebagian para waly atau melalui pemberian ilahy(mawhibah) seperti para nabi. Apakah ada yang melalui jalur ini dalam mencapai aqidah yang benar? Ada!! Mereka adalah ahli tasawuf. Buku seperti al-mankubat dan futuhat makiyah adalah salah satu rujukan utama.

Gak ada jalur cinta disini, karena jangan ucapkan selamat jalan, tapi ucapkan sampai jumpa, diujung jalur cinta kita bertemu kembali(quote by raj/surinder di rab ne bana di jodi). Intinya cinta itu gak jelas standarnya jadi bukan menjadi standar ilmu. Jika ada yang mencari kebenaran melalui cinta yang akan dia dapati adalah menuruti hawa nafsunya.

Mana jalur yang benar? Selama yang dilewati dengan benar dan dasar-dasar ilmu ketiganya yang benar maka akan mencapai hasil yang sama, toh pengetahuan yang ingin dicapai satu. Contoh "jumlah ketiga sudut segitiga lurus itu bukan180 derajat". Melalui aqal hal ini gak bisa dibayangkan, melalui kabar belum pernah ada kabar yang benar ada seperti itu, dari kenyataan hidup sehari-hari gak pernah kita lihat dengan indra kita. Jadi pengetahuan yang benar adalah "tidak ada segitiga lurus yang jumlah sudutnya melebihi atau kurang dari 180 derajat". Dalam aqidah? Sama juga. Makanya imam sarhandy mengatakan "setiap pintu ghaib dibukakan kepadaku yang kudapati adalah kebenaran alquran denhan pemahaman aqidah yang aku pelajari dulu".

Tapi jangan salah ketiganya gak bisa dipisahkan, dalam buku mazhab aqal juga ada dalil sebagai syawahid, dalam mazhab naql(kabar) juga banyak logika sederhana, dalam mazhab tasawuf(dzawq) juga ada dalil aqly dan naqly. Toh pada intinya kebenaranya satu cuma jalan berbeda? Kenapa? Karena lingkungan dan tantangan yang dihadapi ulama berbeda.

Dengan orang awam muslim yang nggak terlalu kritis atau cara berpikir simpel terutama yang sudah yakin betul kepada alquran dan as-sunnah, cukup memberi dalil dan logika sederhana. Adapun pada para akademisi yang kritis atau nonmuslim yang belum percaya bahwa alquran benar adanya maka pakailah logika mazhab aqly, adapun pada orang pelajar yang sudah mempelajari keduanya dan ingin terus memperbaiki diri maka yang diberikan adalah mazhab tasawuf. Atau tantangan lain seperti banyak muncul aqidah menyimpang atau kekurangan dalil maka pakai mazhab aqli, untuk targhib dan tarhib awam pakai dalil, atau untuk mengobati pelajar yang banyak kali berdebat masalah kalamiyah(aqidah) sampai lupa tujuan dia mempelajari adalah untuk memperbaiki diri maka pakai mazhab tasawuf.

Jadi mana yang lebih baik? Semua baik toh semua benarkan? Yang terbaik adalah tahu mana penempatan yang tepat untuk setiap mazhab, dan siapa yang tengah dihadapi, kalau ngomong sama orang awam pake istilah mazhab aqly seperti jauhar, ardh, nazariyah tawalud kalau nggak gila maka jadi atheis dia. Kalau ngomong sama nonmuslim pakai dalil hadis maka akan jadi bahan ketawaan. Kalau ngomong sama pelajar agama yang suka debat pake mazhab naqly atau aqly sia-sia mereka lebih pintar dari kamu, jejali dia dengan tasawuf biar hati dia gak keras. jadi masing-masing ditempatkan pada tempatnya. Ini dia maksud dari kata-kata ulama "mazhab salaf lebih selamat, mazhab khalaf lebih cocok". Ini cuma masalah cara memahami dan menghadapi jangan fanatik kali lah, toh tujuannya sama. Yang jadi masalah adalah jika cinta dipisahkan oleh jarak alias LDR, lengkapnya Lol Damn Relationship

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment