Senin, 03 September 2018

Biografi Zainab Al Kubro ( Cucu Wanita Rasulullah SAW Yang Tabah )

Rate this posting:
{[['']]}


BIOGRAFI ZAINAB AL KUBRA R.A ( CUCU WANITA RASULULLAH SAW YANG TABAH )

ZAINAB AL KUBRA R.A. , Seorang wanita cucu Rasulullah SAW, yang begitu tabah dan tetap tegar menghadapi ujian dan cobaan, demi kemuliaan keturunan Rasulullah SAW.

Menulis tentang Sitti Fatimah Azzahra dengan meninggalkan begitu saja kedua puterinya, rasanya memang kurang adil. Apalagi kalau yang dibicarakan itu menyangkut puterinya yang bernama Zainab Al-Kubra. Ia tercatat dalam sejarah Islam sebagai wanita yang tabah dan gagah berani Seperti diketahui, di samping kedua puteranya yang termasyhur itu, dalam perkawinannya dengan Imam Ali r.a., Sitti Fatimah Azzahra juga diberkahi oleh Allah s.w.t. dengan dua orang puteri. Mereka itu adalah Zainab Al-Kubra dan Zainab Ash-Sugra. Bersama dengan Al-Hasan dan Al-Husain r.a., kedua wanita itu sudah sejak masa anak-anak ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh ibundanya. Dalam usia yang masih muda sekali ini, sesaat sebelum wafat Sitti Fatimah r.a. telah berpesan khusus kepada Zainab Al-Kubra agar ia menjaga baik-baik kedua saudara lelakinya itu.

Memang, beban yang terberat bagi Sitti Fatimah Azzahra sebelum meninggal dunia rupanya adalah keempat anaknya yang masih kecil-kecil itu. Dikisahkan bahwa sesaat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir Sitti Fatimah r.a. tak dapat menahan kepedihan hatinya. Ia harus memenuhi panggilan Ilahi pada usia yang begitu muda, 28 tahun. Sedangkan anak-anaknya belum satu pun yang mencapai usia sepuluh tahun.

Sesudah itu pada usia masih remaja, bahkan masih anak-anak, Zainab Al-Kubra sudah diserahi tanggung jawab untuk menjaga adik-adik dan merawat kakak-kakaknya. Tidak banyak yang bisa diungkapkan mengenai peran masa anak-anak yang dilakukan oleh kedua puteri Sitti Fatimah Azzahra itu. Riwayat-riwayat hanya mengungkapkan kehidupan dan perkembangan Al Hasan dan Al Husain r.a. Hal ini tidak perlu diherankan, karena dunia kehidupan Arab yang keras jarang sekali mengedepankan peran seorang wanita. Jadi walaupun Zainab Al-Kubra dan Zainab Ash Sugra termasuk dalam lingkungan keluarga sangat mulia nama mereka jarang sekali ditonjolkan.

Baru beberapa tahun kemudian setelah Zainab Al Kubra meningkat remaja, maka peranannya diungkapkan oleh para periwayat. Sejarah akhirnya mencatat namanya dan mengakui peran penting yang dijalankan oleh Zainab Al Kubra dalam melindungi kesinambungan generasi penerus keluarga RASUL Allah s a w. Bagaimana pun juga, walau Zainab Al Kubra seorang wanita, tetapi ada darah kemuliaan dan kesucian yang mengalir dalam tubuhnya. Sejak masa anak-anak ia telah turut memikul tanggung jawab kehidupan rumahtangga Imam Ali r.a. yang ditinggal wafat oleh Sitti Fatimah Azzahra. Zainab Al Kubra dengan tekun dan tabah melaksanakan amanat yang ditinggalkan oleh bundanya sesaat sebelum wafat. Dengan penuh tanggung jawab dirawatnya adik-adik dan kedua kakaknya itu. Boleh dikatakan ia tak pernah berpisah jauh dari kedua saudara lelakinya itu.

Tidak ada pengungkapan mengenai kelanjutan kehidupan Zainab Ash-Sugra. Sedangkan tentang Zainab Al Kubra justru makin menonjol setelah Al-Husain r.a. gugur di Karbala. Wanita inilah pada usia sudah lebih setengah abad tanpa mengebal gentar sedikit pun sedia mati untuk menyelamatkan keturunan langsung Rasul Allah s.a.w. Ia menjadi saksi hidup tentang siksaan yang dialami oleh saudara lelakinya itu sampai Al-Husain r.a. meninggal dengan gagah berani.

Tragedy karbala.

Ketika Sahabat Salman Al-Farisi menjenguk Sayyidatuna Zainab yang baru lahir dan mengucapkan selamat kepada orang tuanya, beliau menemukan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, ayahanda Sayyidatuna Zainab, bukannya bahagia, melainkanmenangis dalam duka. Dengan terbata-bata Sayyidina Ali bin Abi Thalib menceritakan kembali "ramalan" Rasulullah saw mengenai nasib Sayyidatuna Zainab di masa kemudian sebagai saksi utama peristiwa pembantaian keluarga Rasulullah saw di Padang Karbala, Irak.

Sayyidatuna Zainab Yang masih kecil, juga merasakan bagaimana orang tuanya memperlakukannya secara istimewa. Hatinya yang bersih menangkap makna butiran air mata di sudut mata ayah bundanya. Ketika baru berusia lima tahun, beliau sudah mendapat latihan ketabahan. Misalnya, menyaksikan ibundanya dengan setia berada disamping Rasulullah saw, kakeknya tercinta, yang tengah sakit. Sampai suatu hari hari, beliau mendengar segenap warga Madinah menangis.

Kala itu beliau melihat serombongan Sahabat secara bergiliran menyampaikan penghormatan terakhir kepada kakeknya tercinta, Rasulullah saw. Sayyidatuna Zainab juga melihat orang-orang menggali sebuah lubang di kamar Sayyidatuna Aisyah, neneknya. Gundukan tanah galian itu menumpuk di kiri-kanan lubang itu, sebagian butirannya mengenai baju Sayyidatuna Zainab. Tak lama kemudian, beliau melihat ayahandanya dibantu dua Sahabat yang lain, perlahan-lahan menurunkan jenazah Rasulullah saw kedalam lubang. Kemudian tubuh mulia yang suci itu ditutupi tanah dan pasir.

Berbagai peristiwa kemudian terjadi. Namun tampaknya Sayyidatuna Zainab tidak memahami semuanya, sebab yang paling beliau cemaskan ialah kesehatan ibundanya. Sejak Rasulullah saw wafat, ibundanya selalu tampak murung, wajahnya semakin kuyu, matanya sembab dan lebih sering mengasingkan diri. Sayyidatuna Zainab pernah melihat ibundanya mengambil sekepal tanah di makam datuknya, lalu mengusapkannya ke wajahnya sambil berlinang air mata.


Sekitar enam bulan setelah kakeknya wafat, apa yang dicemaskannya terjadi; Asma binti Umaisy menemukan Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra, ibunda Sayyidatuna Zainab wafat di sebuah rumah disamping masjid dan maqam datuknya. Untuk kedua kalinya, Sayyidatuna Zainab melihat tubuh orang yang dicintainya dimasukkan ke dalam lubang lalu ditimbun tanah dan pasir.

Dalam usia sekitar lima tahun, beliau sudah kehilangan dua orang yang sangat dicintainya; kakek dan ibundanya. Kala itu, selain beliau sendiri, di rumah keturunan Rasulullah saw itu masih ada ayahandanya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dua kakak lelaki, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein, serta Adik perempuannya Ummu Kultsum. Setiap kali pulang, Sayyidatuna Zainab menemukan rumah yang sepi.

Beliau tak lagi tertidur di pangkuan ibundanya, ketika malam mulai mendingin, tak lagi mendengar panggilan ibundanya ketika matahari mulai terbit. Namun samara-samar masih teringat wasiat ibundanya untuk merawat kedua kakak lelakinya, Sayyidina Hasan dan Husein serta adik Perempuannya, Sayyidatuna Ummu Kultsum. Tapi, apa yang dapat dilakukannya , kecuali berkumpul dan berpelukan dengan mereka, sementara ayahandanya berusaha menghibur mereka.

Sebelum genap berusia 10 tahun, Sayyidatuna Zainab sudah bertindak sebagai ibu bagi abang dan adiknya, beliau tampak tabah, lembut, rajin, dan penuh kasih sayang. Dan akhirnya menjelang dewasa, ayahandanya memilihkannya seorang lelaki shaleh dan dermawan, Abdullah bin Ja'far. Pasangan ini melahirkan tiga putra dan dua putri. 

Belum puas mengecap kebahagiaan, musibah mengguncang rumah tangga mereka, Sayyidatuna Zainab menyaksikan bagaimana ayahandanya, setelah diangkat sebagai Khalifah, tak henti-hentinya bertempur. Sampai suatu hari, tak lama setelah adzan subuh, beliau mendengar hiruk pikuk di masjid " Tangkap pembunuh! Tangkap pembunuh!"

Betapa miris ketika dilihatnya ayahandanya diusung dengan wajah berlumuran darah. Segera Sayyidatuna Zainab teringat percakapan ayahandanya dengan Sayyidatuna Ummu Kultsum, adiknya, tiga hari sebelumnya; 
"Anakku, tinggal sebentar lagi Ayah bersamamu" kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. 
"Mengapa ayah?" Tanya Sayyidatuna Ummu Kaltsum kaget.

"Aku bermimpi bertemu Rasulullah saw. Beliau mengusap debu dari wajahku, sambil bersabda; "Ali, jangan cemas. Engkau telah melaksanakan apa yang harus engkau lakukan" itulah mimpiku semalam" kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw.

Mendadak Sayyidatuna Zainab terguncang, perasaannya kalang kabut dipenuhi hal-hal mencemaskan. Sesaat beliau menyaksikan adiknya Ummu Kultsum, menjerit dan menghardik Abdurrahman bin Muljam, si pembunuh ayahandanya, "Ayahku tidak berdosa, mengapa kau bunuh, hai musuh Allah!".

Sayyidatuna Zainab berlari, lalu memeluk ayahandanya, membanjiri wajah ayahandanya dengan air mata, beliau melihat luka menganga di kepala ayahandanya.

Kala itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw masih bertahan hidup sampai dua hari. Dan setelah itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, Singa Allah yang lahir di dalam Ka'bah itu, wafat menghadap Allah swt dengan tenang.

Setelah Ayahandanya tiada, Sayyidatuna Zainab masih harus menanggung kepedihan tatkala beliau menyaksikan kakak sulungnya, Sayyidina Hasan, wafat karena diracun oleh pengikut Muawiyah. Derita batin rupanya belum lenyap dari nasib Sayyidatuna Zainab, rupanya beliau ditakdirkan Allah swt untuk mendampingi kakaknya, Sayyidina Husein yang syahid di Padang Karbala. Kepala Sayyidina Husein dipancung oleh anggota pasukan Gubernur Kufah, Ubaidillah bin Ziyad, kepalanya ditancapkan di ujung tombak, lalu diarak ke Kufah.

Dalam arak-arakan itu terdapat pula sejumlah wanita dan anak-anak berpakaian kotor berdebu dan compang-camping, Sayyidatuna Zainab dan keluarganya berjalan tertatih-tatih, letih, sedih, takut, geram, campur aduk jadi satu. Mereka digiring seperti kawanan ternak tanpa makan dan minum.

Ahlul Bait

Ketika rombongan memasuki gerbang Kufah, ribuan orang turun ke jalan. Kepada mereka Sayyidatuna Zainab berteriak;

"Hei Kaum Kufah, kaum penipu dan penghianat. Kalian telah membantai orang-orang shaleh keturunan Rasulullah saw, pelanjut keteladanan utama!".

Dihadapan Gubernur Kufah, Ubaidillah bin Ziyad, nyawa Sayyidatuna Zainab nyaris melayang, jika saja si Gubernur tak diingatkan oleh anak buahnya, Amr bin Huraits.

Begitu pula Sayyidina Ali Zainal Abidin, putra Sayyidina Husein yang sempat menantang Ubaidillah binZiyad dengan sangat berani; 

"Engkau memang seorang Fasiq!"

ketika itu Ubaidillah bin Ziyad memerintahkan pengawalnya memenggal cicit Rasulullah saw tersebut; dengan sigap Sayyidatuna Zainab segera meloncat memeluk remaja kemenakaannya itu.
"Belum puaskah engkau menumpahkan darah kami? Demi Allah, aku tak akan melepaskannya. Jika kamu membunuhnya, bunuhlah aku dulu!".

Ubaidillah bin Ziyad pun mengurungkan niatnya. Dengan begitu, Sayyidatuna Zainab telah menyelamatkan pelanjut kepemimpinan Ahlul Bait, keturunan Rasulullah saw. Setelah itu, dengan susah payah Sayyidatuna Zainab digiring menghadap Khalifah Yazid bin Muawiyah di Damaskus, Syria. Dalam iring-iringan itu Sayyidina Ali Zainal Abidin, yang masih remaja, harus memikul belenggu pemasung kedua tangannya di atas tengkuk. 

Ketika itulah Fathimah, putrid Sayyidina Husein yang cantik jelita, nyaris menjadi rebutan antara seorang serdadu Syria dan Yazid. Tentu saja itu menimbulkan kemarahan Sayyidatuna Zainab; 
"Engkau memang penguasa Zalim. Engkau menindas orang dalam kekuasaanmu."

Sayyidatuna Zainab menantang dengan berani. Mendengar itu, Yazid jadi malu. Ia terdiam. Sekali lagi, Sayyidatuna Zainab menyelamatkan kuncup keluarga Rasulullah saw.

Kemudian Gubernur Ubaidillah bin Ziyad memulangkan Sayyidatuna Zainab dan rombongannya ke Madinah. Warga Madinah menyambut mereka dengan ratap tangis, Sayyidina Abdullah bin Ja'far, suami Sayyidatuna Zainab menyongsong istrinya dengan perasaan haru tak terlukiskan. Namun, Sayyidatuna Zainab sekeluarga tak dapat lama tinggal di Madinah, karena beberapa hari kemudian Yazid mengusirnya.

Maka berangkatlah Sayyidatuna Zainab ke Mesir, enam bulan pasca tragedy Karbala. Mereka disambut warga Kairo dengan penuh antusias. Bahkan Maslamah, Gubernur Mesir, memboyongnya ke rumah dinas Gubernur, Al-Hamra al-Quswa, sampai akhir hayatnya. Sejak itu kaum muslimin berduyun-duyun mendengarkan tausiyahnya yang mempesona, dan mempelajari hadits-hadits yang disampaikannya. Akhirnya, Sayyidatuna Zainab Al-Kubra wafat sekitar setahun setelah tragedy Karbala.

Ratusan tahun kemudian, keturunan Sayyidatuna Zainab, yang juga keturunan Rasulullah saw, mendirikan Kesultanan besar, Dinasti Fathimiyyah. Dan pada abad ke 5 Hijriyah, 10 abad silam dibangunlah Universitas tertua di dunia, Al-Azhar.

Sayyidatuna Zainab telah wafat, namun setiap saat puluhan ribu kaum muslimin senantiasa menziarahi makamnya dengan hidmat. Kecerdasan, ketabahan dan keberaniannya merupakan teladan bagi kaum Muslimah sepanjang masa.

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar