Sabtu, 29 September 2018

Katakanlah Kepada Mereka Bahwa Rasulullah SAW Selalu Hidup Sederhana

Rate this posting:
{[['']]}

KATAKANLAH KEPADA MEREKA BAHWA RASULULLAH SAW SELALU HIDUP SEDERHANA

Tatkala sayyidina 'Umar ibn al-Khaththâb r.a. diangkat menjadi Khalifah, ditetapkanlah baginya tunjangan sebagaimana yang pernah diberikan kepada Khalifah sebelumnya, yaitu sayyidina Abû Bakar r.a. Pada suatu saat, harga-harga barang di pasar mulai merangkak naik. Tokoh-tokoh Muhajirin seperti 'Utsmân, 'Alî, Thalhah, dan Zubair berkumpul serta menyepakati sesuatu. Di antara mereka ada yang berkata, "Alangkah baiknya jika kita mengusulkan kepada sayyidina Umar agar tunjangan hidup untuk beliau dinaikkan.

Jika 'Umar menerima usulan ini, kami akan menaikkan tunjangan hidup beliau.

"'sayyidina
Alî kemudian berkata, "Alangkah bagusnya jika usulan seperti ini diberikan pada waktu-waktu yang telah lalu.

"Setelah itu, mereka berangkat menuju rumah 'sayyidina Umar. Namun sayyidina Utsmân menyela seraya berkata, "Sebaiknya usulan kita ini jangan langsung disampaikan kepada 'sayyidina Umar. Lebih baik kita memberi isyarat lebih dulu melalui puteri beliau, Hafshah. Sebab, saya khawatir, 'sayyidina Umar akan murka kepada kita.

"Mereka lantas menyampaikan usulan tersebut kepada sayyidah Hafshah seraya memintanya untuk bertanya kepada sayyidina 'Umar, yakni tentang bagaimana pendapatnya jika ada seseorang yang mengajukan usulan mengenai penambahan tunjangan bagi Khalifah 'Umar.

"Apabila beliau menyetujuinya, barulah kami akan menemuinya untuk menyampaikan usulan tersebut.

Kami meminta kepadamu untuk tidak menyebutkan nama seorang pun di antara kami," demikian kata mereka.

Ketika sayyidah Hafshah menanyakan hal itu kepada ayahandanya sayyidina Umar, beliau murka seraya berkata, "Siapa yang mengajari engkau untuk menanyakan usulan ini?

"sayyidah Hafshah menjawab, "Saya tidak akan memberitahukan nama mereka sebelum Ayah memberitahukan pendapat Ayah tentang usulan itu. Sayyidina  Umar kemudian berkata lagi, "Demi Allah, andaikata aku tahu siapa orang yang mengajukan usulan tersebut, aku pasti akan memukul wajah orang itu."Setelah itu, sayyidina Umar balik bertanya kepada sayyidah Hafshah, istri Nabi saw., "Demi Allah, ketika Rasulullah saw. masih hidup, bagaimanakah pakaian yang dimiliki oleh beliau di rumahnya?"sayyidah Hafshah menjawab, "Di rumahnya, beliau hanya mempunyai dua pakaian. Satu dipakai untuk menghadapi para tamu dan satu lagi untuk dipakai sehari-hari."' sayyidina Umar bertanya lagi, "Bagaimana makanan yang dimiliki oleh Rasulullah?"sayyidah Hafshah menjawab, "Beliau selalu makan dengan roti yang kasar dan minyak samin."sayyidina Umar kembali bertanya, "Adakah Rasulullah mempunyai kasur di rumahnya?"Hafshah menjawab lagi, "Tidak, beliau hanya mempunyai selimut tebal yang dipakai untuk alas tidur di musim panas. Jika musim dingin tiba, separuhnya kami selimutkan di tubuh, separuhnya lagi digunakan sebagai alastidur."'sayyidina Umar kemudian melanjutkan perkataannya, "Hafshah, katakanlah kepada mereka, bahwa Rasulullah saw. selalu hidup sederhana.

Kelebihan hartanya selalu beliau bagikan kepada mereka yang berhak. Oleh karena itu, aku punakan mengikuti jejak beliau. Perumpamaanku dengan sahabatku-yaitu Rasulullah dan Abû Bakar-adalah ibarat tiga orang yang sedang berjalan. Salah seorang di antara ketiganya telah sampai di tempat tujuan, sedangkanyang kedua menyusul di belakangnya. Setelah keduanya sampai, yang ketiga pun mengikuti perjalanan keduanya. Ia menggunakan bekal kedua kawannya yangterdahulu. Jika ia puas dengan bekal yang ditinggalkan kedua kawannya itu, ia akan sampai di tempat tujuannya, bergabung dengan kedua kawannya yang telah tiba lebih dahulu. Namun, jika ia menempuh jalan yang lain, ia tidak akan bertemu dengan kedua kawannya itu di akhirat."(Sumber: Târîkh ath-Thabarî, jilid I, hlm. 164).

Wallahu a'lam Bishowab

ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ
     
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar