Monday, February 24, 2020

Mubaligh Itu Bukan Ulama

Rate this posting:
{[['']]}


MUBALIGH ITU BUKAN ULAMA

KH. Abdi Kurnia Djohan :

Muballigh itu bukan ulama. Karena untuk menyampaikan ceramah agama, yang dibutuhkan adalah kepandaian retorika. Saya pernah bertemu penceramah yang bisa dikatakan ilmunya itu-itu saja. Tiga kali saya ikuti ceramahnya, yang disampaikan itu-itu lagi. Candaannya gak jauh dari selangkangan perempuan. Sampai-sampai saya hapal di kalimat mana dia akan melempar jokenya.

Jika dilihat dari persentasenya, jumlah muballigh saat ini mengalahkan jumlah ulama. Namun sayangnya, masyarakat kita tidak bisa membedakan muballigh dan ulama (alim). Penilaiannya dipukul rata; pintar ndalil, pandai bicara, dan penampilan meyakinkan bak walisanga sudah pasti dianggap alim, walaupun hakikatnya di level muballigh.

Sedangkan seorang alim, jauh dari kesan-kesan publisitas dan glamor seperti itu. Kealiman seseorang tidak diukur dari kepandaiannya beretorika. Buya Hamka dan Muallim Syafi'i Hazami merupakan contoh alim yang tidak pandai beretorika. Muallim Syafi'i Hazami, menurut penuturan beberapa muridnya, jika menyampaikan ceramah tidak menarik. Sebab, beliau tidak pandai memanipulasi ucapan dengan gimmick dan gesture yang menarik perhatian.

Tapi itu bukan berarti Muallim Syafi'i Hazami tidak berilmu. Keilmuan beliau diketahui sangat luas. Beliau dikenal sebagai satu dari sekian banyak ulama Indonesia yang mutafannin (menguasai banyak disiplin dan detail ilmu agama). Fatwa-fatwanya yang diberi judul Taudlihul Adillat (penjelasan dalil-dalil) menggambarkan kedalaman ilmu Muallim Syafi'i Hazami.

Baca Juga :

Biografi & Karomah AlHabib Syechan bin Musthofa Al Bahar Wali yang Jadzab (Nyleneh)

Shalawat Dari Rasulullah SAW Yang Di Berikan Kepada Habib Umar Melalui Mimpinya

Shalawat Penyembuh Penyakit Dari Sayyidina Al-Faqih Al-Muqqadam Muhammad Bin Ali Ra

Khasiat Sholawat Ibrahimiyah Supaya Punya Firasat Yang Tajam


Selain dari kedua ulama di atas, Mbah Kiai Sahal juga dikenal sebagai mutafannin yang tidak pandai retorika. Secara umum, jumlah ulama yang pandai retorika tidaklah banyak. Namun, sekali lagi retorika itu bukan ukuran kealiman. Ukuran kealiman yang pertama adalah konsistensi (istiqomah) dengan ajaran yang disampaikan. Dan ini merupakan parameter yang berat.

Source : Dikutip melalui akun facebook KH. Abdi Kurnia Djohan

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

dakwahislamiyah93@gmail.com
 
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment