Selasa, 17 November 2020

Kisah kelahiran Nabi Isa (Yashu') menurut Al-Qur'an

Rate this posting:
{[['']]}

KISAH KELAHIRAN NABI ISA (YASHU') MENURUT AL-QUR'AN

Oleh : KH. Abdi Kurnia Djohan

(إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ)

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing),

[Surat Ali 'Imran 33]

Al-Zujāj sebagaimana dikutip oleh Imam al-Qurthubi, menafsirkan bahwa makna dari ayat di atas adalah bahwa Allah memilih dari keluarga Ibrahim dan keluarga Imran, menjadi nabi utusan Allah (tafsir al-Qurthubi) Dipilihnya seseorang menjadi nabi atau rasul merupakan nikmat yang sangat besar dari Allah. 

Kisah itu kemudian dilanjutkan dengan nazar dari Hannah, istri Imran sebagai berikut:

(إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ)

Ingatlah), ketika istri Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

[Surat Ali 'Imran 35]

Hanah, istri Imran bernazar seperti itu karena sampai usia lanjut ia belum melahirkan. Adapun pasangan Imran dan Hanah ini dikenal sebagai pasangan yang membaktikan diri mereka terhadap agama. Keduanya dikenal sebagai pemuka agama dan pengurus rumah ibadah di Yerusalem.

(فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ)

Maka ketika melahirkannya, dia berkata, “Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. ”Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.”

[Surat Ali 'Imran 36]

Ayat ini seperti menjelaskan kekecewaan Hanah istri Imran atas kelahiran anaknya yang ternyata perempuan. Pada masa lalu, bangsa Israel menganggap bahwa anak perempuan tidaklah membawa kebanggaan sebagaimana anak laki-laki. Apalagi, Hanah sangat berharap garis keturunan Nabi Sulaiman alaihissalam tidak terputus dengan kelahiran anaknya kelak. 

Namun, Allah berkehendak lain. Hanah melahirkan seorang anak perempuan. Walaupun kenyataan itu getir, sebagai perempuan sholihah, ia harus menerima kehendak Allah tersebut. Diberinya nama anak itu Maryam, yang menurut Prof. Menachim Ali di dalam bahasa Ibrani maknanya adalah getir. Kegetiran itu dikarenakan tidak sesuainya harapan yang diungkap di dalam nazar dengan kenyataan yang diterima.

Keduanya berdoa kepada Allah, sebagai bentuk kepasrahan agar anak yang telah lahir itu dijauhi dari gangguan setan. 

(فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ)

Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.

[Surat Ali 'Imran 37]

Allah menerima doa dari Hanah dan juga suaminya Imran atas anaknya yang baru dilahirkan itu. Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pendidikan anak itu, kedua orang tua Maryam menyerahkan pendidikan Maryam kepada sang paman, Nabi Zakariya. 

Waktu pun membuktikan bahwa Maryam tumbuh sebagai gadis yang shalihah. Keshalihan Maryam itu dibuktikan dengan keajaiban-keajaiban yang didapatinya. Sebagaimana disebut di dalam ayat di atas, Nabi Zakariya mendapati banyak makanan di tempat ibadah Maryam. Dan Maryam mengatakan bahwa itu berasal dari Allah. 

Mengenai kebiasaan Maryam beribadah, Allah menggambarkannya di dalam surat Maryam sebagai berikut:

(وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا)

Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur'an), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis),

[Surat Maryam 16]

Di dalam ayat itu, disebutkan pula tempat ibadah Maryam, yaitu di sebelah timur al-Aqsha.

Di dalam ayat lain, Allah menggambarkan kesalehan Maryam yang menjaga jarak dengan laki-laki yang bukan mahramnya dan selalu mengenakan hijab. 

(فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا)

lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.

[Surat Maryam 17]

Kesungguhan Maryam di dalam beribadah, ditambah lagi dari keberkahan doa kedua orang tuanya, menjadi bukti bahwa Allah telah memilih dari keturunan Imran, orang-orang pilihan. Allah mengutus Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada Maryam. Adapun isi dari wahyu itu adalah: 

(وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ)

Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu).

[Surat Ali 'Imran 42]

(يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ)

Wahai Maryam! Taatilah Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.”

[Surat Ali 'Imran 43]

Dikisahkan di dalam al-Qur'an, bahwa ketika pertama kali berjumpa dengan Jibril dalam rupa manusia, Maryam kaget:

(قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا)

Dia (Maryam) berkata, “Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa.”

[Surat Maryam 18]

Kekagetan Maryam di atas menunjukkan bahwa ia tidak pernah berjumpa dengan laki-laki selain keluarga dekatnya. Ini juga menegaskan bahwa Maryam telah memahami bahwa bercampur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, merupakan perbuatan tercela dan telah menjadi ajaran para nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w.

Jibril pun menenangkan Maryam: 

(قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا)

Dia (Jibril) berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci.”

[Surat Maryam 19]

redaksi yang kurang lebih sama dijelaskan di dalam surat Ali Imran: 

(إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ)

(Ingatlah), ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (fir-man) dari-Nya (yaitu seorang putra), namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),

[Surat Ali 'Imran 45)

Ketika Jibril memberitahukan bahwa ia akan melahirkan seorang anak, Maryam pun menyanggah:

(قَالَتْ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا)

Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!”

[Surat Maryam 20]

Di ayat lain dituliskan:

(قَالَتْ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ)

Dia (Maryam) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.

[Surat Ali 'Imran 47]

Maryam terkejut bukan kepalang mendengar kabar itu. Bagaimana mungkin ia yang selama ini menjaga diri dari pergaulan bebas dengan laki-laki bisa mengalami kehamilan. Di sisi yang lain, tampaknya Maryam sudah larut dalam aktivitas ruhaninya, beribadah dan menjaga kesucian rumah ibadah, sehingga tidak ada padanya keinginan untuk menikah. 

Tapi, Jibril menepis penolakan Maryam itu, seraya berkata: 

(قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ ۖ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا ۚ وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا)

Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan.”

[Surat Maryam 21]

Untuk meyakinkan Maryam, Jibril mengabarkan bagaimana anak itu nanti setelah dilahirkan: 

(وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ

dan dia berbicara dengan manusia (sewaktu) dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang shalih.”

[Surat Ali 'Imran 46]

(وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ)

Dan Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (Isa) Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil.

[Surat Ali 'Imran 48]

Tidak sampai di situ, Jibril juga menegaskan bahwa anak ini adalah seorang rasul yang membawa mukjizat:

(وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ)

Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil (dia berkata), “Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman.

[Surat Ali 'Imran 49]

Jibril juga menjelaskan bahwa anak ini yang menegakkan kembali ajaran Taurat, yang dulu dibawa oleh Musa alaihissalam, yaitu menegaskan antara yang halal dan yang haram:

(وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ ۚ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ)

Dan sebagai seorang yang membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan agar aku menghalalkan bagi kamu sebagian dari yang telah diharamkan untukmu. Dan aku datang kepadamu membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

[Surat Ali 'Imran 50]

Setelah menjelaskan kabar dari langit, Jibril pun menyentuh bagian baju Maryam. Ia meniupkan sesuatu ke tubuh Maryam--sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma. Lalu terjadilah:

(فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا)

Maka dia (Maryam) mengandung, lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.

[Surat Maryam 22]

Demikianlah proses kehamilan itu terjadi. Begitu mudah bagi Allah untuk mengadakan sesuatu. 

هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ ۖ

Yang demikian itu bagi-Ku sangatlah mudah

Ungkapan yang sama juga Allah sampaikan kepada Zakaria alaihissalam yang sangsi apakah benar istrinya yang sudah usia lanjut bisa hamil seorang anak. Allah menjawab keraguan Zakaria itu:

(قَالَ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا)

(Allah) berfirman, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali.”

[Surat Maryam 9]

Seperti masih belum bisa menerima kehamilannya itu, Maryam pun mengasingkan diri ke tempat yang jauh. Beberapa riwayat menyebut bahwa Maryam pernah memgasingkan diri ke Antiokia, sebuah kawasan di Turki. Setelah itu, dikabarkan ia menetap di pinggiran sungai Yordan. Maryam hidup menyendiri jauh dari orang tua dan sanak keluarganya. Tanpa terasa, kehamilannya semakin membesar. Dan tibalah waktu untuk melahirkan: 

(فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا)

Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.”

[Surat Maryam 23]

Perempuan suci itu merasa kecewa dengan keadaannya. Namun, takdir tak dapat ditolak. Dalam keadaan jauh dari keluarganya, Maryam didera sakit yang luar biasa karena ingin melahirkan. 

Di tengah kepayahannya itu, Jibril menyeru: 

(فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا)

Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, “Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.

[Surat Maryam 24]

Maryam pun turun dari tempat peraduannya. Ia melangkahkan kaki menuju anak sungai Yordan. Barangkali seruan Jibril itu dimaksudkan agar ia dapat mengurangi rasa sakit dengan masuk berendam ke dalam sungai. Dipilihnya tempat yang berdekatan dengan pohon kurma, sebagaimana petunjuk Jibril: 

(وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا)

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.

[Surat Maryam 25]

Air sungai dan kurma masak (ruthob) tampaknya menjadi isyarat bagi Maryam agar bisa melahirkan bayi dengan selamat. Kurma oleh masyarakat Israel dan juga Arab diyakini mempunyai khasiat untuk memulihkan kebugaran tubuh. 

(فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا)

Maka makan, minum dan bersenanghatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.”

[Surat Maryam 26]

Jibril pun berpesan agar Maryam tidak mengeluarkan pernyataan apa pun terkait dengan kehamilan dan kelahiran anaknya.

Sang bayi pun lahir dalam keadaan dipenuhi keberkahan, sebagaimana dialami oleh sepupunya Yahya bin Zakaria alaihimas salam. Dan di dalam al-Qur'an, semua nabi lahir dalam keadaan dilimpahi keselamatan dan keberkahan. Momen kelahiran mereka adalah keberkahan bagi kaumnya. 

Setelah melahirkan, Maryam pun membawa pulang anaknya. Namun, masyarakat yang terlanjur berburuk sangka justru beramai-ramai menghujatnya: 

(فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ ۖ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا)

Kemudian dia (Maryam) membawa dia (bayi itu) kepada kaumnya dengan menggendongnya. Mereka (kaumnya) berkata, “Wahai Maryam! Sungguh, engkau telah membawa sesuatu yang sangat mungkar.

[Surat Maryam 27]

(يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا)

Wahai saudara perempuan Harun (Maryam)! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang perempuan pezina.”

[Surat Maryam 28]

Maryam pun terdiam, mendengar hujatan itu. Ia patuh terhadap nasihat Jibril untuk tidak memberi jawaban lisan. Tangannya hanya menunjuk kepada bayi yang baru beberapa hari dilahirkan:

(فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا)

Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)nya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”

[Surat Maryam 29]

Tanpa diduga, sang bayi pun berbicara:

(قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا)

Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.

[Surat Maryam 30]

Telah benar perkataan Jibril kepada Maryam tentang anak ini, sebagaimana telah ditulis di atas:

(وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ

dan dia berbicara dengan manusia (sewaktu) dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang shalih.”

Bayi itu pun melanjutkan:

(وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا)

Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

[Surat Maryam 31]

(وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا)

dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

[Surat Maryam 32]

(وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا)

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

[Surat Maryam 33]

Kelahiran Isa putera Maryam merupakan tamparan bagi orang-orang Israel yang lupa akan kejadian diciptakannya Adam. Mereka mengetahui di dalam Taurat bahwa Adam diciptakan tanpa proses kelahiran. Tapi, kenapa mereka tidak bisa memahaminya ketika kasus yang sama terjadi pada Isa putera Maryam? 

(إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ)

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.

[Surat Ali 'Imran 59]

Sumber : dikutip melalui laman facebook KH. Abdi Kurnia Djohan

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi

   

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar