Salafi Merupakan Mazhab Indonesia ?

SALAFI MERUPAKAN MAZHAB INDONESIA ?

Oleh : KH. Abdi Kurnia Djohan

Salafi akan menjadi mazhab Indonesia? Itu gak mungkin, karakter masyarakat Indonesia itu gak   cocok dengan ajaran salafi yang keras. Demikian gambaran sebagian orang ketika mendengar tren perkembangan salafi di Indonesia. Sebagian lagi bahkan mengidentifikasi gerakan Salafi sebagai supplier bagi gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia. 

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjustifikasi Salafi sebagai gerakan keislaman yang "dianggap" on the track di dalam menyebarkan ajaran Islam. Tulisan ini dimaksudkan untuk melihat fenomena gerakan Salafi saat ini pasca 2 dasawarsa merentangkan dakwahnya di Indonesia. 

Sebagai sebuah fenomena dakwah, gerakan Salafi ini menarik untuk dijadikan sebagai bahan studi. Apalagi baru-baru ini, Okky Setiana Dewi menyajikan potret geliat dakwah Salafi di kalangan selebritis, yang tentunya mempunyai nilai tersendiri di mata masyarakat. 

Baca Juga :

- Makna Rukun Iman dan Rukun Islam di dalam Al-Qur'an

Sebagai sebuah fenomena, keberadaan dakwah Salafi tidak perlu diberi penilaian pantas dan tidak pantas, atau cocok dan tidak cocok. Sebuah fenomena hadir sebagai resultante dari fakta-fakta yang mengalami dinamika satu sama lain. 

Dakwah Salafi sudah lama berkembang di Tanah Air. Perkembangan dakwah Salafi tidak seperti dakwah yang dilakukan faksi-faksi Islam yang mengalami perkembangan sangat pesat. Jika digunakan variabel bantuan Saudi Arabia, periodisasi dakwah Salafi di Indonesia terbagi menjadi: 

1. Masa klasik yaitu pada tahun 1800-an. Pada masa ini dakwah Salafi ditandai oleh dakwah yang dilakukan tiga muballigh muda Minangkabau, Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang. Ketiganya menyebarkan dakwah yang berisi kritik terhadap sufi di Ranah Minang, pasca kepulangannya dari Tanah Suci Mekkah. 

2. Masa pergerakan nasional, yaitu pada tahun 1900 hingga tahun 1950-an. Pada masa ini, dakwah Salafi direpresentasikan dengan kemunculan dua tokoh pendiri Ormas Islam, yaitu A. Hassan, pendiri Persis dan Syaikh Ahmad Soorkati, pendiri al-Irsyad. 

3. Masa tahun 1970-an. Pada masa ini, dakwah salafi tercermin dari cara pandang kalangan modernis Islam di dalam melihat fenomena sosial umat Islam. Para muballigh Muhammadiyah, misalnya, pada era 1970-an sangat gencar mengkampanyekan gerakan anti TBC (Tachayyul, Bid'ah dan Churafat). 

4. Era 2000-an. Memasuki era 2000-an, gerakan Salafi tampil sebagai gerakan yang mengedepankan orisinalitas. Di antara ciri orisinalitas yang diusung oleh gerakan Salafi pada era ini adalah keterlepasan mereka dari ikatan Ormas seperti Persis, al-Irsyad, dan Muhammadiyah. Para inisiator gerakan Salafi moderen, jika bisa dikatakan begitu, selalu menolak penisbatan gerakan Salafi dengan ormas-ormas Islam. Sikap seperti itu ditandai dengan adanya perdebatan antara Abdul Hakim Amir Abdat, tokoh gerakan Salafi Moderen dengan KH Siddiq Amien, Ketua Umum Persis (1997-2009). 

$ads={1}

Baca Juga :

Ciri-ciri Rasulullah SAW yang hadir dalam mimpi Alhabib Munzir Al-Musawa

Gerakan Salafi era 2000-an bisa dikatakan sebagai gerakan Salafi fenomenal. Keberhasilan mereka mewarnai blantika dakwah Nusantara melebihi capaian yang pernah diraih para pendahulunya. Di antara yang menarik dari capaian dakwah yang diraih gerakan Salafi Moderen adalah kemampuan melakukan infiltrasi dakwah hingga ke area pemerintahan. 

Pada era-era sebelumnya, dakwah Salafi hanya berkembang terbatas di kalangan Arab non Alawiyyin dan kalangan kelas perkotaan di Bandung dan Yogyakarta. Para era 2000-an dakwah Salafi mampu menjangkau basis perkotaan secara luas. Bahkan separuh dari masjid-masjid BUMN tidak luput dari jangkauan dakwah Salafi. 

Yang menarik dari capaian dakwah Salafi moderen itu adalah tidak sejajarnya antara metode dakwah dan respon yang diberikan umat. Walaupun dikenal mengedepankan sikap keras di dalam menyampaikan dakwah, tidak sedikit masyarakat yang menerima dakwah yang disampaikan para muballigh Salafi. Bahkan dalam banyak kasus, dakwah Salafi mampu mengubah wajah lingkungan yang semula didominasi para pengamal tarekat, menjadi lingkungan yang Salafi-minded. Fenomena itu dapat dijumpai kebanyakan di desa-desa di luar Jawa, seperti di Lampung, Sumatra Selatan, Riau, Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan. 

Fenomena kontradiktif itu tentu mendorong munculnya pertanyaan, bagaimana metode yang kontraproduktif justru mampu mendorong munculnya respon positif? Pertanyaan seperti ini tidak bisa dijawab dengan melempar asumsi bahwa semua itu terjadi karena bantuan pihak luar negeri. Jawaban seperti itu selain memuat kenaifan, juga menggambarkan ketidaktahuan akut terhadap masalah. 

Relasi kontradiktif dan tanggapan yang responsif terhadap dakwah Salafi Moderen agaknya sudah diukur oleh para master-mind dari Gerakan Salafi Moderen. Gerakan ini jelas bukan gerakan yang sifatnya prematur, spontanitas, dan tidak profesional, seperti yang umum dijumpai dari gerakan-gerakan tradisional. Gerakan Salafi Moderen tampaknya sudah dirancang melalui sebuah riset sosial yang matang. Sehingga  dalam perkembangannya, gerakan ini selalu erat dengan eksperimen-eksperimen sosial yang selalu mengundang ketertarikan masyarakat. 

Baca Juga :

Pengertian Muslim, Mukmin, Mukhsin, Mukhlis dan Muttaqin

Secara umum, gerakan dakwah Salafi  memperhatikan problematika yang sifatnya given di masyarakat sebagai berikut: 

1. Bahwa secara umum, masyarakat muslim Indonesia sangat mencintai Nabi Muhammad. Namun kini, tidak dijumpai figur ulama yang benar-benar mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad; 

2. Bahwa harus diakui, masyarakat muslim Indonesia sangat memuliakan simbol-simbol agamanya seperti masjid. Namun, kenapa justru masjid-masjid sepi dari kegiatan ibadah?

3. Bahwa masyarakat muslim merindukan kehidupan yang Islami, namun faktanya umat Muslim tidak mempunyai media massa yang mampu mengobati kerinduan tersebut. 

Tiga problematika given itu---dan masih banyak problematika given lainnya---dimanfaatkan secara baik oleh para master-mind dakwah Salafi dengan memawarkan sejumlah alternatif: 

1. Untuk problematika pertama, gerakan dakwah Salafi menawarkan figur-figur ustadz yang bisa dijadikan sebagai contoh oleh umat. Para ustadz itu diketahui aktif mengikuti ritual shalat berjamaah di masjid dan tidak meminta "bayaran" jika diundang menyampaikan ceramah. Tawaran tersebut tentu menarik perhatian umat, yang muak dengan fenomena dakwah berbayar seiring dengan munculnya da'i seleb. 

2. Untuk fenomena masjid-masjid yang sepi dari kegiatan ibadah berjamaah, para muballigh Salafi menawarkan solusi dengan dikeluarkannya fatwa wajib sholat berjamaah. Sebuah solusi, yang jarang disampaikan para muballigh dari kalangan tradisionalis di setiap dakwah-dakwah mereka. 

3. Untuk fenomena ruang kosong kehidupan yang islami, para mind-master gerakan Salafi menawarkan kehadiran TV Islami sebelum ormas-ormas Islam ramai-ramai mendirikan stasiun televisi.

Di bagian kedua, telah dikemukakan pertanyaan tentang tidak sejajarnya antara metode dakwah kalangan Salafi dan respon yang diberikan berupa ketertarikan masyarakat untuk menerima ajakan dakwah Salafi. Selain itu juga disampaikan strategi yang dirancang para master-mind gerakan Salafi agar tawaran dakwah mereka mendapat respon positif masyarakat Indonesia. 

Dari beberapa wawancara spontan dengan sebagian jamaah Salafi, diperoleh jawaban-jawaban yang menggambarkan ketertarikan mereka mengikuti kajian Salafi: 

1. Didapatkannya ketegasan di dalam menjalankan ajaran Islam. Bagi masyarakat perkotaan, ketegasan dan kejelasan di dalam bersikap merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan. Ketegasan dan kejelasan, seperti dikatakan oleh Yuval Noah Harari, merupakan kekuatan di tengah limpahan informasi dan identitas. 

2. Didapatkannya afirmasi di dalam memelihara dan menjaga ajaran Islam, di tengah kuatnya arus deislamisasi global. 

3. Tersedianya fasilitas yang mudah dijangkau untuk mendapatkan informasi keislaman. 

4. Terbangunnya kohesivitas di antara sesama pengikut dakwah Salafi. 

5. Konsistensi para da'i gerakan Salaf untuk tidak ikut campur dalam masalah-masalah politik yang berkembang. 

Kelima deskripsi yang disampaikan melalui wawancara itu yang menjadi alasan bahwa dakwah Salafi tetap diminati walaupun menurut sebagian orang, metode penyampaian dakwah Salafi itu tidak simpatik dan terlihat anti-kultur. 

Dalam perkembangan selanjutnya, dakwah Salafi memasuki fase dakwah lunak. Sebagian da'i Salafi rasmiyyah mengurangi tensi tekanannya terhadap sebagian isu yang dianggap sensitif di masyarakat. Fase dakwah lunak itu mulai terlihat pasca kunjungan Raja Salman bin Abdul Aziz ke Indonesia. 

Para da'i Salafi, seperti Dr. Firanda Andirja dan Ust. Abdullah Saleh al-Hadrami mulai menunjukkan sikap toleransi terhadap faksi-faksi umat Islam di luar Salafi. Firanda Andirja yang sepuluh tahun lalu dikenal sangat anti terhadap peringatan maulid Nabi, kini justru mengemukakan pandangan-pandangan yang seperti mau berkompromi dengan kelompok pengamal maulid. Sebelum Firanda, Abdullah Saleh al-Hadrami telah memproklamasikan dakwahnya sebagai dakwah Salafi kompromis. Bahkan, dalam berbagai kesempatan dakwahnya, Abdullah Saleh al-Hadrami selalu mengatakan bahwa semua kelompok yang mengaku ahlussunnah merupakan kelompok yang berada di dalam kebaikan. 

Perubahan sikap sebagian da'i Salafi tersebut bisa ditafsirkan sebagai perubahan metode gerakan dakwah Salafi. Perubahan metode tampaknya dipandang perlu agar gerakan dakwah Salafi dapat diterima secara luas di Indonesia. 

Di sisi lain, perubahan yang kontradiktif dari kalangan Salafi justru terjadi pada sebagian faksi NU. Jika sebagian da'i Salafi menyadari pentingnya merangkul semua faksi umat Islam agar mendekat kepada gerakan Salafi, tidak demikian halnya dengan sikap sebagian muballigh NU. Narasi-narasi yang dilemparkan oleh sebagian muballigh dan aktivis NU, justru memberi kesan ingin "mengusir" semua faksi umat Islam yang awalnya sudah dekat dengan NU. 

Narasi-narasi seperti itu dapat dibaca di berbagai media sosial. Sehingga pada akhirnya, kesan yang ditampilkan adalah bahwa untuk menjadi muslim yang kaaffah (paripurna) harus masuk ke NU. Dan untuk menjadi NU yang sejati itu harus njawani (menjadi Jawa). Selanjutnya, untuk dikatakan sebagai NU yang benar adalah selalu satu pendapat dengan semua sikap yang diambil oleh kalangan elit NU. 

Bagi masyarakat santri di Jawa Tengah dan Jawa Timur, narasi seperti di atas barangkali memang sesuai dengan kebutuhannya. Namun dari sisi dakwah Islam, narasi seperti itu justru akan memperkuat reifikasi identitas sektarian yang sebelumnya akan ditinggalkan. 

Bukan tidak mungkin, bagi masyarakat perkotaan, narasi-narasi simpatik dan apolitis dari beberapa da'i Salafi akan menambah ketertarikan untuk mengikuti gerakan dakwah Salafi. Walaupun berlawanan dengan itu, gerakan dakwah Salafi dilabeli sebagai inisiator gerakan radikalisme dan terorisme. 

Sampai di sini, muncul pertanyaan baru, apakah dengan kondisi seperti yang sudah diuraikan, gerakan Salafi akan menjadi mazhab di Indonesia? Secara jujur diakui, bahwa potensi ke arah sana memang ada. Namun, untuk sampai kepada pertanyaan di atas, diperlukan waktu yang tidak pendek untuk menguji kembali pola-pola yang digulirkan gerakan Salafi selanjutnya. 

Wallahu a'lam bis Shawab. Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Thariq.

Source : Dikutip melalui laman facebook KH. Abdi Kurnia Djohan

Baca Juga :

Biografi & Karomah AlHabib Syechan bin Musthofa Al Bahar Wali yang Jadzab (Nyleneh)

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah - 

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama