Kegiatan Keagamaan Hanya Menguatkan Sosok Figur Tertentu

KEGIATAN KEAGAMAAN HANYA MENGUATKAN SOSOK FIGUR TERTENTU

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Banyak kegiatan keagamaan yang dampaknya tidak bersifat langsung kepada umat tapi lebih kepada menguatkan sosok figur tertentu. Dari situ, kita bisa memahami persamaan antara syi'ar dan siaran, tuntunan dan tontonan. 

Jika berkaca kembali kepada sejarah, Rasulullah tidak mengarahkan setiap perkumpulan yang diadakan, untuk memperkuat figur beliau sebagai pribadi. Itu ditunjukkan dengan ucapan beliau: 

اِنَّمَا اَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ

Aku ini hanya manusia seperti kalian

$ads={1}

Perkumpulan-perkumpulan yang diadakan oleh Rasulullah semata-mata dimaksudkan untuk menjaga semangat dan ketahanan nilai-nilai yang diterima oleh umat. Karena itu, setiap selesai bertemu dengan Rasulullah, para sahabat menyampaikan kembali pesan-pesan Rasulullah kepada keluarganya. Itu dilakukan untuk menjalankan perintah Rasulullah: 

بَلِّغُوْا عَنِّيْ وًلَوْ اَيَةً وَحَدِّثُوْا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ بِلَا حَرَجٍ

Sampaikan dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Israil...

Baca Juga :

Filosofi Semar, Gareng, Petruk, Bagong (Punakawan) Dalam Islam

Biografi Habib Muhammad Al Bagir bin Alwi Bin Yahya

Shalawat Miftah Karangan Habib Ali Al Habsyi ( Shohibul Maulid Simthudduror )

Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa Rasulullah mengesampingkan kepentingan dirinya dari perkumpulan-perkumpulan para sahabat? 

Kita mengetahui itu dari penuturan isteri beliau, Sayyidah Aisyah Ummul Mu'minin. Sayyidah Aisyah menceritakan bahwa harta yang ditinggalkan oleh Rasulullah pada saat wafat adalah: 

1. Satu lembar tikar dari anyaman daun

2. Satu kantong roti kering

3. Dua lembar baju gamis yang biasa beliau pakai. 

Beliau tidak meninggalkan harta yang berlimpah, dan pakaian yang mentereng. Padahal, jika beliau mau, bisa saja itu dilakukan.

Oleh : KH. Abdi Kurnia Djohan

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama