Memahami Wasiat Terakhir Sayyidil Walid Al Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf

MEMAHAMI WASIAT TERAKHIR SAYYIDIL WALID AL HABIB ALI BIN ABDURRAHMAN ASSEGAF

Oleh : KH. Abdi Kurnia Djohan

Tidak terasa 7 hari yang lalu, Sayyidil Wālid al-Allāmah al-Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf berpulang ke rahmat Allah. Kini beliau berkumpul bersama datuk-datuknya di alam Barzakh. Sedangkan umat masih belum bisa "move on" dari rasa sedih ditinggal beliau. 

Jika boleh jujur mengungkapkan, umat Islam di Jabodetabek belum bisa menerima kepulangan sang guru besar. Semuanya terasa begitu cepat dan sangat mendadak. Tapi mungkin tidak, bagi Sayyidil Wālid. 

Beberapa rekaman video dan suara menunjukkan bahwa Sayyidil Wālid sebenarnya telah mempersiapkan kepulangan beliau ke rahmatullah. Seperti yang pernah beliau ungkapkan di Majelis Rasulullah. Di Majelis tersebut, Sayyidil Walid menyampaikan bahwa jika wafat nanti, beliau hanya dimakamkan di dekat makam al-Habib Ahmad al-Haddad (Habib Kuncung). Tegas beliau, bertetangga makam dengan makam orang saleh mendatangkan ketenangan. Berbeda jika beliau dimakamkan di Pemakaman Umum. 

Sinyalemen lain dari persiapan Sayyidil Wālid menghadapi kematian adalah wasiat terakhir yang beliau sampaikan beberapa hari sebelum wafat. Yang menakjubkan dari wasiat itu adalah beliau secara jelas mengatakan bahwa (wasiat) itu adalah yang terakhir. 

Tentu, orang yang telah mempersiapkan kematiannya bukanlah orang sembarang. Di dalam sebuah hadits, Rāsulullah shallallāhu alaihi wa sallam, datuk dari para habib, bersabda: 

اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

Orang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya dan berbuat untuk setelah kematiannya. 

$ads={1}

Kecerdasan yang dimiliki Sayyidil Wālid bukan semata-mata kecerdasan intelektual yang harus diukur secara akademis. Tapi lebih jauh dari itu, kecerdasan yang beliau miliki merupakan kecerdasan spiritual, yang merupakan level kecerdasan tertinggi. 

MEMAHAMI WASIAT

Membahas "kewalian" Sayyidil Wālid bagaikan membahas dalamnya lautan yang sulit dijangkau dasarnya. Bagi para muridnya, Sayyidil Wālid merupakan "bahrul fahhamah" dan "habrul ummah". Belum para murid itu menyampaikan pertanyaan, mereka sudah mendapat jawaban dengan memandang wajah beliau. 

Jika kita tidak mampu membahas sisi "kewalian" beliau, ada sisi lain yang bisa kita bahas dan kita ambil ibrahnya (pelajaran). Sisi itu adalah ajaran-ajaran yang beliau selalu sampaikan kepada murid-muridnya. Di antara yang menarik untuk kita kaji adalah tentang wasiat terakhir yang disampaikan pada momen pengajian terakhir. 

Pada momen yang mengharukan itu, Sayyidil Wālid menyampaikan tiga pesan terakhir, yaitu: 

1. Jangan tinggalkan majelis taklim; 

2. Jangan tinggalkan kalimat tauhid; dan

3. Jangan tinggalkan sholawat. 

Tentu ada relevansi dari tiga pesan Sayyidil Walid dengan suasana pandemi yang sampai hari ini masih berlangsung. 

A. Majelis Taklim dan Pandemi

Wasiat agar umat tidak meninggalkan majelis taklim disampaikan Sayyidil Walid sebagai poin pertama wasiat terakhir beliau. Wasiat ini kiranya didasarkan kepada fakta bahwa selama masa pandemi banyak masjid dan musholla yang sepi dari kegiatan taklim. 

Umat seperti menganggap bahwa taklim atau belajar bukan lagi sebagai kewajiban apalagi sebagai kebutuhan. Sebagian besar umat menganggap taklim sebagai kegiatan selingan yang bisa dihadiri kapan saja dan boleh juga tidak diikuti. Padahal, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi penegasan: 

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Mempelajari ilmu (agama) itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim (riwayat al-Bukhari). 

Kewajiban untuk mempelajari ilmu agama didasarkan kepada tuntutan untuk mengamalkan ajaran Islam secara berkesinambungan. Semangat ajaran agama hanya bisa dipertahankan melalui taklim. Prosesi shalat Jum'at dengan khutbah sebagai sesi penyampaian nasihat belum bisa dikatakan efektif untuk menggugah kesadaran umat. Di samping karena dibatasi oleh waktu yang pendek, momen khutbah jum'at juga sering dijadikan sebagai sesi tidur siang oleh kebanyakan hadirin. 

Selain itu, wasiat untuk tidak meninggalkan taklim juga didasarkan kepada fakta miskinnya pengetahuan umat Islam terhadap ajaran agamanya. Umat yang miskin pengetahuan itu, berpotensi akan memusuhi agamanya. Dan sepertinya kekhawatiran Sayyidil Walid itu terbukti. 

B. Tauhid dan Pandemi

Sebagian orang tentu akan bertanya, apa urgensi kalimat tauhid dengan suasana pandemi? Bukankah suasana pandemi seperti sekarang ini lebih tepat disikapi dengan hanya mematuhi protokol kesehatan? Bagi orang yang selalu mengedepankan akal, pertanyaan tersebut sangat bisa diterima. Namun dari sudut pandang ajaran Islam, wasiat Sayyidil Wālid tentang tauhid itu mempunyai justifikasi (dasar pembenar) yang kuat. 

Sayyidina Ibnh Abbas radliyallahu anhuma mengatakan: 

اَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم كَانَ يَقُوْلُ عِنْدَ الْكَرْبِ (لااله الا الله الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ لا اله الا الله رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمُ لا اله الا الله رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْاَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ)

Bahwa Rasulullah shallallāhu alaihi wa sallam dulu setiap kali dalam masa kesusahan, selalu membaca (Lā ilāha illa Allahul Azhim ul-Halim, Lā ilāha illa Allahu Rabb ul-Arsyil Azhim, Lā ilāha illa Allahu Rabbus Samawāti wa Rabbul ardli wa Rabbul Arsyil Karim)---hadits muttafaq alaihi. 

Para ulama memberi simpulan bahwa dari obat yang paling utama di dalam menghadapi kesulitan adalah kalimat tauhid, baik dengan mengucapkannya atau dengan meyakininya di dalam hati. 

Wasiat Sayyidil Wālid agar umat tidak lepas dari kalimat tauhid relevan dengan situasi pandemi saat ini. Seperti kita ketahui bahwa pandemi yang berlangsung hampir satu tahun ini telah mengubah kebiasaan manusia sebelumnya. Bukan hanya kebiasaan berubah tapi juga pola pikir, bahkan juga pola keimanan. 

Pandemi bukan saja memunculkan persoalan yang berkaitan dengan kesehatan jasmani tapi juga kesehatan rohani. Dari sudut pandang ajaran Islam, pandemi telah mendorong sebagian umat Islam untuk "meninggalkan" keyakinannya. Tidak ada lagi iman dan kufur, apalagi halal dan haram. Semuanya seakan tidak ada batas walaupun secara kasat mata pandemi membatasi kontak secara fisik. 

C. Shalawat dan Pandemi

Wasiat Sayyidil wālid agar tidak lepas membaca shalawat, masih berkaitan dengan wasiat beliau untuk mendawamkan (merutinkan) bacaan kalimat tauhid. Penyampaian wasiat tentang sholawat ini masih berkaitan dengan keprihatinan beliau terhadap makin meredupnya kecintaan umat Islam kepada Rasulullah Muhammad. 

Keprihatinan itu bisa dipahami dari ungkapan kekecewaan beliau dengan tidak diadakannya peringatan maulid Nabi Rasulullah pada masa pandemi. Umat, dalam pandangan Sayyidil Walid, dihadapkan kepada rasa takut terhadap kematian dibandingkan takut kehilangan cinta kepada Sang Nabi (Rasul). Padahal, semestinya  cinta kepada Nabi didahulukan daripada cinta kepada dirinya. 

Semangat keprihatinan dari Sayyidil Wālid ini mengingatkan kita kepada ucapan Rasulullah: 

لَا يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى اَكُوْنَ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِنْ وَالِدِه وَوَلَدِه وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ

Tidak dianggap sempurna iman siapapun dari kalian, sebelum aku lebih dia cintai daripada dirinya, orang tuanya, anaknya, dan semua manusia (hadits riwayat al-Bukhari). 

Terkait dengan keprihatinannya itu, Sayyidil Wālid tetap mengadakan peringatan Maulid Nabi meskipun mengundang kritik. Sayyidil Walid tetap yakin bahwa semua yang hadir dalam acara yang beliau adakan, tetap dalam keadaan sehat wal afiat dan selamat. 

Di akhir pesan tentang terus bershalawat, Sayyidil Wālid menegaskan adanya hubungan yang erat di antara shalawat dengan kalimat tauhid. Dan memang diakui bahwa sholawat yang dibaca terus menerus dapat menolak datangnya azab atau dapat mereduksi dampak dari bencana: 

(وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِیُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِیهِمۡۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ یَسۡتَغۡفِرُونَ)

Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.

[Surat Al-Anfal 33]

Masih banyak yang bisa diuraikan dari wasiat terakhir Sayyidil Wālid di atas, namun karena keterbatasan ruang di media sosial ini semua pandangan yang akan disampaikan tidak bisa ditampung. Akan lebih baik jika wasiat beliau dijalankan sebagai bukti kita mencintai beliau sebagai guru umat. 

Dalam kesempatan ini, ijinkan al-faqir menandai ustadz Anto Djibril , ustadz محمد إمام الساجدين ألجوى ustadz Dedy Junaedi dan ustadz Ainal Fuad sebagai orang-orang yang dekat dengan Sayyidil wālid...al-afwu sebelumnya jika antum semua tidak berkenan.

Source : dikutip melalui laman facebook KH. Abdi Kurnia Djohan

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama