Hukum Shalat Tarawih 4 Rakaat Dalam Perspektif 4 Mazhab Fikih

HUKUM SHALAT TARAWIH 4 RAKAAT DALAM PERPEKTIF 4 MAZHAB FIKIH

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Secara asal shalat tarawih itu dikerjakan 2 2. Tidak ada ulama yang mempermasalahkan jika dikerjakan 2 2. Lalu bagaimana hukumnya jika dikerjakan 4 4? Di sini ada masalah.

Dalam mazhab Syafii tidak boleh mengerjakannya 4 4, kalau dikerjakan juga maka ada rinciannya. Jika ia mengerjakannya padahal ia tau itu tidak boleh maka shalatnya batal, tidak sah. Sementara kalau ia tidak tau maka shalatnya sah tapi hanya terhitung sebagai shalat sunat mutlak, bukan tarawih. 

Dalam Tuhfah:

وَيَجِبُ التَّسْلِيمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ كَمَا مَرَّ، فَإِنْ زَادَ جَاهِلًا صَارَتْ نَفْلًا مُطْلَقًا

Dalam Nihayah:

وَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ لَمْ يَصِحَّ إنْ كَانَ عَامِدًا عَالِمًا، وَإِلَّا صَارَتْ نَفْلًا مُطْلَقًا؛ لِأَنَّهُ خِلَافُ الْمَشْرُوعِ

Berbeda dengan Syafiiyah, jumhur ulama mengatakan shalatnya tetap sah. Hanya saja rinciannya agak berbeda antar mazhab. Dalam mazhab Malik shalat 4-4 itu sah tetapi hukumnya makruh, tidak dianjurkan sama sekali.

Dalam Hasyiah al-‘Adawi:

قَوْلُهُ : وَيُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ أَيْ يُنْدَبُ، وَيُكْرَهُ تَأْخِيرُ السَّلامِ بَعْدَ كُلِّ أَرْبَعٍ

Sementara dalam mazhab Hambali ada khilaf. Imam Ibnu Qudamah berpendapat shalat 4-4 itu tidak sah sama sekali, sebagaimana mazhab Syafii. Beliau berlandaskan pada Nash imam Ahmad tentang orang yang berdiri ke rakaat ketiga dari tarawihnya bahwa ia harus kembali duduk untuk salam meskipun ia sudah mulai membaca al-Fatihah, mesti seperti itu. Namun yang masyhur dalam mazhab shalat 4-4 itu sah tetapi hukumnya makruh, sebagaimana mazhab Malik.

$ads={1}

Baca Juga :

Filosofi Semar, Gareng, Petruk, Bagong (Punakawan) Dalam Islam

Biografi Habib Muhammad Al Bagir bin Alwi Bin Yahya

Shalawat Miftah Karangan Habib Ali Al Habsyi ( Shohibul Maulid Simthudduror )

Dalam al-Inshaf:

وَقِيلَ: لَا يَصِحُّ إلَّا مَثْنَى فِي اللَّيْلِ فَقَطْ، وَهُوَ ظَاهِرُ كَلَامِ الْمُصَنِّفِ (ابن قدامة) هُنَا وَاخْتَارَهُ هُوَ وَابْنُ شِهَابٍ وَالشَّارِحُ وَقَدَّمَهُ فِي الرِّعَايَةِ الْكُبْرَى قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِيمَنْ قَامَ فِي التَّرَاوِيحِ إلَى ثَالِثَةٍ يَرْجِعُ وَإِنْ قَرَأَ؛ لِأَنَّ عَلَيْهِ تَسْلِيمًا، وَلَا بُدّ،َ فَعَلَى الْقَوْلِ (المعتمد) بِصِحَّةِ التَّطَوُّعِ بِزِيَادَةٍ عَلَى مَثْنَى لَيْلًا: لَوْ فَعَلَهُ كُرِهَ عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ جَزَمَ بِهِ فِي الْمُحَرَّرِ، وَالْفَائِقِ، وَالزَّرْكَشِيِّ وَقَدَّمَهُ فِي الْفُرُوعِ

Dalam mazhab Hanafi kalau ia shalat tarawih 4 rakaat sekaligus tanpa tasyahud awal maka juga ada khilaf. Imam Muhammad bin Hasan, Zufar dan salah satu riwayat dari Imam Abu Hanifah menyatakan shalatnya batal, mesti diulang tarawihnya. Sementara Imam Abu Yusuf dan yang masyhur dari Imam Abu Hanifah mengatakan shalatnya sah tetapi hanya terhitung sebagai shalat 2 rakaat saja. Ini lah yang difatwakan dalam mazhab.

Dalam al-Bahrur Raiq:

فَلَوْ صَلَّى الْإِمَامُ أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ وَلَمْ يَقْعُدْ فِي الثَّانِيَةِ فَأَظْهَرُ الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَبِي يُوسُفَ عَدَمُ الْفَسَادِ ثُمَّ اخْتَلَفُوا هَلْ تَنُوبُ عَنْ تَسْلِيمَةٍ أَوْ تَسْلِيمَتَيْنِ قَالَ أَبُو اللَّيْثِ تَنُوبُ عَنْ تَسْلِيمَتَيْنِ وَقَالَ أَبُو جَعْفَرٍ وَابْنُ الْفَضْلِ تَنُوبُ عَنْ وَاحِدَةٍ وَهُوَ الصَّحِيحُ كَذَا فِي الظَّهِيرِيَّةِ وَالْخَانِيَّةِ وَفِي الْمُجْتَبَى وَعَلَيْهِ الْفَتْوَى

Alasan ia hanya terhitung sebagai 2 rakaat, karena duduk tasyahud awal dalam shalat sunat menurut mazhab Hanafi hukumnya adalah wajib. Dengan meninggalkan tasyahud awal maka secara qiyas 2 rakaat pertama itu sudah batal. Namun mereka mengatakan shalatnya belum batal, takbiratul ihramnya yang pertama masih berlaku berlandaskan pada istihsan. Dan dengan berlakunya takbiratul ihram itu maka ia pun boleh melanjutkan syafa’ yang kedua (yaitu rakaat ketiga dan keempat), kemudian dengan tasyahud dan salam baru lah terhitung shalatnya itu sebagai satu salam (terhitung seperti 2 rakaat). Rujuk al-Muhith al-Burhany.

Jadi kesimpulannya kalau kita merujuk pada pemahaman ulama dari mazhab yang empat, shalat 4 4 itu tidak ada keistimewaannya sama sekali. Memaksakan shalat 4 4 ini malah hanya akan menyebabkan masalah. Karena kita cuma dihadapkan pada 2 kemungkinan, bisa jadi shalatnya batal atau bisa jadi fadhilahnya yang berkurang. Terutama di masjid kota-kota besar yang masyarakatnya majemuk dan memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Jika dipaksakan 4 4, maka masyarakat yang sebelumnya sudah mempelajari bahwa shalat 4 4 itu tidak sah sesuai dengan mazhab Syafi’i tentu akan kebingungan. Bagaimana caranya ia bisa shalat di sana sementara dalam keyakinannya shalat seperti itu batal. Masjid yang seharusnya bisa menjadi tempat pemersatu umat Islam malah tidak menjalankan fungsinya sebagai pengayom. Apa salahnya shalat tarawih 2 2? Bukankah melaksanakan ibadah yang disepakati kesahannya oleh para ulama lebih baik dibandingkan melaksanakan ibadah yang diperselisihkan hukumnya.

Wallahu ta'ala a'la wa a'lam

Oleh : Ustadz Khalilur Rahman

Sumber : dikutip melalui laman facebooknya

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama