Sikap Kita Terhadap Pendapat Imam Mazhab Dan Tarjihan Ustadz Zaman Sekarang

SIKAP KITA TERHADAP PENDAPAT IMAM MAZHAB DAN TARJIHAN USTADZ ZAMAN SEKARANG

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Berikut saya terjemahkan nasehat beliau, mari sama-sama kita renungkan. 

Saya meyakini bahwa pendapatnya para imam mazhab lebih utama dibandingkan pendapat perorangan. Seseorang bisa saja condong kepada pendapat yang berbeda dengan pendapatnya al-Hajjawi¹ dan para imam mazhab lainnya,- perhatikan apa yang saya sampaikan- tetapi kalau kalian bertanya kepada saya, pendapat mana yang Syeikh pilih? Pendapat mana yang Syeikh rekomendasikan untuk kami? Kami mengambil pendapat Syeikh atau pendapatnya al-Hajjawi? Apa jawaban saya? Jawaban saya adalah jauh berbeda antara langit dan bumi. Siapa yang akan kalian ikuti? Yang lebih alim atau yang dibawahnya? Tentu saja yang lebih alim. Tetapi sekarang kita tidak. Kita mungkin saja meninggalkan pendapatnya al-Muwaffaq² dan lebih mendahulukan pendapatnya imam masjid hanya karena dia membahas masalah tersebut kemudian mentarjih suatu pendapat, maka jadilah pendapatnya yang rajih.

Saya mengatakan, akal mengatakan, agama mengatakan agar kita mengikut pendapatnya orang yang lebih alim dan wara’. Bukankah demikian? Dan jangan sampai kalian terperdaya dengan orang zaman sekarang tatkala ia poles perkataannya dan mentarjih pendapatnya. Namun al-Muwaffaq sudah meninggal, al-Muwaffaq tidak mampu lagi berbicara. Dalam ungkapan: “Orang hidup bisa mengalahkan seribu orang mati”. Kalaulah al-Muwaffaq bangkit dari kuburnya dan ia bela dan pertahankan pendapatnya, akan berubah pula pendapat kalian. Akan berubah pendapat kalian.

Baca Juga :

Filosofi Semar, Gareng, Petruk, Bagong (Punakawan) Dalam Islam

Biografi Habib Muhammad Al Bagir bin Alwi Bin Yahya

Shalawat Miftah Karangan Habib Ali Al Habsyi ( Shohibul Maulid Simthudduror )

Yang saya maksudkan wahai saudara-saudara saya sekalian -perhatikan karena masalah ini sangat sensitif-, karena bisa saja saya dituduh sebagai orang yang fanatik. Saya tidak fanatik, tidak kepada mazhab, tidak kepada seorangpun. Betapa banyak pendapat saya yang menyalahi pendapat mazhab. Saya menyalahi mazhab dalam beberapa permasalahan. Namun bisa jadi sikap saya ini adalah lancang dan tidak beradab. Maka maafkanlah saya atas ketidakberadaban ini, semoga Allah mengampuni saya.

Yang ingin saya sampaikan kepada kalian wahai para pelajar, saya menasehati kalian untuk mengambil pendapatnya ulama yang lebih alim dan wara’. Maksud saya apabila al-Muwaffaq sudah berpendapat maka taklidlah pendapatnya al-Muwaffaq. Kalau kalian mendengar lisan saya ini tergelincir kemudian saya tarjih pendapat yang berbeda, maka tinggalkanlah pendapat saya. Nasehat saya: ambillah pendapat ulama yang lebih tinggi derjatnya. Apa kalian mengerti? Saya tidak akan menyeru orang-orang untuk mentaklid pendapat saya dan meninggalkan pendapatnya para imam yang agung. Ambillah pendapatnya para imam. Jika Allah menetapkan bagi kalian umur yang panjang dan ilmu yang luas di masa depan nanti kemudian kalian menjadi ulama mujtahid, maka barulah kalian mengambil pendapat yang rajih menurut kalian. Tetapi tunggu dulu hingga kita sampai ke derjat ijtihad. Adapun jika kita berijtihad sebelum kita sampai ke derjatnya maka jangan. Itu tidak boleh. Itu tidak pantas. Itu adalah bermain-main dengan syariat. Dan inilah orang yang dikatakan oleh Nabi SAW dalam sabda beliau: “Manusia akan mengangkat pemuka mereka dari orang-orang yang bodoh, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, maka sesatlah mereka dan merekapun menyesatkan orang lain”. 

$ads={1}

Selesai

1. al-Hajjawi adalah ulama besar dalam Mazhab Hambali. Wafat tahun 968H. Di antara karangan beliau adalah kitab al-Iqna’, salah satu referensi utama dalam mengetahui mu’tamad Mazhab Hambali

2. al-Muwaffaq Ibnu Qudamah, juga ulama besar dalam Mazhab Hambali. Wafat tahun 620H. Di antara karya fenomenal beliau adalah kitab al-Mughni, pedoman dalam fikih perbandingan mazhab

Oleh : Ustadz Khalilur Rahman

Sumber : dikutip melalui laman facebooknya

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama