Fakta-Fakta Kenapa Kelompok Wahabi Disebut Ahlul Bid'ah Sesungguhnya

FAKTA-FAKTA KENAPA KELOMPOK WAHABI DISEBUT AHLUL BID'AH SESUNGGUHNYA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Kelompok salafi wahabi selalu mengklaim bahwa ajarannya selalu mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah. mereka juga selalu mengatakan bid'ah, sesat, masuk neraka bagi kelompok yang tidak sejalan dengannya, apalagi jika yang dibawa-bawa adalah masalah "bid'ah". Seakan-akan bid'ah ini menjadi sebuah hukum yang baru dan perlu disuarakan terus menerus agar dapat menghindarinya, pahadal mereka sendiri tidak paham arti dari "bid'ah" itu sendiri.

dikutip melalui grup facebook KUMPULAN HADITS SHAHIH BUKHARI - MUSLIM, DLL. Nurul Lailatirrahmah salah satu peggiat aswaja (anak dari Kyai Sumarsam salah satu pengurus NU cabang Lubuklinggau) memberikan jawab atas pertanyaan yang dilontarkan oleh saudara Abd Azis Hamim.

Berikut pertanyaan dan jawabannya yang dapat kami rangkum :

MENJAWAB PERTANYAAN Om Abd Azis Hamim

(Tentang ciri ciri beragamanya kelompok Wahabi)

======

Ini aku copas pertanyaannya:

-----

Abd Azis Hamim

Kalau bisa mohon penjelasannya ciri ciri beragamanya kelompok Wahabi yang kemudian mereka dikategorikan ahlul bid ah. terimakasih.

• Balas• Bagikan• 3 jam

-----

JAWABANKU:

Sebelum masuk ke masalah ciri-cirinya beragamanya kelompok Wahabi yg lebih luas lagi, berikut ini aku sampaikan terlebih dahulu KEBID'AHAN yang sangat jelas terang dan nyata yg dilakukan oleh wahabi Indo:

A. Menambah satu hukum Fiqih dari lima hukum yang sudah baku

Lima hukum fiqih yang sudah baku di dalam islam adalah:

1. WAJIB
2. SUNAH
3. HARAM
4. MAKRUH
5. MUBAH

Ke-5 Hukum tersebut sudah baku dan dirumuskan oleh para alim ulama dalam kitab Fiqih, namun kelompok wahabi menambahkan 5 hukum tersebut dengan satu hukum lagi yaitu :

" Sunnah Yang Wajib "

Padahal wajib dan sunnah merupakan kedua hukum yang berbeda. Tidak bisa hukum islam ditukar ke hukum lainnya, atau ditambahkan ke hukum lainnya. Karena hal tersebut sudah mutlak. Padahal jika mereka ingin melaksanakan amalan sunnah, itu adalah hal baik baginya. Namun jangan sampai amalan yang dijalankanya tersebut dianggap sesuatu hal yang wajib, padahal pembagiannya sudah jelas.

Dengan menambahkan hukum baru didalam islam yakni " Sunnah Yang Wajib " secara tidak langsung mereka telah menambahkan hukum baru, dan menyelisih Al-Qur'an dan As-Sunnah serta para ulama salafush shalih.

B. Menyelisihi Al-Qur'an dan Ulama Salaf dengan sangat jelas terang dan nyata, yaitu :

Kelompok wahabi mengatakan bahwa Rukun Wudhu ada dua yaitu :

1. Membasuh wajah /muka
2. Membasuh tangan sampai siku-siku.

$ads={1}

Jika Rukun Wudhu hanya ada dua, maka secara otomatis mereka telah menyelisihi Al-Qur'an dalam surat Al-Maidah ayat 6:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِذَا قُمۡتُمۡ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغۡسِلُوۡا وُجُوۡهَكُمۡ وَاَيۡدِيَكُمۡ اِلَى الۡمَرَافِقِ وَامۡسَحُوۡا بِرُءُوۡسِكُمۡ وَاَرۡجُلَكُمۡ اِلَى الۡـكَعۡبَيۡنِ‌ ؕ وَاِنۡ كُنۡتُمۡ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوۡا‌ ؕ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka

- basuhlah wajahmu dan
- tanganmu sampai ke siku, dan
- sapulah kepalamu dan
- (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki.
- Jika kamu junub, maka mandilah.

Bukan hanya menyelisihi Ayat Al-Qur'an saja, kelompok wahabi pun menyelisihi Hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut :

Di antara praktik lengkap wudhu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah kesaksian dari shahabat Utsman bin Affan ra, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

عَنْ حُمْرَانَ: أَنَّ عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ، فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ مَضْمَضَ، وَاسْتَنْشَقَ، وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي

هَذَا. (أخرجه عبد الرزاق وأحمد والعدنى والبخارى ومسلم وأبو داود والنسائى وابن خزيمة وابن حبان والدارقطنى)

Dari Humran bahwa Utsman ra meminta air wudhu.

1. Lalu ia membasuh kedua telapak tangannya 3 kali.
2. Lalu berkumur-kumur dan menghirup air dengan hidung dan menghembuskannya keluar.
3. Kemudian membasuh wajahnya 3 kali.
4. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku 3 kali dan tangan kirinya pun begitu pula.
5. Kemudian mengusap kepalanya.
6. Lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki 3 kali dan kaki kirinya pun begitu pula.

Kemudian ia berkata: “Saya melihat Rasulullah saw berwudhu seperti wudhu-ku ini. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Abdurrazzaq, ‘Adni, dan Daruquthni)

Setelah menyelisihi Al-Qur'an dan Al-Hadits, Wahabi juga menyelisihi para ulama salaf berikut :

Rukun Wudhu menurut para Ulama Salaf:

Mazhab Hanafiyyah

Dalam Kitab matan-nya; Mukhtar al-Fatwa, yang menjadi salah satu rujukan dlm mazhab Hanafi, menetapkan praktik wudhu dr sisi rukun & sunnahnnya, sebagaimana berikut:

وَفَرْضُهُ: غَسْلُ الْوَجْهِ، وَغَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ، وَمَسْحُ رُبُعِ الرَّأْسِ، وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الْكَعْبَيْنِ.

Fardhu wudhu adalah:

1. Membasuh wajah,
2. Membasuh tangan dan juga kedua siku,
3. Mengusap seperempat kepala, dan
4. Membasuh kaki dan juga kedua mata kaki.

وَسُنَنُ الْوُضُوءِ: غَسْلُ الْيَدَيْنِ إِلَى الرُّسْغَيْنِ ثَلَاثًا قَبْلَ إِدْخَالِهِمَا فِي الْإِنَاءِ لِمَنِ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ، وَتَسْمِيَةُ اللَّهِ تَعَالَى فِي ابْتِدَائِهِ، وَالسِّوَاكُ، وَالْمَضْمَضَةُ، وَالِاسْتِنْشَاقُ ثَلَاثًا ثَلَاثًا، وَمَسْحُ جَمِيعِ الرَّأْسِ وَالْأُذُنَيْنِ بِمَاءٍ وَاحِدٍ، وَتَخْلِيلُ اللِّحْيَةِ وَالْأَصَابِعِ، وَتَثْلِيثُ الْغَسْلِ.

Sunnah-sunnah dalam berwudhu :

membasuh kedua tgn sampai kepergelangan tgn sebanyak 3 kali sebelum mencelupkan tangannya ke dalam wadah air bagi yg baru bangun dari tidur, membaca tasmiyyah di awal wudhu, bersiwak, madhmadhah, istinsyaq, mengusap seluruh kepala & kedua telinga dgn satu usapan air, takhlil jenggot & ruas jari, membasuh tiga kali.

(Abdullah bin Mahmud Ibnu Maudud al-Mushili, Mukhtar al-Fatwa dan Syarahanya al-Ikhtiyar li Ta’lil al-Mukhtar, (Kairo: Mathba’ah al-Halabi, 1937/1356), hlm. 1/7-8.)

Madzhab Malikiyah

Dalam kitab matan-nya; Matan al-‘Asymawiyyah, yang menjadi salah satu rujukan dlm mazhab Maliki, menetapkan praktik wudhu dari sisi rukun dan sunnahnnya, sebagaimana berikut:

فَأَمَّا فَرَائِضُ الوُضُوْءِ فَسَبْعَةٌ: النِّيَّةُ عِنْدَ غَسْلِ الوَجْهِ، وَغَسْلُ اليَدَيْنِ إِلى الْمِرْفَقَيْنِ، وَمَسْحُ جَمِيْعِ الرَّأْسِ، وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلى

الكَعْبَيْنِ، وَالفَوْرُ، وَالتَّدْلِيْكُ. فَهَذِهِ سَبْعَةٌ.

لَكِنْ يَجِبُ عَلَيْكَ في غَسْلِ وَجْهِكَ أَنْ تُخَلِّلَ شَعْرَ لِحْيَتِكَ إِنْ كَانَ شَعْرُ اللِّحْيَةِ خَفِيْفًا تَظْهَرُ البَشْرَةُ تَحْتَهُ، وَإِنْ كَانَ كَثِيْفًا فَلاَ يَجِبُ عَلَيْكَ تَخْلِيْلُهَا، وَكَذَلِكَ يَجِبُ عَلَيْكَ في غَسْلِ يَدَيْكَ أَنْ تُخَلِّلَ أَصَابِعَكَ عَلَى المَشْهُورِ.

Adapun fardhu wudhu, ada 7:

1-2. Niat saat membasuh wajah,
3. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku,
4. Mengusap seluruh kepala,
5. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki,
6. Faur/muwalah,
7. Tadlik/menggosok.

Namun wajib atasmu saat membasuh wajah melakukan takhlil pada jenggotmu yg tipis, di mana kulitnya tampak terlihat. Adapun jika jenggotmu tebal, maka tidak wajib takhlil. Begitu juga wajib atasmu melakukan takhlil pada ruas-ruas jari, sebagaimana pendapat yang masyhur.

وَأَمَّا سُنَنُ الوُضُوْءِ فَثَمَانِيَةٌ: غَسْلُ اليَدَيْنِ أَوَّلاً إِلى الكُوْعَيْنِ، وَالمَضْمَضَةُ، وَالاِسْتِنْشَاقُ، وَالاِسْتِنْثَارُ، وَهُوَ جَذْبُ المَاءِ مِن الأَنْفِ، وَرَدُّ مَسْحِ الرَّأْسِ، وَمَسْحُ الأُذُنَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا، وَتَجْدِيْدُ المَاءِ لَهُمَا، وَتَرْتِيْبُ فَرَائِضِهِ.

وَأَمَّا فَضَائِلُهُ فَسَبْعَةٌ: التَّسْمِيَةُ، وَالْمَوْضِعُ الطَّاهِرُ، وَقِلَّةُ المَاءِ

بِلاَ حَدٍّ، وَوَضْعُ الإِنَاءِ عَلَى اليَمِيْنِ إِنْ كَانَ مَفْتُوْحًا، وَالغَسْلَةُ الثَّانِيَةُ وَالثَّالِثَةُ إِذَا أَوْعَبَ بِالأُوْلَى، وَالبَدْءُ بِمُقَدَّمِ الرَّأْسِ، وَالسِّوَاكُ. والله أعلم.

Sedangkan sunnah-sunnah wudhu, ada 8 (delapan) :

1. Membasuh kedua tangan sampai pergelangan
2. Madhmadhah
3. Istinsyaq
4. Istintsar; yaitu membuang air yang dimasukkan ke dalam hidup
5. Mengusap kepala dengan membalikkannya dari belakang
6. Mengusap sisi luar dan dalam telinga
7. Mengusap telinga dengan air yang baru, dan tertib

Adapun fadhilahnya (anjuran di bawah kualitas sunnah), ada 7 (tujuh) : 

1. Tasmiyyah
2. Berwudhu di tempat yang suci
3. Meminimalkan penggunaan air
4. Meletakkan wadah air di atas tangan kanan
5. Basuhan kedua dan ketiga, jika telah sempurna pada basuhan pertama
6. Memulai usapan kepada dari arah depan
7. Bersiwak. Wallahua’lam

$ads={2}

(Abdul Bari bin Ahmad Abu an-Naja al-‘Asymawi, Matan al-‘Asymawiyyah fi Madzhab al-Imam Malik, (Mesir: Syarikah asy-Syamurali, t.th), hlm. 4)

Mazhab Syafi’iyah

Dalam kitab matan-nya; al-Ghayah wa at-Taqrib, yg menjadi salah satu rujukan dalam mazhab Syafi’i, menetapkan prakti wudhu dari sisi rukun dan sunnahnnya, sebagaimana berikut:

وفروض الوضوء ستة أشياء: النية عند غسل الوجه وغسل الوجه وغسل اليدين مع المرفقين ومسح بعض الرأس وغسل الرجلين إلى الكعبين والترتيب على ما ذكرناه.

Fardhu wudhu ada 6 :

1. Niat saat membasuh wajah
2. Membasuh wajah
3. Membasuh kedua tangan dan juga kedua siku
4. Mengusap sebagian kepala
5. Membasuh kedua kaki dan juga kedua mata kaki
6. Tertib anggota wudhu sebagaimana telah disebutkan

وسننه عشرة أشياء: التسمية وغسل الكفين قبل إدخالهما الإناء والمضمضة والاستنشاق ومسح الأذنين ظاهرهما وباطنهما بماء جديد وتخليل اللحية الكثة وتخليل أصابع اليدين والرجلين وتقديم اليمنى على اليسرى والطهارة ثلاثا ثلاثا والموالاة.

Dan sunnah-sunnahnya ada 10 (sepuluh) :

1. Tasmiyyah
2. membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam wadah air,
3. madhamadhah
4. istinsyaq
5. membasuh sisi dalam dan luar telingan dengan air yang baru
6. takhlil jenggot yang tebal
7. takhlil ruas-ruas jari tangan dan kaki
8. mendahulukan anggota tubuh yang kanan atas yang kiri
9. melakukan wudhu tiga kali-tiga kali, dan
10. muwalah.

(Ahmad bin al-Husain Abu Syuja’ al-Ashfahani, Matan al-Ghayah wa at-Taqrib, (t.t: ‘Alam al-Kutub, ), hlm. 3-4.)

Mazhab Hanabilah

Dalam kitab matan-nya; Dalil ath-Thalib li Nail al-Mathalib, yg menjadi salah satu rujukan dlm mazhab Hanbali, menetapkan praktik wudhu dari sisi rukun dan sunnahnnya, sebagaimana berikut:

وفروضه ستة: غسل الوجه ومنه المضمضة والاستنشاق وغسل اليدين مع المرفقين ومسح الرأس كله ومنه الأذنان وغسل الرجلين مع الكعبين والترتيب والموالاة.

Fardhu wudhu ada 6 (enam) :

1. Membasuh wajah termasuk madhamadhah dan istinsyaq
2. Membasuh kedua tangan dan juga kedua siku
3. Mengusap seluruh kepala termasuk kedua telinga
4. Membasuh kedua kaki dan juga kedua mata kaki
5. Tertib, dan
6. Muwalah

وسننه ثمانية عشر: (1) استقبال القبلة (2) والسواك (3) وغسل الكفين ثلاثا (4) والبداءة قبل غسل الوجه بالمضمضة والاستنشاق (5) والمبالغة فيهما لغير الصائم (6) والمبالغة في سائر الأعضاء مطلقا (7) والزيادة في ماء الوجه

 وتخليل اللحية الكثيفة (9) وتخليل الأصابع (10) وأخذ ماء جديد للأذنين (11) وتقديم اليمنى على اليسرى (12) ومجاوزة محل الفرض (13) والغسلة الثانية والثالثة (14) واستصحاب ذكر النية إلى آخر الوضوء (15) والإتيان بها عند غسل الكفين (16) والنطق بها سرا (17) وقول أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله مع رفع بصره إلى السماء: بعد فراغه (18) وأن يتولى وضوءه بنفسه من غير معاونه.

Sunnah wudhu ada 18:

1. Menghadap kiblat
2. Bersiwak
3. Membasuh telapak tangan 3 kali
4. Mendahulukan madhmadhah dan istinsyaq sebelum membasuh wajah
5. Memperbanyak hirupan air dalam madhmadah dan istinsyaq, kecuali bagi orang yang berpuasa
6. Menekan anggota wudhu yang dibasuh (dalk)
7-8. Memperbanyak basuhan di wajah –hingga ke sisi luar dan dalam-, (Takhlil jenggot yang tebal,
9. Takhlil ruas-ruas jari
10. Membasuh telinga dengan air yang baru
11. Mendahulukan anggota wudhu yang kanan atas kiri
12. Melebihkan wilayah basuhan (tahjil)
13. Basuhan kedua dan ketiga
14. Senantiasa berniat hingga wudhu selesai
15. Berniat saat membasuh telapak tangan
16. Membaca niat secara sirr
17. Membaca dua kalimat syahadat setelah berwudhu dengan menghadapkan wajah ke langit
18. Mandiri dalam berwudhu, tanpa bantuan orang lain.

(Mar’i bin Yusuf al-Karmi, Dalil ath-Thalib li Nail al-Mathalib, (Riyadh: Dar Thayyibah, 1425/2004), cet.1, hlm. 1/10-12. Lihat juga: Abdul Qadir bin Umar at-Taghlibi asy-Syaibani, Nail al-Ma’arib bi Syarah Dalil ath-Thalib, (Kuwait: Maktabah al-Falah, 1403/1983), cet. 1, hlm. 64-65)

DARI paparan di atas dapat kita pahami bahwa:

Penambahan hukum SUNNAH YANG WAJIB dalam Hukum Fiqih & menetapkan RUKUN WUDHU hanya du , jelas merupakan perbuatan BID’AH DHOLALAH yg sangat nyata .

Demikian jawaban yg bisa aku sampaikan .

Mudah-mudahan ada manfaatnya..

(KUMPULAN HADITS SHAHIH BUKHARI - MUSLIM, DLL/Nurul Lailatirrahmah/rumah-muslimin)

Demikian Artikel " Fakta-Fakta Kenapa Kelompok Wahabi Disebut Ahlul Bid'ah Sesungguhnya "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama