Metode Mengaji Anak-anak Sejak Generasi Pertama Para Sahabat Nabi SAW

METODE MENGAJI ANAK-ANAK SEJAK GENERASI PERTAMA PARA SAHABAT NABI SAW

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Sayyidina Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata : "Apabila guru ngaji anak² sudah tidak peduli lagi kemana anak² itu membuang air basuhan Alwah/ papan kayu ngaji mereka maka lihat saja bagaimana akhir hidup guru tersebut, mati dalam keadaan Nasrani ataukah Yahudi."

"Memang seperti apa cara para sahabat dahulu, wahai Anas?", tanya para Tabi'in.

"Zaman Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, para pengajar anak² menyediakan wadah besar untuk membasuh atau menghapus Alwah/ papan kayu mengaji mereka, lalu setiap hari setelah membersihkan papan kayu maka mereka membuang air basuhan di wadah besar itu ke sebuah galian tanah." (Dari kitab Nizhamul Hukumah An Nabawiyyah almusamma At Taratib Al Idariyyah, Syech Abdul Hayyi Al Kattani Al Hasani, juz 2 hal. 833)

Riwayat di atas menunjukkan bahwa metode tahfizh bil alwah itu sudah dikenal sejak zaman sahabat pertama. Metode yang pada postingan sebelumnya sudah saya singgung. Yaitu metode menghafal dengan cara si murid menulis dahulu atau dituliskan gurunya di lauh/ papan kayu, lalu si murid membaca menyetorkan bacaannya hingga menghafalnya. Ketika sudah baik bacaan atau hafalan ayat yang tertulis di lauh itu maka tulisan itu boleh dihapus, dibasuh dengan air, lalu digunakan untuk menulis ayat² selanjutnya.

$ads={1}

Karena tinta itu adalah bekas dipakai menulis ayat² Al Qur'an maka tinta itu menjadi mulia dan harus dimuliakan, tidak boleh dibuang sembarangan, kalo tidak maka sebagaimana ancaman Sayyidina Anas radhiyallahu 'anhu di atas, dikhawatirkan akan mati su'ul khatimah siapa yang membuangnya sembarangan, atau jika yang membuang sembarangan masih anak kecil yang belum tau apa2 maka gurunya lah yang mendapatkan ancaman itu karena kesembronoannya tidak mengawasi anak didiknya.

Air bekas basuhan lauh itu harus dibuang di tempat yang suci, bukan di tempat kotor apalagi bercampur dengan najis. Ibnul Haj dalam Al Madkhal menjelaskan bahwa air basuhan itu adakalanya dibuang ke laut, sumur, atau dibuatkan sebuah galian di tanah yang suci dan tanah itu tak terinjak.

Terhadap air bekas basuhan saja kita dituntut untuk menjaga adab sedemikian rupa, apalagi terhadap Al Qur'annya langsung, adab membawa, adab membaca, bahkan juga adab menulisnya.

Maka tidak heran kalo penerbit Mushaf Tulis di bawah ini juga menyertakan Adab Menulis Mushaf pada bagian awal mushaf ini, sebagaimana dalam gambar terlampir.

$ads={2}

Keterangan di atas juga menjadi bukti bahwa Al Qur'an itu keramat, bahkan air yang tercampur tinta bekas menulis ayat²nya pun ikut jadi keramat. Imam Al Qurthubi dalam muqaddimah tafsirnya, Al Jami' li Ahkamil Qur'an, bahkan meriwayatkan bahwa para salaf dahulu biasa menjadikan air basuhan lauh/ papan kayu mengaji Al Qur'an itu sebagai obat.

Wa Allah A'lam

Oleh : Ustadz Ahmad Atho

Demikian Artikel " Metode Mengaji Anak-anak Sejak Generasi Pertama Para Sahabat Nabi SAW "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama