Adab Mengkritik Kesalahan Orang Yang Berpengaruh

ADAB MENGKRITIK KESALAHAN ORANG YANG BERPENGARUH

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Mengkritik kesalahan orang yang populer dan disukai masyarakat harus dilakukan secara beradab dan hati-hati. Salah dalam meluruskan,  tujuan tidak akan tercapai. 

Dulu,  ada tokoh bernama Abu Abdillah Muhammad bin Karram as-Sijistani al-Khurasani,  populer dengan sebutan Ibnu Karram. Dia pendiri sekte al-Karramiyah yang berkembang menjadi 12 aliran,  menurut sebuah ensiklopedi. 

Dia condong ke Murjiah dan tasybih/ tajsim. Kata Abul Hasan al-Asyari rahimahullah dalam Maqalat-nya: "al-Karramiyah menjadikan orang munafik sbg orang mukmin yang sesungguhnya, bahwa kafir (hanyalah)  dengan menolak dan mengingkari dengan lisan".

$ads={1}

Masalahnya,  Ibnu Karram ini populer. Kata adz-Dzahabi rahimahullah tentang Ibnu Karram: "mubtadi',  syaikhul Karramiyah,  zahid,  rabbani,  populer,  banyak pengikut... "

Ibnu Karram ini pernah diadili. Dihadapan raja Sijistan rahimahullah,  dia ditanya oleh ulama bernama Ibrahim bin Husain rahimahullah tentang sejumlah perkataannya yang menyimpang. 

"Apa kamu suka mengunjungi ulama? ", kata syekh Ibrahim. 

"Tidak", jawabnya. 

"Lantas darimana ilmu yang menjadi sumber ucapan²mu itu? ", kata syekh Ibrahim. 

"Dari nur yang Allah jadikan dalam diriku", katanya. 

Lalu Ibnu Karram disuruh membaca doa tasyahud,  yang kemudian dibacanya dengan makhraj dan bacaan yang salah. Maka dengan marah syekh Ibrahim berkata, "Berdiri dan pergilah kamu. Semoga Allah melaknatmu! " 

Raja Sijistani diminta syekh Ibrahim untuk mengusir Ibnu Karram. 

Namun, Ibnu Karram terlanjur mendapat simpati. Publik merasa tidak mendapati kesalahannya. Dia zuhud,  puasa di siang hari,  malamnya tahajud,  bahkan keras menentang jahmiyah,  mu'tazilah,  serta rafidhah. Muridnya bertambah dan salah satunya yang bernama Ishaq bin Muhammad Syadz menulis buku "Fadhail Muhammad bin Karram". Ishaq ini kemudian menjadi pendiri aliran Ishaqiyah dari al-Karramiyah. 

$ads={2}

Dia dipenjara selama 8 tahun. Selepas itu dia ke Yerusalem. Dia tidak taubat,  malah tambah menyimpang.  Dia wafat di sana tahun 255H dan dimakamkan di gerbang kota Ariha (Jericho) . Ajarannya dilanjutkan oleh beberapa pengikutnya diantara Ishaq dan al-Hishamiyah.

Oleh: Ustadz Ibnu Rajab

Demikian Artikel " Adab Mengkritik Kesalahan Orang Yang Berpengaruh "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama