Bersandar Kepada Allah dalam Beramal Saleh


BERSANDAR KEPADA ALLAH DALAM BERAMAL SALEH

مَا تَوَقَّفَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِرَبِّكَ وَلاَ تَيَسَّرَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِنَفْسِكَ

Tidak sia sia / tidak akan terhenti sesuatu maksud apabila disandarkan kepada Allah dan tidak mudah tercapai tujuan jika disandarkan kepada diri sendiri

Adab yang ke delapan di hadapan Allah ialah segala perlakuan arif dan salik selalu dengan bersandar kepada Allah, karena Allah, bersumber dari Allah dan berpulang kepada Allah.

Ketika satu hajat, baik hajat duniawi atau ukhrawi, menghampiri salik dan dia ingin agar hajat itu dapat segera dipenuhi maka harus menggapainya dengan bersandar kepada Allah, tidak menggapainya dengan bersandar pada kekuatan diri sendiri. Sebab bila salik menggapainya dengan bersandar kepada Allah maka urusannya akan menjadi mudah dan hajatnya akan mudah terealisasi. Sebaliknya, bila salik menggapainya dengan mengandalkan pada kemampuan dirinya sendiri maka urusannya akan menjadi sulit dan hajatnya akan sulit untuk tercapai. Allah menceritakan tentang Nabi Musa yang memberi nasihat kepada kaumnya:

قَالَ مُوسٰى لِقَوْمِهِ اسْتَعِيْنُوْا بِاللهِ وَاصْبِرُواْ إِنَّ الأَرْضَ لِلهِ يُوْرِثُهَا مَنْ يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ ﴿١٢٨﴾

Musa berkata kepada kaumnya, "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah. Diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba hamba-Nya. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang orang yang bertakwa." (Ayat 128 : Surat al-A'raf)

Setiap orang yang memohon pertolongan kepada Allah dan bersabar di dalam menggapai hajatnya maka akibat yang baik akan diperolehnya. Dan dia tergolong orang orang yang bertaqwa. Allah berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan Mencukupkan (keperluan)nya. (Ayat 3 : Surat at-Thalaq)

Rasulullah bersabda kepada sahabat Suwaid bin Ghaflah:

لَا تَطْلُبِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ طَلَبْتَهَا وُكِّلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أَتَتْكَ مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sebab bila kamu memintanya maka kamu akan diserahkan kepadanya. Dan bila ia datang kepadamu tanpa meminta maka kamu akan diberi pertolongan untuk menguasainya

$ads={1}

Tanda meminta terpenuhinya hajat dengan bersandar kepada Allah ialah bersikap zuhud dalam permintaannya dan sibuk dengan perlakuan Allah. Ketika waktunya telah tiba maka permohonannya akan datang kepadanya dengan seizin Allah.

Sedangkan tanda menggapai terpenuhinya hajat dengan bersandar pada kemampuan diri sendiri ialah bersikap rakus dan berusaha keras untuk mencapainya. Bila hajatnya sulit terpenuhi ia akan menjadi susah dan terjadi perubahan pada dirinya.

Orang yang menggapai hajatnya dengan bersandar kepada Allah maka hajatnya akan terpenuhi secara makna walaupun secara nyata tidak terpenuhi. Sebaliknya, bila menggapai hajatnya dengan bersandar pada kemampuan diri sendiri maka usahanya akan merugi dan waktunya tersia sia, sekalipun secara nyata keinginan dan hajatnya terpenuhi.

Syekh Abu al-Hasan as-Syadzili menyebutkan satu batasan untuk mengetahui orang yang mendapat perhatian Allah dan orang yang dihinakan Allah. Orang yang dikasihi Allah dan orang yang rugi. Beliau berkata: "Ketika Allah memuliakan hamba-Nya maka gerak gerik dan diamnya oleh Allah akan diletakkan pada penghambaan kepada Allah, kepentiangan dirinya akan disembunyikan Allah dan dia selalu hilir mudik dalam penghambaannya kepada Allah. Kepentingannya disembunyikan di balik takdir yang mengalir. Ia tidak melirik pada kepentingannya seolah olah kepentingannya terbuang jauh darinya meskipun secara lahiriyah sebagian kepentingannya mengalir pada dirinya. Ketika Allah berkehendak menghinakan hamba-Nya maka di dalam gerak gerik dan diamnya akan diletakkan pada kepentingan dirinya. Penghambaannya tertutup oleh kepentingannya. Dia selalu hilir mudik dalam memenuhi syahwatnya, seolah olah penghambaannya kepada Allah terbuang jauh meskipun lahiriyahnya ia tetap mengerjakannya."

Beramal dengan bersandar kepada Allah akan membuahkan kedekatan kepada Allah. Sedangkan amal karena Allah akan membuahkan pahala. Beramal dengan bersandar kepada Allah pelakunya akan selalu menyaksikan Sang kekasih di dalam hijab yang menghalangi. Beramal karena Allah akan membuahkan pahala di balik pintu. Beramal dengan bersandar kepada Allah tergolong ahli hakikat sedangkan beramal karena Allah tergolong ahli syari'at. Orang yang beramal karena Allah tergolong orang yang ada dalam firman Allah "Hanya kepada-Mu aku menyembah". Sedangkan orang yang beramal dengan bersandar kepada Allah termasuk dalam firman Allah "Hanya kepada-Mu akau memohon pertolongan".

Hikmah yang lalu menggambarkan keadaan hamba Allah yang mempunyai maksud yang baik yaitu mau mengubah dunia supaya menjadi tempat kehidupan yang sentosa, tetapi ternyata gagal melaksanakan maksudnya apabila dia bersandar kepada kekuatan dirinya sendiri. Allah menggambarkan dunia sebagai tempat huru hara dan kekeruhan. Siapa yang memasukinya pasti berjumpa dengan keadaan tersebut. Kekuatan huru hara dan kekeruhan yang ada pada dunia sangatlah kuat karena Allah yang meletakkan hukum kekuatan itu padanya. Upaya untuk mengubah apa yang Allah tentukan akan menjadi sia sia. Allah yang menetapkan sesuatu perkara, hanya Dia saja yang dapat mengubahnya. Segala kekuatan, baik dan buruk, semuanya datang daripada-Nya. Oleh karena itu jika mau menghadapi sesuatu kekuatan yang datang dari-Nya juga harus dengan kekuatan-Nya pula. Kekuatan yang paling kokoh untuk menghadapi kekuatan yang dimiliki dunia ialah kekuatan berserah diri kepada Allah. Kembalikan semua urusan kepada-Nya. Rasulullah telah memberi pengajaran dalam menghadapi bencana dengan ucapan dan penghayatan:

إِنَّا لِلهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

Kami datang dari Allah. Dan kepada Allah kami kembali

Semua perkara datangnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah juga. Misalnya, api yang dinyalakan, dari mana datangnya jika tidak dari Allah dan ke mana perginya bila dipadamkan jika tidak kepada Allah.

Apabila sesuatu maksud disandarkan kepada Allah maka menjadi hak Allah untuk melaksanakannya. Nabi Adam mempunyai maksud yang baik, yaitu mau menyebarkan agama Allah di atas muka bumi ini dan menyandarkan maksud yang baik itu kepada Allah dan Allah menerima maksud tersebut. Setelah Nabi Adam wafat, maksud dan tujuan beliau diteruskan. Allah memerintahkan maksud tersebut dipikul oleh nabi nabi yang lain sehingga kepada nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad. Setelah Nabi Muhammad wafat ia dipikul pula oleh para ulama yang menjadi pewaris para nabi. Ia tidak akan berhenti selama ada orang yang menyeru kepada jalan Allah. Jika dipandang dari segi perjalanan pahala maka bisa dikatakan pahala yang diterima oleh Nabi Adam karena maksud baiknya berjalan terus selama agama Allah berkembang dan selagi ada orang yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya ini.

$ads={2}

Maksud berserah diri kepada Allah, bersandar kepada-Nya dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya mesti difahami dengan mendalam. Kita hendaknya memasang niat yang baik, dan beramal bersesuaian dengan maqam kita. Allah yang menggerakkan niat dan melaksanakan amal tersebut. Cara pelaksanaannya adalah hak mutlak Allah. Kemungkinan kita tidak sempat melihat dasar yang kita bina siap menjadi bangunan, namun kita yakin bangunan itu akan siap karena Allah mengambil hak pelaksanaannya. Maksud dan tujuan kita tetap akan menjadi kenyataan walaupun kita sudah memasuki liang lahad. Pada waktu masih hidup kita hanya sempat meletakkan batu pondasi, namun pada saat itu mata hati kita sudah dapat melihat bangunan yang akan siap. Rasulullah sudah dapat melihat perkara yang akan berlangsung sesudah baginda wafat, di antaranya ialah kejatuhan kerajaan Rum dan Persia ke tangan orang Islam semasa pemerintahan khalifah ar-rasyidin. Seluruh nabi nabi yang diutus sebelum Nabi Muhammad sudah dapat melihat kedatangan baginda sebagai penutup dan pelengkap kenabian. Begitulah tajamnya pandangan mata hati mereka yang bersandar kepada Allah dan menyerahkan kepada-Nya wewenang untuk mengurus.

Tidak ada jalan bagi seorang hamba kecuali berserah diri kepada Tuannya. Semua Hikmah dari yang pertama hingga yang ke 34 ini, sekiranya disambungkan akan membentuk satu landasan yang menuju satu arah yaitu berserah diri kepada Allah. Hikmah hikmah yang telah dipaparkan membicarakan soal pokok yang sama, ditinjau dari berbagai sudut dan aspek supaya lebih jelas dan nyata bahwa hubungan seorang hamba dengan Tuhan yang sebenarnya ialah berserah diri, ridla dengan perlakuan-Nya. Rasulullah telah mewasiatkan kepada Ibnu Abbas:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْخَلاَئِقَ لَوْ جَاهَدُوْا أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِمَا لَمْ يَكْتُبْهُ اللهُ لَكَ مَا قَدَرُوْا عَلَى ذَلِكَ وَلَوْ جَاهَدُوْا أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَكْتُبْهُ اللهُ سُبْحَانَهَ لَكَ لَمْ يَقْدِرُوْا عَلَى ذَلِكَ طُوِيَتِ الصُّحُفُ وَجَفَّتِ الْأَقْلاَمُ

Apabila kamu memohon, maka mohonlah kepada Allah. Apabila kamu meminta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa seandainya sekalian makhluk saling bantu membantu kamu untuk memperoleh sesuatu yang tidak ditulis Allah untuk kamu, pasti mereka tidak akan sanggup mewujudkannnya. Dan seandainya seluruh makhluk mau membahayakan kamu dengan sesuatu yang tidak ditulis Allah buat kamu, niscaya mereka tidak akan sanggup berbuat demikian. Segala buku telah terlipat dan segala pena telah kering.

Oleh: Ustadz Ahmad Fauzi Hamzah Syams

Demikian Artikel " Bersandar Kepada Allah dalam Beramal Saleh "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama