Sekilas tentang 'Gertak' Di dalam Islam

SEKILAS TENTANG 'GERTAK' DI DALAM ISLAM

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Saya sering terkesima dengan gaya orang-orang menggertak; kadang menggetarkan, kadang pula lucu karena tersirat pemandangan konyol di sana.

Salah satu gaya gertakan konyol adalah yang disebutkan dalam kitab Kifāyah al-'Awāmm, sebuah kitab Ilmu Kalam buah tangan Syaikh Muhammad al-Fudlālī.

قال السنوسي وليس يكون الشخص مؤمنا إذا قال أنا جازمٌ بالعقائد ولو قُطِعت قطعًا قطعًا لا أرجع عن جزمي هذا بل لا يكون مؤمنا حتى يعلم كلَّ عقيدة من هذه الخمسين بدليلها

“Imam Al-Sanūsī berkata: Seseorang tidaklah beriman jika [hanya] berkata ‘saya sangat mantap dengan akidah. Meskipun saya dipotong-potong, saya tidak akan melepas kemantapan saya.’ Melainkan, dia beriman hanya kalau mengetahui tiap-tiap akidah yang 50 lengkap dengan dalilnya.”

Ini sebetulnya adalah arahan dari Imam Al-Sanūsī bahwa keimanan yang benar itu disokong oleh kemampuan berargumen dan pembuktian yang benar, tidak cukup hanya dengan gertakan. Mereka yang mengaku beriman namun dengan dasar gertakan semata sebenarnya cuma melempar pepesan kosong.

$ads={1}

Banyak orang meremehkan kemampuan berargumen dan kemampuan mengajukan bukti yang kuat. Mereka beranggapan, yang penting gertak-gertak-gertak, yang penting mbacot-mbacot-mbacot, tanpa peduli bahwa argumennya berantakan, tanpa mengindahkan bahwa bukti-bukti yang diajukannya lancung. Lalu saat lawan bicaranya kelelahan atau sudah malas menanggapi, mereka lantas merasa gagah.

Lalu, bagaimana caranya berargumen dan mengajukan bukti yang benar? Wah, tulisan ini akan terlalu panjang kalau harus menjawab pertanyaan itu. Sebaiknya kita fokus bicara tentang ‘gertak’ saja.

Setiap bangsa pasti punya gaya gertaknya sendiri sesuai kebudayaan masing-masing. Apapun bahasa yang dipakainya, gertak-menggertak adalah salah satu cara komunikasi yang digunakan penuturnya dalam situasi tertentu.

Tidak cuma manusia, binatang juga makhluk penggertak. Biasanya, binatang akan menggertak saat situasinya terancam. Seekor kucing di rumah saya akan diam menatap tajam ancaman di depannya, sambil mengeluarkan suara menggeram, tanda siaga penuh. Saya paham, kucing itu sedang melempar gertak sambal.

Itulah kenapa, beberapa orang memelihara anjing di balik pagar rumahnya. Si tuan rumah sedang memanfaatkan makhluk penggertak ini bagi orang asing yang punya niat jahat. Anjing memang punya naluri alami untuk menggertak: menggonggong keras-keras dengan posisi siap menyerang.

Beberapa hewan lain punya strategi kamuflase dengan menggertak pemangsanya. Sebagian kupu-kupu punya sayap yang bergambar mirip burung hantu. Itu adalah mekanisme gertak agar pemangsanya takut untuk mendekat.

Gurita penyamar (Thaumoctopus mimicus) punya kemampuan mimikri. Dia sanggup mengubah warna tubuhnya sesuai lingkungannya. Yang paling keren adalah berubah warna hingga mirip ular laut. Itu adalah mekanisme menggertak calon pemangsanya agar gentar untuk mendekatinya.

Kata 'gertak' dan 'gentar' memiliki suara yang mirip, juga punya berhubungan dekat. Gertak memang bertujuan membuat orang lain gentar. Dan persis itulah yang dilakukan manusia saat menggertak.

Tentu masih belum lekang dalam ingatan kita sebuah video viral. Video itu mempertontonkan seorang ibu pengendara motor yang melanggar peraturan lalu lintas. Kepada polisi yang menilangnya, ibu itu berbicara lantang dan posisi tubuhnya seolah siap menerkam: "Aku adalah keluarga komandan anu!" Kita semua tahu, ibu itu sebenarnya sedang menggertak.

Video semacam ini akan terus bermunculan, sebab pola gertaknya sudah mulai bisa ditebak. Mulai tidak seru lagi. Sialnya, gerak-gertak semacam itu kadang berhasil pula dalam banyak kasus pelanggaran lalu lintas. Mungkin inilah alasan kenapa gertakan semacam ini sering dipakai di luar kasus pelanggaran lalu lintas.

$ads={2}

Orang Indonesia punya mekanisme simbolis dalam menggertak. Bentuknya rupa-rupa. Salah satu yang sering kita lihat adalah menampangkan gelar. Semakin panjang deretan gelarnya, semakin percaya diri seseorang mempertontonkannya. Nah, saat dia mempertontonkan gelar itu untuk keperluan yang tidak relevan, percayalah saat itu dia sedang menggertak. Tujuannya sama, membuat orang lain gentar.

Konon katanya, di negara-negara asal gelar-gelar ini kita adopsi, orang akan menampangkan gelarnya hanya untuk keperluan yang relevan saja. Di kegiatan seminar atau diskusi, misalnya, mereka tidak merasa butuh membubuhkan gelar akademis, apalagi hingga berderet-deret panjang bikin bingung yang baca. Ya, saya kadang bingung menentukan mana nama aslinya.

Jadi, di Indonesia, kata 'gertak', 'gentar', dan 'gelar' punya suara yang mirip, hubungannya juga dekat.

Oleh: Ustadz Muhammad Hilal

Demikian Artikel " Sekilas tentang 'Gertak' Di dalam Islam "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama