Logika Sesat Orang Yang Ujub

LOGIKA SESAT ORANG YANG UJUB

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Nikmat, apapun itu bentuknya, adalah murni fadhal/ anugerah dari Allah ta'ala, jadi satu nikmat tidak menjadikan Allah ta'ala harus memberi kenikmatan yang lain.

Maka menjadi suatu hal yang sangat aneh misalkan ada seorang yang alim/ cendekiawan yang miskin lalu ia melihat ada orang bodoh tapi kaya raya lalu berkata, "Bagaimana bisa orang 'alim seperti saya dijadikan miskin begini, sedangkan dia yang bodohnya seperti itu malah kaya raya? Tidak adil rasanya". Ucapan orang alim yang seperti ini adalah bukti ia dikuasai sifat 'ujub/ besar kepala. Ia tidak sadar bahwa ke'alimannya itu anugerah dari Allah ta'ala, lalu atas dasar apa ia merasa berhak mendapatkan anugerah lainnya?, sungguh ini adalah 'ainul jahl, kata Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali, atau kalau bahasa anak sekarang dikatakan kegoblokan yang HQQ. 

Begitulah Al Imam Al Ghazali radhiyallahu 'anhu menjelaskan bahwa betapa sifat 'ujub/ besar kepala adalah sifat yang bodoh. 

$ads={1}

Logika ini juga bisa diqiyaskan pada nikmat lainnya. Misalkan ada orang yang merasa dirinya tampan tapi mendapatkan istri yang jelek dan ada temannya yang sebaliknya, jelek tapi istrinya cantik. Orang tampan yang besar kepala akan merasa bahwa ketampanannya itu menjadikan ia berhak, atau merasa bahwa Allah ta'ala seharusnya memberi ia pasangan yang cantik. Ia tidak sadar bahwa tampan adalah anugerah dari Allah ta'ala, bukan atas amal usahanya, lalu atas dasar apa ia menuntut agar Allah ta'ala memberinya anugerah yang lain?. 

Ketika seseorang sadar akan logika ini, maka ia akan memiliki sifat khouf/ takut dan khawatir : "Allah ta'ala memberiku anugerah sebanyak ini padahal saya tidak punya amal apa2, Dia memberiku keistimewaan yang tidak diberikan pada orang lain. Yang bisa melakukan ini, memberi anugerah tanpa sebab, tentu bisa saja mencabut anugerah itu tanpa sebab pula. Lalu bagaimana jika anugerah kenikmatan selama ini hanya istidraj?" 

Dari Kitabul Arbai'an fi Ushulid Din, Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali.

-•×•- 

Dalam sebuah pengajiannya, Gus Baha' berkata, dalam Kitab Ithaf Sadatil Muttaqin syarah Ihya'ulumiddin, Sayyid Murtadha Az Zabidi mengatakan bahwa ketika Imam Al Ghazali selesai menulis kitab Ihya', beliau merasa bahwa kitab itu terlalu tebal, terlalu panjang, sehingga mungkin menjadi kurang menarik atau menjadikan orang malas untuk menelaahnya hingga selesai, maka Imam Al Ghazali pun meringkas, mengambil intisari dari kitab Ihya'nya, dan jadilah kitab saripati itu diberi nama Kitabul Arba'in fi Ushulid Din. 

$ads={2}

Oleh: Ustadz Ahmad Atho

Demikian Artikel " Logika Sesat Orang Yang Ujub "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama