Haram Menjelaskan istiwa dengan Makna Berada, Menetap dan Tempat

HARAM MENJELASKAN ISTIWA DENGAN MAKNA BERADA, MENETAP DAN TEMPAT

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Masalah Allah bersemayam diatas Arsy sepertinya tidak pernah kelar-kelar dibahas oleh kelompok yang melarang mentakwil "arti" dari firman Allah SWT tersebut.

Imam Malik memilih Tafwidh saat menjawab pertanyaan dari orang Bahlul tentang Kaifiyyah Istawa, kurang lebih begini penjelasannya:

- ISTIWA, ma'lum (sudah diketahui penyebutannya dalam Quran) dan maknanya secara Bahasa yakni "Duduk, Berdiam, Menetap, Berada".

Tapi ketika sifat ISTIWA disandarkan kepada Allah, maka MAKNA secara SIFAT wajib diserahkan kepada Allah. Tidak boleh bertanya dan TIDAK BOLEH menjelaskan maknanya dengan tafsiran apapun termasuk Berada/Menetap.

- Dan Kaifiyyah (tata cara Istiwa) nya itu Majhul alias Tidak Diketahui, karna Makna secara sifat sudah ditafwid (diserahkan) kepada Allah. Jadi Tafwid itu melarang kita utk membayangkan Dzat dan menghentikan kita agar tidak menjelaskan nya dengan makna secara dzohir nya.

$ads={1}

- Dan Kaifiyyah (tata cara Istiwa) nya adalah Ghairu Ma'qul alias Tidak Masuk Akal. Karna Dzat Allah MUSTAHIL memilki Kaifiyyah, oleh karna itu Kaifiyyah tidak masuk akal apabila disandarkan kepada Allah. Segala sesuatu yang memiliki Kaifiyyah adalah Makhluk, dan Allah itu Kholiq, bukan Makhluk.

Jadi, HARAM menjelaskan Istiwa dengan makna Berada/Menetap/Bertempat di arah atas, karna itu menunjukkan KAIFIYYAH yakni keterangan Tempat bagi Dzat Allah. Sedangkan Dzat Allah itu tidak bertempat dlm Azali (zaman ketiadaan makhluk) sampe sekarang (stelah makhluk diciptakan) Allah tetap sebagaimana dulu dan gak ada sifat Allah yang berubah akibat terciptanya makhluk.

"Istiwa di atas Arsy" adalah sifat Allah. Qoul Imam al Baghowi (516H) yang dinukil Imam adz Dzahabi :

ويكل علمه إلی الله

Dan seseorang menyerahkan ilmunya kepada Allah

ويعتقد أن الله تعالی منزه عن سمات الحدث

Dan meyakini sesungguhnya Allah ta'ala adalah yang disucikan dari tanda2 baru

(Al Uluw lil Aliyil Ghofar hal 262, Imam Adz Dzahabi)

Ayat-ayat yang berkaitan dengan Sifat, maka tafsirnya adalah lafadznya, dan BUKAN dijelaskan dengan makna secara dzohir nya 

Allah disucikan dari tanda2 baru seperti Berada/Menetap, makanya saya nanya nih kpd Sobat Wahabi, kalau Allah disifati dengan makna "Berada di atas nya Tempat", maka sebelum Tempat itu diciptakan, Allah Berada di sebelah mana?

- Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan Kaifiyyah Istiwa bagi Allah. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna dzhahirnya. Tentu makna dzhahir dari "Istawa" adalah Duduk, Berada, Bertempat, atau Menempelnya suatu benda di atas benda yang lain,, itulah yang dimaksud dengan Kaifiyyah.

Makna Dzhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun orang tersebut meragukan tentang Kaifiyyah dari sifat "Istiwa" tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik. Dan artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya Kaifiyyah bagi Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai Ahli Bid’ah dlm Aqidah.

- Ada pelajaran penting yang dapat kita tarik dari peristiwa ini. Jika Imam Malik sangat marah terhadap orang tersebut hanya karena menetapkan adanya Kaifiyyah bagi Allah, hingga memvonisnya sebagai Ahli Bid’ah (dlm aqidah), maka tentunya beliau akan lebih marah lagi terhadap mereka yang dengan terang-terangan mengartikan Istawa dengan Duduk, Berada, Menetap, Bertempat ataupun Bersemayam.

Dapat kita pastikan seorang yang berpendapat kedua semacam ini akan lebih dimurkai lagi oleh al-Imam Malik. Hal itu karena memaknai Istawa dengan makna Duduk, Nerada, Menetap atau Bersemayam tidak hanya menetapkan adanya Kaifiyyah bagi Allah, tapi jelas merupakan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya.

- Dan sesungguhnya sangat tidak mungkin seorang alim sekaliber al-Imam Malik berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat dan arah. Al-Imam Malik adalah Imam kota Madinah (Imam Dar al-Hijrah), ahli hadits terkemuka, perintis fiqih madzhab Maliki, sudah barang tentu beliau adalah seorang ahli tauhid, berkeyakinan tanzih, mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk-Nya.

Tentang kesucian tauhid al-Imam Malik ibn Anas, beliau al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki, salah seorang ulama Madzhab Maliki yang terkenal sekitar abad 7 Hijriyah, dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.

$ads={2}

Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta”

(Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta).

- Dalam penjelasan hadits ini, al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah Tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar-, dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja.

Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”. Dengan demikian, hadits ini oleh al-Imam Malik dijadikan salah satu dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.

Demikian Artikel " Haram Menjelaskan istiwa dengan Makna Berada, Menetap dan Tempat "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah - 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama