Sikap Menenggang Perasaan Nabi Muhammad SAW dan Shalahuddin Al Ayyubi

SIKAP MENENGGANG PERASAAN NABI MUHAMMAD SAW DAN SHALAHUDDIN AL AYYUBI

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Suatu malam, sebelum iqamah Isya dikumandangkan, seorang laki-laki datang dan ingin berbicara dengan Nabi Saw. Sepertinya yang ia bicarakan agak pribadi sehingga ia berbisik dengan Nabi. Nabi Saw pun mendengarkannya dengan penuh perhatian. Para sahabat sabar menunggu. Mereka mengira pembicaraan itu tidak akan lama, agar iqamat bisa segera dikumandangkan dan shalat pun bisa dilakukan di awal waktu.

Setelah menunggu beberapa lama, laki-laki itu belum juga selesai berbisik dengan Nabi Saw. Dan, Nabi pun setia mendengarkan bisikannya. Tak tampak sedikitpun Nabi merasa gelisah apalagi bosan. Nabi mendengarkan curhatan laki-laki itu secara seksama dan penuh perhatian.

Para sahabat yang sudah terlanjur berdiri dan siap-siap untuk menyusun shaf, akhirnya duduk kembali. Mereka berharap tidak lama lagi pembicaraan itu selesai sehingga shalat bisa segera didirikan. Tapi ternyata laki-laki itu belum juga berhenti berbicara dengan Nabi Saw. Nabi Saw pun tidak berhenti memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada pembicaraannya. Jangankan untuk menghentikannya, menampakkan rasa bosan dan jenuh pun tidak.

$ads={1}

Sampai akhirnya beberapa sahabat membaringkan diri karena sudah lelah menunggu. Bahkan, sebagian mereka akhirnya tertidur saking lama menunggu. 

------

Shalahuddin al-Ayyubi, Sultan Mesir dan Syam, sedang duduk-duduk bersama para menterinya. Beberapa perwira sedang bermain shaulajan di lapangan; sebuah olahraga para mujahid, mirip dengan permainan hoki, tetapi menggunakan bola seperti takraw dan sambil menunggang kuda.  

Tiba-tiba bola terlempar jauh dan hampir mengenai sang Sultan yang sedang berbicara dengan para menterinya. Perwira yang memukul bola tersebut merasa takut bercampur segan. Ia ingin menjemput bola itu, tapi ia malu karena bola hampir mengenai sang Sultan yang sangat berwibawa dan disegani siapapun itu. 

Shalahuddin menyadari hal tersebut. Maka, agar sang perwira tidak merasa malu dan segan, ia sengaja mengalihkan pandangan ke arah lain dan terus berbincang-bincang dengan para menterinya seolah tak ada apapun yang terjadi.

Melihat sang Sultan mengarahkan pandangannya ke arah yang lain, dan asyik berbicara dengan para menterinya, perwira tersebut mengira bahwa Sultan Shalahuddin tidak melihat kalau bola shaulajan itu hampir mengenai dirinya. Dengan perasaan lega ia pun melangkah ke arah bola itu dan segera mengambilnya. 

------

Di dalam masjid, seorang guru dan para muridnya sedang mengkaji masalah agama. Tiba-tiba tercium bau tidak sedap. Dari aromanya jelas ada seseorang yang telah buang angin. Sang guru berkata, “Siapa yang merasa buang angin silahkan pergi berwudhuk.” 

Tak seorang pun yang bangkit, karena malu. Akhirnya seorang murid memberi saran, “Tuan Guru, bagaimana kalau semua kita memperbarui wudhuk kembali?” Sang guru sangat kagum mendengar saran sang murid. Akhirnya mereka semua memperbarui wudhuk, dan tak seorang pun yang tahu siapa yang telah ‘buang gas’ di majelis tadi.

------

Apa yang membuat Rasulullah Saw; manusia yang sangat mulia, kekasih Allah, pujaan hati manusia, mau bertahan mendengarkan curhat laki-laki tersebut, meskipun akhirnya shalat Isya terlambat ditunaikan?

$ads={2}

Apa yang membuat Shalahuddin; Sultan yang agung dan bijaksana itu mengabaikan ‘kelalaian’ sang perwira yang memukul bola shaulajan terlalu keras sehingga hampir saja mengenai dirinya? 

Apa yang membuat sang guru memuji usul muridnya untuk memperbarui wudhuk guna menutupi rasa malu salah seorang anggota majelis yang tidak sengaja ‘buang angin’?

Itulah yang disebut dengan jabrul khathir جَبْرُ الْخَاطِر . Atau dalam arti sederhananya menenggang perasaan. Dalam bahasa Minang ini lebih terasa lagi; manenggang raso.

Ini adalah ibadah yang utama. Imam Sufyan ats-Tsauri mengatakan:

مَا رَأَيْتُ عِبَادَةً يَتَقَرَّبُ بِهَا الْعَبْدُ إِلَى رَبِّهِ مِثْلَ جَبْرِ خَاطِرِ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ

“Tidak ada ibadah yang lebih baik dilakukan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, selain jabrul khawatir (menjaga perasaan) saudaranya yang muslim.”

Senada dengan ini ada sebuah hadits :

إِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ بَعْدَ الْفَرَائِضِ إِدْخَالُ السُّرُورِ عَلَى الْمُسْلِمِ (رواه الطبراني فى المعجم الكبير)

“Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah setelah amalan yang fardhu adalah memberikan kegembiraan kepada seorang muslim.”

Kita barangkali belum bisa memberikan kebahagiaan pada orang lain, tapi setidaknya berusahalah untuk menjaga perasaannya. Jangan buat ia malu, walaupun mungkin ia telah melakukan sebuah kesalahan. Dengan menjaga perasaannya, semoga Allah juga akan menjaga perasaan kita dari segala sesuatu yang tidak membahagiakan. Amiin.

Oleh: Ustadz Yendri Junaidi

Demikian Artikel " Sikap Menenggang Perasaan Nabi Muhammad SAW dan Shalahuddin Al Ayyubi "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama