Jangan Terlalu Sering Sowan Ke Kyai, Habaib dan Ulama

JANGAN TERLALU SERING SOWAN KE KYAI, HABAIB DAN ULAMA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Diantara nikmat yang diungkapkan oleh Imam Asy Sya'rani rahimahumallah dalam Kitab Minanul Wustha adalah beliau tidak suka sering² berkumpul dengan tokoh² besar, baik dari kalangan Ulama, Auliya, pejabat, dan sebagainya. Sebab beliau khawatir tidak bisa memenuhi hak² mereka yang menjadi kewajiban beliau. Diantaranya adalah kewajiban memuliakan mereka. Sudah menjadi kaidah, bahwa sesuatu semakin sering dilihat maka akan semakin tidak istimewa keberadaannya.

Oleh karenanya banyak ulama berkata, "Yang paling sedikit mendapatkan berkah dari seorang Kyai biasanya adalah pelayannya, istrinya, dan anaknya. Sebab mereka terlalu sering melihat Sang Kyai dengan sisi² kemanusiaannya." 

Oleh sebab itu juga, tidak ada penduduk asli Makkah yang memuliakan Baitullah seperti orang luar (misalnya orang Indonesia) memuliakannya. Mereka tidak menangis saat menatap Ka'bah sebagaimana orang luar menangis saat menatapnya. Itu sebab mereka sering melihatnya, maka dianggap biasa saja, tidak ada istimewanya. Oleh sebab inilah Syari'at menganjurkan agar orang berhaji paling sering maksimal 5 tahun sekali, agar rasa rindunya benar² sempurna, sehingga ia bisa memuliakan saat berjumpa kembali dengannya. 

Minanul Wustha, hal. 313 

$ads={1}

Memang penyakit orang yang terlalu dekat dengan Kyai itu biasanya jadi meremehkannya, menganggapnya seperti orang biasa, atau minimal berkurang rasa ta'zhimnya. Hilangnya rasa ta'zhim itu biasanya tidak saat ia berhadapan dengan Sang Kyai, tapi di belakangnya, saat bersama orang lain, apalagi saat mengobrol dengan kawan²nya. Misalnya dengan menceritakan hal² privat dari Sang Kyai, kadang bahkan ada yang menjadikan Kyainya sebagai bahan lelucon. 

Baca Juga: Syariat Islam Terjaga Karena Ulama Tidak Diam Atas Kesalahan

Ada seorang santri, sangat dekat dengan Kyainya, tampak begitu total khidmahnya, sejak pondok dirintis hingga santrinya hampir ribuan. Tapi sebab kedekatannya itu ia justru kehilangan adab kepada Kyainya, sering menjadikan beliau sebagai bahan lelucon, bahkan seringkali mengarah pada meremehkan dan merendahkannya. Dan pada akhirnya ia pun su'ul khatimah nyantrinya. Ia tersesat ikut aliran Kanjeng Dimas. Bahkan ia juga menipu banyak orang, hingga milyaran kerugian mereka semua, dan penipuan itu banyak dengan membawa nama Kyainya. Ia kualat sebab kedekatannya dengan Sang Kyai. 

Oleh: Ahmad Atho

Demikian Artikel " Jangan Terlalu Sering Sowan Ke Kyai, Habaib dan Ulama "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama