Mengenal Syeikh Muhammad Hasyim Majzub Al-Husainy

MENGENAL SYEIKH MUHAMMAD HASYIM MAJZUB AL-HUSAINY

RUMAH-MUSLIMIN.COM - FB mengingatkan kembali dengan hari ini 7 tahun yang lalu, yaitu hari wafatnya sheikh Hashim Majzub Alhusainy, Allamah mujahid hafiz faqih zahid shabir, yang sering disebut “Shafi’i Shaghir” dan juga sering disebut “Baqiyyatu Salaf shaleh”. Beliau lahir tahun 1932 di Damaskus dan meninggal pada subuh Rabu 17 Ramadhan tahun 2016.

Di kalangan ulama senior negeri Sham, seperti sheikh Kurayyim Rajeh, sheikh Wahbah Zuhaily dan Sheikh Buty rahimahumallah, sosok sheikh Hashim Majzub merupakan seorang yang sangat dihormati. Banyak untold story terkait kenapa orang seperti itu, se-alim itu, se-cerdas itu, dam se-zuhud itu terisolir dan termarginalkan.

Dulu, ketika aku masuk ke masjid Iman menghadiri pengajian sheikh Buty, setiap hari senin dan kamis, aku selalu melihat dua orang laki-laki sepuh, duduk di kursi dan selalu menunduk.

Wajahnya terlihat tenang, salah seorang dari mereka berpakaian putih, memakai imamah khas ulama Sham, jenggot putihnya yang lebat menambah wibawanya. Aku kenal laki-laki itu, beliau adalah sheikh Wahby Suleyman Ghawijy Al Albany, kalau kawan-kawan Albania dan Macedonia yang sering ke rumah beliau menyebut beliau Vehbi Sulejman Gavo├ži. Beliau merupakan salah satu rujukan mazhab Hanafi di Suriah.

Sebelahnya seorang laki-laki sepuh, duduk tenang dan menunduk, mulutnya bergerak sedikit sepertinya sedang berzikir, pakaiannya bersih dan rapi, berwarna putih, jenggotnya agak kuning dan tidak terlalu lebat. Setiap aku masuk ke masjid Iman, sosok itu pasti ada di tempat biasa.

Namun, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanku, “Siapakah laki-laki itu?”. Seorang senior, namanya Mas Sholehuddin cuma mengatakan, “Kalau ente ada kesempatan salaman dengan laki-laki itu, mintalah didoakan olehnya…”. Jawaban seperti itu semakin membuatku penasaran.

Sampai suatu ketika, alm. Sheikhna Al Buty mengatakan dalam pengajian, “Laki-laki itu…” kata Al Buty sambil menunjuk ke arah seorang laki-laki yang selama ini penuh tanda tanya bagiku. “Pengajian yang saya berikan selama puluhan tahun mulai dari masjid Sanjaqdar, masjid Tenggis, sampai masjid Iman hari ini, semuanya insyallah akan masuk dalam catatan amal baik laki-laki itu, sheikh Hashim Majzub. Karena permintaan dan permohonannya saya mengadakan pengajian ini. Saya doakan semoga beliau panjang umur, sehat wal afiat…”, kata Al Buty dengan suara terbata-bata karena sedih.

Setelah fitnah yang terjadi pada tahun 1980, beliau masuk penjara dan baru keluar 22 tahun kemudian. Ketika beliau keluar dari penjara, beliau berkata, “Saya mendapat nikmat yang luar biasa, saya tidak tahu bagaimana harus mensyukurinya”. Ketika ditanya nikmat apa, beliau menjawab, “Selama saya di penjara, puluhan tahanan berhasil menghafalkan Quran di tangan saya, mereka menghafal dari saya…”.

Diantara pesan beliau kepada anak-anaknya yang ditulis sebelum wafat adalah…”Apabila aku meninggal kelak, tolong jangan sampai warisan buku-buku ku dijual, apapun alasannya. Kalau kalian tidak suka, maka wakafkan saja buku itu untuk perpustakaan umum atau perpustakaan sekolah….”

$ads={1}

Rahimallah sheikh Hashim Majzub, engkau pergi meninggalkan dunia dan hiruk pikuknya serta kezalimannya, menuju Rabbmu yang engkau cintai dan Inshallah mencintaimu.

Sebuah kebanggaan pernah bertemu beliau.

Note:

Pertama: Dulu Imam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan ketika beliau dimasukkan dalam penjara, “Kesunyian dan kegelapan penjara bukan pengasingan bagiku, justru disana aku lebih leluasa bercengkrama dengan kitab dan sunnah yang ku simpan di dalam hatiku”. Imam Ibnu Hazm pernah mengatakan ketika buku dna tulisan-tulisan beliau dibakar oleh Pemerintah, “Kalian boleh membakar buku dan tulisanku, itu hanyalah kertas dan tinta, ilmuku selalu ada di dadaku, dia ikut kemanapun aku pergi”.

Kedua: Gelapnya penjara Tadmur tidak membuat sheikh Majzub kesepian, karena dadanya penuh dengan Quran dan Sunnah, disana beliau mengulang hafalannya, menyebar ilmunya, dan tembok-tembok itu tidak menghalangi beliau untuk menyebarkan cahaya Ilahi. Wajar kalau beliau mengatakan “Saya mendapat nikmat yang luar biasa, saya tidak tahu bagaimana harus mensyukurinya”. Ketika ditanya nikmat apa, beliau menjawab, “Selama saya di penjara, puluhan tahanan berhasil menghafalkan Quran di tangan saya, mereka menghafal dari saya…”.

Oleh: Saief Alemdar

Demikian Artikel " Mengenal Syeikh Muhammad Hasyim Majzub Al-Husainy "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jama'ah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close