Kisah Pertemuan Uwais Al-Qarni dengan Sayyidina Umar bin Khattab

KISAH PERTEMUAN UWAIS AL-QARNI DENGAN SAYYIDINA UMAR BIN KHATTAB

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Kisah Imam Uwais al-Qarni yang di tampilkan Imam Abdullah al-Haddad dalam kitab Da'watuttaammahnya panjang sekali. Dengan berbagai versi. Hingga satu lembar lebih! Beliau Sayyid al-Haddad memulainya dengan hadis masyhur riwayat sahabat Abu Hurairah RA. yang terjemahnya banyak sekali di temukan di internet. Sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah ra., dia meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla mencintai dari kalangan makhluk-Nya orang-orang yang bersih, tersembunyi dan bebas dari dosa, rambut mereka berantakan, wajah mereka berdebu, perut mereka kelaparan, yang mana bila mereka meminta izin untuk menghadap pemimpin mereka tidak diberi izin, bila mereka meminang wanita yang kaya tidak akan diterima, bila mereka pergi tidak dicari, bila mereka muncul tidak ada yang gembira dengan kedatangan mereka, bila mereka sakit tidak dikunjungi, bila mereka mati tidak diantar jenazahnya.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tolong sebutkanlah kepada kami salah seorang dari mereka?”

Beliau Saw menjawab, “Itulah Uwais Al-Qarni.”

Mereka bertanya, “Siapakah Uwais Al-Qarni?”

Beliau menjawab, “Seseorang yang bermata tak seimbang (kero; jawa), berambut merah, berdada lebar, berukuran sedang, berkulit kemerahan, kepalanya selalu tertunduk, pandangannya terarah ke tempat sujud, bersedekap, selalu menangisi dirinya, berpenampilan compang-camping, selalu diabaikan, memakai sarung dari kulit domba dan selendang dari kulit domba, tidak dikenal oleh penduduk bumi, tetapi dikenal oleh penduduk langit, seandainya ia memohon kepada Allah pasti Ia akan mengabulkannya, ketahuilah bahwa di bawah ketiak sebelah kiri terdapat bagian kulit yang putih dan ketahuilah bahwa kelak di hari kiamat diserukan kepada para hamba, “Masuklah ke dalam surga", lalu dikatakan pada Uwais, “Berhentilah, berilah syafaat", lalu Allah memberinya syafaat untuk orang-orang sebanyak kabilah Rabi’ah dan Mudhar. 

Wahai Umar dan Ali bila kalian bertemu dengannya, maka mintalah kepadanya agar ia memintakan ampun bagi kalian berdua niscaya Allah akan mengampuni kalian.” 

(Tulisan diatas Ini saya copaskan dari terjemah apik Mas Faisal Zikri, santri Imam Shafie Collage Hadhramaut Yaman. Dan yang dibawah ini serta seterusnya adalah terjemahan saia) 

"Setelah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam tersebut. Sayyidina Ali dan Sayyidina Umar terus mencari Sayyidina Uwais selama sepuluh tahun! Tapi tidak berhasil" pungkas Sahabat Abu Hurairah RA.

Di akhir tahun kewafatannya. (Usai bubaran shalat jamaah para jamaah haji), Sayyidina Umar berdiri tegak di perbukitan Abu Qubais, lalu berteriak lantang sekuat tenaga, "Hoi, penduduk Yaman! Adakah diantara kalian yang bernama Uwais?!".

$ads={1}

Di akhir tahun kewafatannya. (Usai bubaran shalat jamaah para jamaah haji), Sayyidina Umar berdiri tegak di perbukitan Abu Qubais, lalu berteriak lantang sekuat tenaga, "Hoi, penduduk Yaman! Adakah diantara kalian yang bernama Uwais?!".

Tak lama kemudian. Berdirilah orang tua renta nan panjang jenggotnya. “Secara pasti. Aku tak tahu yang bernama Uwais. Tapi, aku punya keponakan bernama Uwais. Namun, ia paling tak suka menonjolkan diri. Hartanya sedikit. Halah pokoknya orang yang tak penting jika kukatakan pada Engkau Amiral-Mukminin. Oia. Dia saja sekarang sedang menggembala ontaku. Pokoknya ia paling rendah diantara kami!”

Dengan hati berdegup kencang. Sayyidina Umar tetap bergaya tenang. Beliau pura-pura tak begitu memperdulikanya. “Eh. Tapi, sekarang dimana keponakanmu itu?”, tanyanya. “Apakah juga di tanah haram ini?”.

“Iya”.

“Tepatnya?”

“Di Arafah”.

Mengetahui itu. Sayyidina Umar langsung balik kanan. Pulang kerumah sekaligus memberitahu karibnya, Sayyidina Ali karramallahu wajhah. Lalu secepatnya. Keduanya berpacu menuju Arafah.

Disana. Keduanya menemukan lelaki yang sedang shalat di bawah pohon. Sedangkan onta gembalaannya dibiarkan bebas menikmati rerumputan liar. Setelah menalikan kedua keledai tunggangannya. Keduanya mengucapkan salam. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh”.

Sayyidina Uwais yang sedang shalat. Mempercepat shalatnya. Lalu setelah salam keluar shalat. Membalas salam kedua tamunya. 

Setelah dijawab. Ganti kedua kekasih nabi itu yang bertanya memastikan: “Anda ini siapa ya?”

“Hanya seorang penggembala onta dan buruh kaum” jawabnya ringan.

“Kami tidak menanyakan tentang gembalaan dan perihal buruh. Maksudnya, nama Anda siapa?”

“Abdullah; hamba Allah”.

“Kami tahu kalau semua yang ada dilangit dan bumi semuanya adalah hamba Allah. Yang kami tanyakan adalah nama yang diberikan ibu Anda kepada Anda”.

“Wahai Anda berdua. Apa yang Anda kehendaki dariku?”.

Lalu kedua orang mulia itu berkata: “Dulu, Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam mengkhabarkan sifat orang yang bernama Uwais al-Qarni. Setelah kami amati. Ciri-ciri yang Nabi sebutkan berupa merah rambut dan mata tak seimbang sudah cocok. Tolong Anda kasih kepastian, apakah di bawah pundak kiri Anda ada tanda bercak putih. Tolong perlihatkan. Jika memang ada, berarti benar. Andalah Uwais al-Qarni”.

Lalu, Sayyidina Uwais mengangkat bajunya hingga pundak kirinya terlihat. Begitu tahu ada bercak putih. Kedua sahabat Nabi tersebut langsung menciuminya! “Kami bersaksi. Andalah Uwais al-Qarni! Tolong pintakan ampunan kami kepada Allah ta’ala. Kamipun akan memintakan ampunan Anda kepadaNya”.

Namun, Sayyidina Uwais menjawab: “Aku tidak mengkhususkan istighfarku untuk diriku sendiri. Dan tidak pula untuk satu persatu anak Adam. Tapi, istighfarku kuperuntukkan bagi semua makhluk yang berada di daratan dan lautan, baik mukminin, mukminat, muslimin, muslimat. Wahai Tuan berdua. Allah telah mengungkapkan keberadaanku pada Anda berdua. Maaf. Sebenarnya, siapakah Anda-Anda ini?”.

Sayyidina Ali menjawab: “Dia ini Umar yang sekarang jadi Amirul Mukminin. Sedang aku Ali bin Abi Thalib”.

Seketika Sayyidina Uwais berdiri tegak! “Assalamualaika Ya Amiral Mukminin warahmatullahi wabarakaatuh. Dan salam juga untuk Anda duhai Ali bin Abi Thalib. Semoga jerih payah Anda berdua menjaga umat ini mendapatkan balasan kebaikan dari Allah ta’ala”.

“Tetaplah disini, hingga aku kembali ke Mekkah, akan kuberikan sedikit bekal dan pakaianku yang lebih. Ini adalah tempat janji antara aku dan Anda,” kata Sayyidina Umar pada Syaikh Uwais al-Qarni, setelah beliau menemukannya dan mengetahui keadaannya.

“Tiada janji antar aku dan Anda, wahai Amiral Mukminin. Setelah ini, kita tak akan berjumpa lagi. Tak usah Anda khawatirkan nafkah dan pakaianku. Bukankah Anda melihat bulu kasar yang kupakai ini?! Apakah aku telah merusakkannya?! Bukankah Anda lihat gaji penggembalaanku empat dirham?! Dan apakah Anda tahu kapan aku menghabiskannya untuk makan?! Duh, Amiral mukminin ada jalan terjal yang bisa menyatukan kita, yang hanya bisa dilewati orang kurus, lemah, dan menyamar tak ingin terkenal. Kalau kau mampu, menyamarlah sepertiku, semoga Allah memberi rahmat pada Anda,”

Mendengar itu, seketika Sayyidina Umar membuang cemeti keledainya ke bumi, dan berteriak sekerasnya:

“Andai saja ibu Umar tak melahirkannya!! Andai saja ibu Umar tak mampu melahirkan!! Andai saja ada yang mau mengambil kekhilafahan ini!!”

Namun, dengan pelan Syaikh Uwais al-Qarni menimpali: 

“Ya, Amiral Mukminin. Ambillah jalanmu sampai disini. Dan akupun mengambil jalanku sendiri.”

Kemudian, Sayyidina Umar mengambil jalan menuju Mekkah. Sedang Syaikh Uwais al-Qarni menuntun onta-onta gembalanya menuju pemiliknya. Lalu menyerahkannya. Dan melanjutkan pengembaraannya dalam ibadah hingga bertemu sang kekasih, Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahu a’lam bis-shawaab

Da’watut-Taammah 24-25.

Oleh: Ustadz Robert Azmi

Demikian Artikel " Kisah Pertemuan Uwais Al-Qarni dengan Sayyidina Umar bin Khattab "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jamaah -

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close