Risiko Maksiat Dalam Teori Analisis Gagalnya Pahala Puasa

RISIKO MAKSIAT DALAM TEORI ANALISIS GAGALNYA PAHALA PUASA

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Tak dapat dipungkiri, esensi puasa sebagai tipikal ibadah yang jarang terekspos dan cendrung lillahi ta'ala mendapat apresiasi dan perhatian luar biasa dalam Islam, termasuk mendapat spesialisasi hak berupa nilai pahala yang tidak biasa, melampaui standard pahala minimum sebagaimana diperoleh dari ibadah-ibadah yang lain (10 X 1), standard pahalanya murni fadlillaah tak bisa diprediksi apalagi diakumulasi secara pasti. Senada dengan pernyataan Syekh Muhammad Azzabidi dalam Ithaf nya.

(فقد جاوز ثوابه قانون التقدير والحساب) أي التضعيف في جزائه غير مقدر بقانون فمعني لي أي أنا المفرد بعلم مقدار ثوابه وتضعيف حسناته كما قال { الصَّوْمُ لِي } :  اتحاف السادة المتقين الزبيدي - (٤ / ١٩٠)

Namun siapa sangka, nilai fantastis yang dijanjikan dalam ibadah puasa tak semudah yang dibayangkan, ekspektasi yang tercover dari nash-nash fadilah puasa khususnya di bulan Ramadlan menjadi buyar lantaran disisi yang lain prinsip amaliah nya justru menjadi sangat sensitif, teori dan kode etik pengamalan menjadi syarat mutlak yang tidak bisa digugat, tindak maksiat dengan bentuk apapun yang dilakukan berkonsekuensi terhadap gagalnya nilai pahala tanpa tersisa sedikitpun. Akhirnya, terhindar dari dosa menjadi titik paling krusial dalam menentukan sukses tidaknya meraup pahala dan sederet fadilah yang sudah digembar-gemborkan sejak dulu kala. Sebagaimana statement Syekh Zakaria Al-Ansori 

$ads={1}

( قوله وينبغي له كف اللسان عن الفحش ) ما أحسن قول المتولي يجب على الصائم أن يصوم بعينيه فلا ينظر إلى ما لا يحل وبسمعه فلا يسمع ما لا يحل وبلسانه فلا ينطق بفحش ولا يشتم ولا يكذب ولا يغتب . ا هـ . وقال في الأنوار وأن يصون لسانه عن الكذب والغيبة والنميمة والشتيم ونحوها وسائر الجوارح عن الجرائم أكثر وأشد مما في غير رمضان لأن الثواب يبطل بها . ا هـ . أسنى المطالب - (٥ / ٣٣٤)

Syekh Zainuddin Almalibari bahkan dengan sangat berani mendeterminasikan gagalnya pahala puasa  sebagai fakta konsensus yang didukung oleh sederet dalil yang sangat meyakinkan, setidaknya orientasi puasa tak sekedar menahan lapar tapi juga merepresi hasrat dan syahwat duniawi. Statement beliau dalam Irsyad nya;

ومما يبطل ثواب الصوم إجماعاً الكذب والغيبة والمشاتمة لما قال رسول الله : «مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ في أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ» رواه البخاري، وقال : «رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيامِهِ إلا الظَّمْأُ» رواه النسائي وورد في حديث: «لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ إنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ والرَّفْثِ» -الى ان قال- وقال: إذا صمت فليصم سمعك وبصرك ولسانك عن الكذب والمحارم ودع أذى الجار. إرشاد العباد إلى سبيل الرشاد - (١٣٩)

Meski demikian, deretan hadits yang menjadi tendensi gagalnya pahala puasa masih menyisakan kontroversi, beberapa kalangan cenderung tekstualis menginterpretasikan hadits, seperti Ibnu Hajar Al-Haitami dan mayoritas Syafi'iyah. Mereka berasumsi bahwa gagalnya pahala tidak ada kaitannya dengan nilai dosa yang didapat, murni karena pelanggaran kode etik, ittiba' terhadap redaksional Hadits dan tak perlu dirasionalkan, dengan ini pelaku maksiat kehilangan pahala puasa dan mendapatkan bonus dosa sekaligus.

ونحو الغيبة المحرمة يبطل ثواب صومه كما دلت عليه الأخبار ونص عليه الشافعي والأصحاب وأقرهم في المجموع وبه يرد بحث الأذرعي حصوله وعليه إثم معصيته أي أخذا مما قاله المحققون في الصلاة في المغصوب  (قوله يبطل ثواب صومه إلخ) ولو اغتاب أي: مثلا وتاب لم تؤثر التوبة في النقص الحاصل بل في رفع الإثم فقط. حواشي الشرواني على تحفة، (٤٢٤/٣)

وبذلك اندفع قول الأذرعي : ينقدح أن له ثواب الصوم وعليه إثم ما صدر منه ووجه اندفاعه أن هذا لا مدخل للرأي فيه ، وإنما مداره على الوارد وقد علمت مما مر أن الوارد نص فيما قاله الأئمة ، فلا مساغ لمخالفته. اتحاف اهل الاسلام لابن حجر (١٧٦)

Ada pula yang cendrung teoritis merasionalisasi nas hadits agar sesuai konsep yang sudah masyhur, seperti Ibnu Arobi dan Sayyid Abdillah Ba'alawi. Mereka mengklaim nihilnya pahala puasa pada 𝘯𝘢𝘴𝘩 yang bersangkutan didasarkan pada akumulasi jumlah dosa yang sebanding atau bahkan melebihi kapasitas pahala yang didapat, hal ini konskuensi dari sistem perubahan kualitas dosa yang awalnya biasa (sogho-ir) menjadi luar biasa (kaba-ir) lantaran berlakunya prinsip mudlo'afah dalam konteks puasa.

وقال بن العربي مقتضى هذا الحديث أن من فعل ما ذكر لا يثاب على صيامه ومعناه أن ثواب الصيام لا يقوم في الموازنة بإثم الزور وما ذكر معه. فتح الباري شرح صحيح البخاري - (٤ / ١١٧)

 فبالأولى الشهوات والمعاصي المحرمة عليه تحريماً مؤبداً من الزنا ، واللواط ، والنظر بشهوة ، وإطلاق اللسان بالسباب ، والفُحش ، والكذب بكافة أنواعه وصوره ، وأشدُّه الكذب على الله وعلى رسوله صلى الله عليه وآله وسلم من تحريم ما لم يُحرمه الله ، أو تحليل ما حرَّمه الله ، والغيبة وقول الزور ، وفعل الزور من الغش والتلبيس وإيذاء المؤمنين والمؤمنات بغير ما اكتسبوا . فكل هذه من المعاصي التي جعل الله إثمها كبيراً ومبطلاً لثواب الصيام . الوجيز في أحكام الصيام - (١ / ١٤)

Kedua statement diatas jauh bertolak belakang dengan statement sebagian kalangan yang justru menormalisasikan hadits terkait, mendikte dan memberikan interpretasi sewajar mungkin lewat penta'wilan yang justru terkesan kontradiktif dengan redaksi hadits yang digunakan. Mereka cendrung menegosiasi dan mengasumsikan bahwa pahala puasa hanya "berkurang" bukannya gagal sama sekali, sehingga konsepsi yang digunakan adalah akumulasi kuantitas dosa dan pahala yang diperoleh saat prosesi puasa, bisa saja berakhir imbang, defisit dosa atau justru defisit nilai pahala.

وَعَنْ إبْرَاهِيمَ قَالَ : " كَانُوا يَقُولُونَ : الْكَذِبُ يُفَطِّرُ الصَّائِمَ " وَعَنْ الْأَوْزَاعِيِّ مَنْ شَاتَمَ فَسَدَ صَوْمُهُ لِظَاهِرِ النَّهْيِ " ، وَذَكَرَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا رِوَايَةً يُفْطِرُ بِسَمَاعِ الْغِيبَةِ وَقَالَ الْمَجْدُ : النَّهْيُ عَنْهُ لِيَسْلَمَ مِنْ نَقْصِ الْأَجْرِ ، قَالَ فِي الْفُرُوعِ : وَمُرَادُهُ : أَنَّهُ قَدْ يَكْثُرُ فَيَزِيدُ عَلَى أَجْرِ الصَّوْمِ وَقَدْ يَقِلُّ وَقَدْ يَتَسَاوَيَانِ .كشاف القناع عن متن الإقناع – (٦ / ١٠١)

Belum lagi statement Syekh Abdillah Albilali seorang sufi mazhab Syafi'i yang justru memberikan full dispensasi dan mentolelir dosa-dosa yang biasa dilanggar masyarakat pada umumnya dengan dalih masyaqqotul-ihtiroz, maka dari itu dosa yang dimaksudkan tidak sampai menggagalkan pahala puasa kecuali telah melebihi batas wajar.

قال ابن عبد البَرِّ في كتابه المسمى بـ "بهجة المَجالِسِ" قال أبو العالية : الصائمُ في عبادةٍ ما لم يغتَبْ. قال الشيخُ الصالحُ أبو عبد اللَّه محمَّد البلاليُّ الشافعيُّ في "اختصاره للإحياء" : وذكر السُّبْكِيُّ في شرحه ؛ أن الغِيبَةَ تمنع ثوابَ الصوْمِ إِجماعاً ، قال البلاليُّ : وفيه نظر ؛ لمشقَّة الاحتراز ، نعم ، إِن أكثر ، توجَّهت المقالة. انتهى ، وهذا الشيخ البلاليُّ لقيتُهُ ، ورويتُ عنه كتابه هَذَا. جامع لطائف التفسير - (٤ / ٤٣)

Demikian sedikit penjabaran dan ulasan terkait kontroversi konsepsi pahala puasa dan pengaruh dosa yang dimaksudkan dalam hadits baginda Nabi. 

Oleh: منهاج الطالبين

Demikian Artikel " Apakah Penggunaan Speaker Masjid di Indonesia Sudah Benar? "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jamaah -

Redaksi

Rumah Muslimin Grup adalah Media Dakwah Ahlusunnah Wal jama'ah yang berdiri pada pertengahan tahun 2017 Bermazhab Syafi'i dan berakidah Asyariyyah. Bagi sobat rumah-muslimin yang suka menulis, yuk kirimkan tulisannya ke email kami di dakwahislamiyah93@gmail.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close