Pentingnya Ilmu Alat Bagi Pelajar Ilmu Agama Islam

PENTINGNYA ILMU ALAT BAGI PELAJAR ILMU AGAMA ISLAM

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Di antara perkara yang sering lalai dari perhatian kebanyakan pelajar ilmu agama saat ini adalah pentingnya mempelajari ilmu alat.

Ilmu alat (sebagaimana diketahui) adalah perangkat yang membantu memahami ilmu ilmu inti seperti akidah, fikih, tasawuf, tafsir dan hadist.

Ilmu alat antara lain: nahwu, sharf, balaghah, manthiq, maqulat, adabul bahts, wadh', ushul fiqh, mustholah hadist, arudh, dll.

Mempelajari ilmu alat sangatlah penting. Hal ini antara lain dikarenakan kitab-kitab yang membahas ilmu inti (akidah, fikih, dst.) tidak akan bisa dipahami secara matang tanpa mempelajari ilmu alat.

Kenapa demikian? Karena para ulama ketika menulis kitab² akidah, fikih dll. biasanya menggunakan istilah-istilah yang mana pemahaman dan penjelasan istilah tersebut secara mendalam hanya didapatkan dalam ilmu alatnya. 

Ada yang pernah menjelaskan bahwa memang sengaja para ulama memasukkan istilah-istilah rumit dalam kitab mereka yang hanya bisa dipahami dengan mempelajari ilmu alat, agar tidak semua orang sembarangan bisa membaca kitab lalu jadi ustadz, melainkan mereka yang sudah mempelajari banyak ilmu baru bisa membaca fikih dll. agar kualitas keilmuannya sudah teruji. Dan juga hal tersebut untuk memaksa seseorang yang ingin belajar agama agar mau duduk di depan guru yang bisa membukakan kunci istilah-istilah tersebut bagi dia, bukan malah baca kitab sendiri, mahamin sendiri, terus berfatwa.

Kembali kepada poin di atas; banyak sekali istilah-istilah dalam ilmu alat yang bertebaran dalam kitab-kitab ilmu inti dan tidak dijelaskan dalam kitab tersebut, melainkan penjelasannya ada pada ilmu alatnya.

Baca juga: Belajar Bahasa Arab (Mustatsna Bi illa) Nahwu Shorof

Ketika kita ingin belajar akidah misalkan, dalam kitab-kitab akidah seperti al-Kharidah al-Bahiyyah dan syarhnya tulisan imam Dardir, biasanya ketika membahas wahdaniyyah Allah akan dijelaskan bahwa wahdaniyyah Allah swt.  artinya adalah menafikan الكم المتصل dan الكم المنفصل pada sifat dan zat Allah. 

Apa itu الكم المتصل dan الكم المتصل? Biasanya akan dijelaskan dalam kitab akidah, tapi hanya secara global, atau hanya disebutkan contohnya. Adapun penjelasan gamblang dan komprehensif mengenai istilah tersebut hanya akan dipahami dalam ilmu maqulat. Maka kalau ingin memahami secara benar pembahasan akidah dalam masalah di atas minimal kudu paham pembagian maqulat الكم dalam ilmu maqulat. 

Ketika kita ingin belajar fikih, dalam kitab-kitab fikih semisal Busyra al-Karim, ketika membahas air mutaghayyir, syekh Said Baisyin menuliskan:

(ﻓﺈﻥ ﺗﻐﻴﺮ) ﻭﻟﻮ ﺑﻮاﺣﺪ ﻣﻦ (ﻃﻌﻤﻪ ﺃﻭ ﻟﻮﻧﻪ ﺃﻭ ﺭﻳﺤﻪ) ﻓـ (ﺃﻭ) ﻣﺎﻧﻌﺔ ﺧﻠﻮ، ﻻ ﺟﻤﻊ

Syekh Said menuliskan di atas bahwa أو pada ungkapan di atas berfungsi sebagai مانعة خلو لا جمع. Ungkapan ini tidak akan bisa dipahami dengan bulat dan baik kecuali bagi mereka yang sudah membaca pembagian qadhiyyah syarthiyyah munfashilah dalam ilmu manthiq, sebagaimana dijelaskan oleh shahib as-Sullam al-Munawraq:

.......................... * وذات الانفصال دون مين

ما أوجبت تنافرا بينهما * أقسامها ثلاثة فلتعلما

مانع جمع أو خلو أو هما * وهو الحقيقي الأخص فاعلما

Baru di sana dibeberkan secara gamblang apa itu مانعة خلو dan مانعة جمع

Bahkan beberapa ilmu alat tidak bisa dipahami tanpa mempelajari ilmu alat yang lain. Seperti Ushul Fiqh, kitab-kitab ilmu tersebut biasanya ditulis dengan menggunakan istilah-istilah yang tidak bisa dipahami dengan benar sebelum membaca hampir semua ilmu alat selain Ushul Fiqh. Istilah-istilah ilmu manthiq, balaghah, wadh', maqulat, adabul bahts, semua mampir di kitab-kitab Ushul Fiqh level menengah ke atas.

Ketika membaca kitab Nihayatussul misalkan, Abul Husein al-Bashri dari kalangan mu'tazilah berpendapat tidak boleh terjadi ta'khir bayan 'an waqtil khithab bagi lafaz mujmal yang punya makna zahir kecuali apabila ada bayan ijmali. Pendapat tersebut dibantah oleh imam Baidhawi, imam Isnawi penulis Nihayatussul ketika menjelaskan bantahan imam Baidhawi menuliskan:

ﻭﺃﺟﺎﺏ اﻟﻤﺼﻨﻒ ﺑﺎﻟﻨﻘﺾ اﻹﺟﻤﺎﻟﻲ

Diksi النقض الإجمالي tidak akan dipahami secara rapih tanpa mempelajari Adabul Bahts Wal Munazarah.

$ads={1}

Ketika mempelajari manthiq kita disuguhkan penjelasan bahwa جنس terbagi menjadi بعيد، قريب، وسط sebagaimana dituliskan shahib as-Sullam al-Munawraq:

والكليات خمسة دون انتقاص * جنس وفصل عرض نوع وخاص

وأول ثلاثة بلا شطط * جنس قريب أو بعيد أو وسط

Dalam kitab-kitab manthiq, kita tidak akan menemukan penjelasan yang gamblang tentang جنس بعيد, melainkan penjelasan secara luas tentang istilah itu dibahas dalam ilmu maqulat. Maka untuk menahami kulliyat khomsah dalam manthiq perlu juga mempelajari maqulat. Karena ilmu maqulat pembahasan intinya adalah tentang apa saja جنس بعيد dari ciptaan Allah menurut filsuf dan mutakallimin.

Demikianlah, maka dari itu maulana syekh Husam Ramadhan hafizahullah mengatakan:

العلوم يعين بعضها بعضا

"Ilmu-ilmu saling tolong menolong satu sama lain" intaha bil ma'na.

Ya begitulah, perjalanan ngaji itu memang panjang. Masa baru ngaji setaun dua taun sudah mau ngustad kan repot toh?

Tapi info terbaru, di beberapa kampung sekarang sedang kekurangan pasokan ustadz karena banyaknya orang yang meninggal, sehingga kekurangan pemimpin tahlil, semoga Allah menjaga Indonesia

*Disarikan dari muhadharah Maulana Syekh Husam Ramadhan hafizahullah kitab syarh Maqulat as-Suja'i serta beberapa tambahan dari al-faqir

Yusup Suhada, 

Balaraja, 26 Juli 2021

Demikian Artikel " Pentingnya Ilmu Alat Bagi Pelajar Ilmu Agama Islam "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jamaah - 

Redaksi

Rumah Muslimin Grup adalah Media Dakwah Ahlusunnah Wal jama'ah yang berdiri pada pertengahan tahun 2017 Bermazhab Syafi'i dan berakidah Asyariyyah. Bagi sobat rumah-muslimin yang suka menulis, yuk kirimkan tulisannya ke email kami di dakwahislamiyah93@gmail.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close