Perbedaan Sudut Pandang Orientalis dan Ulama Dari Shalat

PERBEDAAN SUDUT PANDANG ORIENTALIS DAN ULAMA DARI SHALAT

RUMAH-MUSLIMIN.COM - Untuk memahami secara sederhana bagaimana kalangan orientalis menganalisa ajaran islam dan sudut pandang Ulama' Islam mari kita lihat dari salah satu ibadah paling utama dalam islam yaitu sholat.

Pada tahun 2008 seorang Mahasiswa Orientalis dari Universitas Missouri Amerika bernama Justin Paul Heinz menulis sebuah Thesis berjudul "The Origins of Muslim Prayer: Sixth and Seventh Century Religious Influences on the Salat Ritual", dalam karya ini ia ingin menunjukkan bahwa ritual sholat yang dilakukan kaum muslimin sebenarnya bukanlah original ajaran yang diterima Muhammad dari langit melainkan modifikasi dari ritual agama lain.

Gerakan rukuk dan sujud misalnya olehnya disebut diambil oleh Muhammad dari ritual ibadah Yahudi dan Nasrani Syam, Heinz menyebut bahwa Muhammad mengetahui ritual agama Yahudi sebab ada kabilah Yahudi di Yatsrib (Bani Quraidhah & Bani Qainuqa') sedangkan ritual Nasrani Syam diketahui oleh Muhammad saat melakukan perjalanan dagang dua kali ke Syam.

Berikutnya waktu-waktu sholat yang 5 oleh Heinz disebutnya diadopsi dari ritual ibadah kaum zoroaster (Majusi) yang mereka beribadah 5 kali yaitu saat fajar, saat siang, saat matahari tenggelam, tenggelam tanpa cahaya dan terakhir saat tengah malam sampai fajar.

Heinz menyebut 5 waktu ini Muhammad dapatkan dari pengikutnya Salman Al Farisi yang ia sebut lahir dan besar di keluarga taat beragama Zoroaster (Majusi)

$ads={1}

Demikian pandangan orientalis terhadap ibadah sholat, lalu bagaimana dalam pandangan kita ?

Pertama, berkaitan dengan kesamaan gerakan sholat dengan ritual ibadah Yahudi dan Nasrani tentu bagi kita bukan hal yang aneh karena memang ketiga agama ini (Yahudi, Nasrani dan Islam) sebenarnya berasal dari satu sumber yaitu Allah Ta'ala hanya saja di ajaran Yahudi dan Nasrani kemudian mengalami perubahan ajaran sehingga tidak lagi bisa dijadikan pegangan namun demikian tidak menegasikan bahwa memang sebagian ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi Isa dari Allah Ta'ala masih ada seperti dalam tata cara ritual peribadatan.

Diantara bukti bahwa kaum Yahudi pun sebenarnya juga mendirikan sholat diabadikan dalam riwayat Shohih Muslim yang mengisahkan peristiwa mi'raj Rasulullah ﷺ, pada saat itu disebutkan beliau sempat bertemu Nabi Musa Alaihi Salam saat awal menerima perintah sholat dengan 50 waktu dan Musa Alaihi Salam berkata: 

ارجع إلى ربك فاسأله التخفيف فإن أمتك لا يطيقون ذلك فإني قد بلوت بني إسرائيل وخبرتهم

"Kembalilah ke Tuhanmu dan mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu karena aku pun telah mencobanya pada Bani Israil dan aku uji mereka"

Ungkapan Musa Alaihi Salam menunjukkan bahwa beliau sebagai "senior" Nabi Muhammad ﷺ dalam kenabian sudah punya pengalaman menyampaikan perintah sholat kepada Bani Israil (Yahudi).

Kedua, perihal waktu sholat yang disebut diambil dari kaum Majusi, bagi kita ini tidak benar karena dua alasan:

Pertama, meskipun sahabat Salman Al farisi memang benar lahir dan besar di keluarga taat Majusi lalu kemudian menjadi biarawan Nasrani namun begitu dalam catatan sejarah baik di kitab Hadist (Musnad Imam Ahmad) maupun buku Sirah (Sirah Ibn Hisyam dll) meriwayatkan pengakuan lengkap perjalanan spiritual Salman dari seorang pemeluk Majusi lalu menjadi biarawan Nasrani kemudian disebutkan baru pertama kali bertemu Rasulullah ﷺ serta masuk islam saat Rasulullah ﷺ tiba di Quba' dalam Hijrah dari Makkah, sedangkan kita semua tahu bahwa kewajiban Sholat dan sekaligus penjelasan waktunya telah diperintahkan kepada umat islam sejak tahun 10 kenabian (tiga tahun sebelum hijrah) artinya mustahil Salman memberi tahu Rasulullah ﷺ waktu sholat majusi padahal belum pernah bertemu.

Kedua, dalam waktu sholat agama islam justru Rasulullah ﷺ perintahkan untuk menghindari waktu sholatnya kaum kafir (Majusi), hal ini sebagaimana disebutkan dalam shohih Muslim bahwa suatu ketika ada seseorang meminta Rasulullah ﷺ untuk mengajarkan mengenai sholat dan beliau menjawab:

صَلِّ صَلَاةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنْ الصَّلَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ

"Sholatlah sholat subuh kemudian janganlah kamu shalat hingga matahari meninggi, karena matahari terbit diantara dua tanduk syetan, dan pada waktu itu orang kafir menyembahnya (Matahari)"

Hadist di atas terjadi di Madinah saat di mana Rasulullah ﷺ telah hijrah dan juga telah bertemu Salman Al Farisi dan dalam hadist  dapat disimpulkan bahwa Rasulullah ﷺ tahu bahwa setelah waktu subuh pada saat matahari terbit adalah waktunya penyembah matahari beribadah. Bisa jadi memang saat hadist tersebut disampaikan Rasulullah ﷺ memang sudah diberitahu Salman Al Farisi waktu-waktu ibadah kaum Majusi (Penyembah matahari/Zoroaster) oleh karenanya Rasulullah ﷺ melarang sholat di waktu-waktu itu.

Kesimpulan: Dari tulisan singkat ini setidaknya dapat dipahami bahwa begitulah kurang lebih cara pandang orientalis memang seolah ilmiah dan logis namun tidak lepas dari kerancuan berpikir setidaknya karena dua alasan:

Pertama, tidak mendasari pemikiran pada iman maka ajaran agama khususnya islam tidak dianggap sebagai suatu ajaran langit namun didudukkan sebagai sebuah produk manusia sehingga perlu diuji dan kalau perlu ditelusuri dari mana pembawanya mengadopsi, hal ini dengan menutup mata bahwa agama abraham berasal dari satu sumber langit.

Kedua, mengabaikan atau mungkin sengaja menutup sebagian fakta/catatan sejarah untuk menjaga pondasi argumennya (fakta Salman baru bertemu Nabi Muhammad ﷺ 3 tahun setelah disyariatkan sholat).

Wallahu'alam.

Oleh: Ustadz Muhammad Salim Kholili 

Demikian Artikel " Perbedaan Sudut Pandang Orientalis dan Ulama Dari Shalat "

Semoga Bermanfaat

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholli 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

- Media Dakwah Ahlusunnah Wal Jamaah -

Redaksi

Rumah Muslimin Grup adalah Media Dakwah Ahlusunnah Wal jama'ah yang berdiri pada pertengahan tahun 2017 Bermazhab Syafi'i dan berakidah Asyariyyah. Bagi sobat rumah-muslimin yang suka menulis, yuk kirimkan tulisannya ke email kami di dakwahislamiyah93@gmail.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
close