Mendidik Anak dengan membuat anak mencintai kita



Mendidik Anak dengan membuat anak mencintai kita:

Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz :

"Ketika nabi Sallahulaihi wasalam tinggal di rumah Abu Ayub Al Anshari, Saat Abu Ayub ra. menyuguhkan kepada Beliau sallahualaihiwasalam makanan, lalu setelha mencicipinya RasulAllah sallahualaihiwasalam mengembalikannya. Maka Abu Ayub dan istrinya berlomba-lomba mengambil makanan yang bekas disentuh jari-jari Nabi sallahualaihiwasalam. Ketika suatu hari ia tidak mendapati bekas sentuhan jari Nabi, ia merasa takut, dan menyampaikan,

"Engkau tak memakan makanan kami tadi malam wahai RasulAllah"
Beliau sallahualaihiwasalam menjawab,

"Sesungguhnya di dalam makananmu terdapat bawang, dan sesungguhnya aku selalu dalam keadaan berdoa(memohon). Maka makanlah saja kalian"

Maka Abu Ayub berkata: "Mulai malam ini tidak akan pernah ada lagi bawang di rumahku"
Padahal itu perkara biasa, dan dibolehkan baginya serta Nabi sallahualaihiwasalam pun telah membolehkannya. Tetapi citarasa spritual telah merubah kondisinya hingga merubah kebiasaannya.

begitu Juga Anas ra yang mengatakan,

"Sejak kulihat Nabi sallahualahiwasalam menyukai buah labu, maka akupun menjadi menyukai buah labu"

Manusia menyukai makanan yang berbeda adalah perkara yang wajar, akan tetapi pengaruh batin para sahabat yang kuat berpengaruh hingga pada fisik.

Kita perlu mengetuk pintu ini yaitu mendirikan iman diatas makna cinta.
Seperti yang diucapkan Umamah setelah ia ditawan selama tiga hari di depan masjid. Ia Melihat seorang panutan dan menyaksikan sahabat duduk dihadapan beliau sallahualaihiwasalam. Perintah nabi memiliki 3 hikmah, yaitu mengikat pemimpin perang ini di depan masjid, berbuat baik kepadanya, memberi makanan dan memenuhi hajatnya lalu mengikatnya lagi, serta menghampirinya setiap hari.

Namun saat itu ia enggan masuk islam. Semua itu dilakukan nabi sallahualaihiwasalam karena hendak mendidiknya dan menampakkan kepadanya perkara yang jelas selama tiga hari. Setelah hari ketiga Nabi memerintahkan agar ia dibebaskan.

Para Sahabat berkata: "Bagaimana ia dibebaskan, padahal ia telah banyak memimpin perang melawan kami?"

Setelah dibebaskan, ia keluar menuju tempat wudhu, lalu berwudhu dan kembali untuk bersyahadat dihadapan nabi sallahualaihiwasalam.

"Demi Allah, sebelum ini tidak ada agaman yang lebih aku benci melebihi agamamu, tetapi sekarang agamamu menjadi agama yang paling aku cintai. Sebelum ini tidak ada wajah yang lebih aku benci dariada wajahmu, tetapi sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Sebelum ini tidak ada negeri yang lebih aku benci melebihi negerimu, tetapi sekarang negerimu menjadi negeri yang paling aku cintai"

Umamah memiliki tanah air tempatnya tumbuh disana dan memiliki banyak kenangan dan dicintainya. Tetapi sekarang negeri RasulAllah sallahualaihiwasalam lebih dicintainya daripada tanah air yang terdahulu.

Beginilah caranya kita memunculkan pendidik dan menjadikan diri kita sebagai pendidik"

( Dambil dari Tulisan guru Mulia Habib Umar bin Hafidz yang diterjemahkan kedalam bahasa indonesia dalam bentuk buku dengan judul "Mendidik Anak Dengan Benar" oleh Habib Husin Nabil Assegaf )

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama