Wednesday, December 27, 2017

Cara Dakwah Para Keturunan Alawiyyin

Rate this posting:
{[['']]}

Cara Dakwah Para Keturunan Alawiyyin

Nasihat-nasihat Habib Abubakar Aladni Almasyhur
Arrobithoh Jakarta, 23 Mei 2015

Keluarga alawiyyin tersebar di seluruh dunia masih terikat mahabbah dan komunikasi satu sama lain, tapi mereka butuh mengkaji keberhasilan yang dicapai pendahulunya.

" Tugas berdakwah karena Allah berada di setiap pundak alawiyyin baik melalui kata-kata seperti ceramah atau mengajar dan melalui berdiam. Yang berdiam berdakwah dgn menunjukkan ahlak karimah agar dpt dicontoh org lain. "

Hb Abdul Qadir Assegaf Jeddah bercerita ttg sosok gurunya Al-Habib Hamid bin Alwi alBar yg berdakwah di Afrika selama 40 tahun untuk mencari ridho Allah swt padahal beliau bukan ahli pidato.

Hb Hamid berdagang disana dgn menunjukkan ahlak yg mulia kepada masyarakat. Ketika dia kembali ke hadramaut, orang2 kehilangan beliau. Salah seorang tetangganya yg mengetahui kepulangan beliau, merasa sangat bersedih dan menyesal. Dia berkata, "mengapa Habib pulang ? sungguh selama 40 tahun dia berlaku baik sama saya tidak pernah sedikitpun beliau mencari-cari kesalahan orang, selalu santun, tdk pernah mencibir rumah dan keadaan saya". Inilah dakwah yang meninggalkan kesan manis mendalam dlm diri seseorang. 

Para salaf memiliki berbagai karomah krn kemuliaan yg ada pada diri mereka karena kesungguhan terhadap amal ibadah kpd Allah swt. Terutama keistiqomahan mrk dlm mengabdi kepada Allah swt. Karomah sesungguhnya utk menguatkan diri dlm berdakwah dan istiqomah.


Hb Abdullah bin Muhsin Alattas Bogor, dan Hb Muhammad bin Thahir Alhaddad Tegal, misalnya, adalah para pendahulu yg sarat dgn karomah dan dicintai krn kekeramatannya. Namun apakah kita hanya mencintai karomahnya saja namun tdk mencintai apa yg telah mereka lakukan sehingga mereka beroleh kedudukan tinggi itu? Jangan hanya kita pandai bercerita soal karomah namun kita gagal mengikuti jejak mereka, ahlak mereka, dan amal-amal mereka. Jika kita mengikuti ahlak mereka, maka dakwah mereka akan terpelihara dgn baik karena tujuan mrk berdakwah bukan untuk menunjukkan karomah tapi menginginkan kita beragama, bertakwa, dan berahlak baik. Dan berdakwah itu tidak dgn terjun ke hingar bingar politik dan pertikaian. Itu bukan berdakwah !!

Asas atau dasar kehidupan seorang sadah alawiy tidak hanya dalam bentuk stiker di tembok tapi menempel di dalam hati kita dan di praktekan yaitu: ilmu, amal, khouf, wara' dan ikhlas. Inilah kebanggaan kita walau dunia skrg berubah tapi prinsip dasar kita ini tdk boleh berubah. Manusia yg sesungguhnya adalah yg dpt mewarnai orang  lain/masyarakat. Sebagai ahlul bait kita hrs menjadi bahtera yang menyelamatkan orang-orang di sekitarnya dgn menggunakan manhaj atau metode dakwah yg berlandaskan 5 prinsip tadi. 

Dinamika yg terjadi seperti kejadian-kejadian politik, ekonomi dan sosial itu seperti angin, itu akan berlalu namun dakwah kita tdk boleh seperti itu. Dakwah para pendahulu tegar seperti gunung, tidak lumat dimakan waktu. Karena mereka ketika berdakwah tidak terpengaruh oleh paham-paham lain, atau terbawa kepada kondisi politik dan sosial yg ada. Tujuan mereka adalah bukan memperebutkan kekuasaan dan pengaruh, menjatuhkan pihak lain namun membantu masyarakat, menegakkan kebenaran, memperbaiki ahlak, bukan karena menarik simpati pemerintah atau partai tertentu tapi murni krn Allah swt. Sehingga dakwah mereka langgeng walaupun penguasa berganti, kehidupan sosial berubah, ajaran-ajaran kebaikan tetap terjaga.

Perumpamaan seorang salaf itu seperti apa yg terjadi antara Nabi Nuh as dan anaknya. Nabi Nuh membangun bahtera namun Kan'an membangkang krn dia merasa apa yg dilakukan ayahnya merupakan pemikiran yang aneh. Dia lebih percaya gunung yg dpt menyelamatkannya. Begitu pula kita saat ini, banyak yang menganggap ajaran datuknya kuno, ketinggalan zaman, tidak relevan lagi saat ini. Jangan kita durhaka terhadap manhaj orgtua kita. Apakah kita ingin bernasib seperti Kan'an yg naas krn berpaling dari ajaran yang benar? 

Dukunglah arrobithoh berjuang menebarkan rahmat dan cinta dan jangan terpecah belah karena terbawa keadaan dan kondisi masa kini yang menjerumuskan. 

Sumber : ditulis Hafiz Alattas saat penerjemahan secara live tanpa menghilangkan makna sebenarnya. 

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment