Thursday, April 19, 2018

Allah Di Depan Orang Shalat

Rate this posting:
{[['']]}

ALLAH DI DEPAN ORANG SHALAT

Oleh: Kiyai Abdul Wahab Ahmad

فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ وَجْهِهِ، فَلَا يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ، وَلَا عَنْ يَمِينِهِ، وَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ، تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى. (رواه مسلم)

"Maka apabila salah seorang dari kalian berdiri dalam shalat, maka sesungguhnya ALLAH tabaraka wa ta'ala ADA DI DEPAN WAJAHNYA. maka janganlah dia meludah ke arah depannya atau arah kanannya. Tapi meludahlah ke arah kirinya di bawah kaki kirinya". (HR. Muslim)

Hadis ini menyatakan bahwa ALLAH BERADA DI DEPAN ORANG SHALAT. Keberadaan ini bukan keberadaan ilmu saja sebab ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Andai yang dimaksud adalah keberadaan ilmu-Nya, maka tak ada gunanya Nabi Muhammad melarang meludah ke depan.

Syaikh Ibnu Hajar al-Asqalani, Sang Imamul Muhadditsin dan ulama salaf yang sejati, mengatakan:

فتح الباري لابن حجر (1/ 508)
وَقَدْ نَزَعَ بِهِ بَعْضُ الْمُعْتَزِلَةِ الْقَائِلِينَ بِأَنَّ اللَّهَ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَهُوَ جَهْلٌ وَاضِحٌ لِأَنَّ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهُ يَبْزُقُ تَحْتَ قَدَمِهِ وَفِيهِ نَقْضُ مَا أَصَّلُوهُ وَفِيهِ الرَّدُّ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ عَلَى الْعَرْشِ بِذَاتِهِ وَمهما تُؤُوِّلَ بِهِ هَذَا جَازَ أَنْ يُتَأَوَّلَ بِهِ ذَاكَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ
"Sebagian Muktazilah yang meyakini bahwa Allah berada di mana-mana menolak hadis itu. Itu adalah kebodohan yang nyata karena di hadis itu disebutkan bahwa ia harus meludah ke arah bawah kakinya, di dalam hal ini ada penolakan kaidah mereka (sebab bawah kaki juga masuk dalam kategori di mana-mana). Dalam hadis itu juga ada penolakan terhadap orang YANG MENYANGKA BAHWA DZAT ALLAH BERADA DI ATAS ARASY (bertempat secara fisik). Kalau hadis ini boleh ditakwil dengan hadis yang berbicara tentang di atas arasy, maka hadis tentang di atas arasy juga boleh ditakwil dengan hadis ini. Wallahu a'lam".

Penjelasan Imam para Ahli Hadis di atas sangat mencerahkan. Seluruh hadis shahih adalah setara. Tak ada yang superior di atas yang lain. Kalau hadis yang satu digugurkan makna zahirnya sebab mempertahankan makna zahir hadis lain yang berbicara tentang bab yang sama, maka itu tindakan tak berdasar wahyu atau kaidah manapun. Paling-paling hanya berdasar kecenderungan pribadi yang mengarah pada ta'thil (seperti yang terjadi pada Muktazilah yang beraliran Jahmiyah) atau mengarah pada tajsim (seperti yang terjadi pada kaum Mujassimah). Ahlussunnah wal Jama'ah berada di antara kedua golongan itu.

Kalau ada yang bertanya di mana Allah? maka boleh dijawab bahwa Allah berada di depan orang shalat sesuai hadis ini. Sebagaimana juga boleh dijawab fis sama' sesuai hadis lain yang menyatakan demikian. Boleh juga dijawab bahwa Allah dekat bersama kita sesuai hadis yang juga menyatakan demikian. Kalau orangnya malah bingung dan nanya sebenarnya lokasi tepatnya di mana? barulah diterangkan bahwa Allah sejatinya berada di luar ruang dan waktu sebab Allah sudah ada sebelum semua itu dan terus demikian hingga kapanpun. Kita memahami seluruh MAKNA ayat dan hadis yang berbicara tentang ini secara proporsional.

Bila dia menolak zahir sebagian hadis itu dan menerima sebagian lainnya, maka akidahnya bermasalah. Tak peduli sepanjang apapun dia menukil nama-nama manusia tentang hal ini sebab akidah tak diambil dari manusia manapun kecuali Rasulullah saw. Semua ucapan bisa ditolak kecuali ucapan Rasul, kata Imam Malik.

Semoga bermanfaat.

Sumber : Kiyai Abdul Wahab Ahmad

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
  
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment