Thursday, April 19, 2018

Perbedaan Prinsip Ahlusunnah Wal Jam'ah Dari Selainnya

Rate this posting:
{[['']]}

PERBEDAAN PRINSIP AHLUSUNNAH WAL JAMA'AH DARI SELAINNYA

Oleh: Kiyai Abdul Wahab Ahmad

Banyak yang tidak paham betul apa sebenarnya poin inti yang menjadi perbedaan antara Ahlussunnah dan lainnya? Sebelumnya, kita jelaskan dulu bahwa Ahlussunnah Wal Jam'ah di sini adalah label sebuah aliran tertentu yang dipopulerkan oleh para ulama Asy'ariyah dan Maturidiyah. Sebelum istilah ini populer sebagai label sebuah aliran, sudah ada label-label lain seperti label Salaf, label Syi'ah, Label Ahlut Adli wat Tauhid, label al-Mutsbitun dan lain-lain. Ada juga label yang DIBERIKAN OLEH SEORANG MUSUH ATAS MUSUHNYA, seperti: 

- Muktazilah (orang yang keluar) sebagai label bagi Ahlut Adli wat Tauhid. Lama-kelamaan mereka sendiri memakai label ini juga.
- Mujassimah (penjisim Tuhan) sebagai label bagi kalangan al-Mutsbitun yang dianggap berlebihan menetapkan sifat. 
- Hasyawiyah (orang yang mengisi kekosongan) sebagai label bagi mereka yang dianggap menetapkan sifat Tuhan yang dianggap sejatinya tak ada sifat itu.
- Muatthilah (orang yang mengosongkan sifat) sebagai label bagi mereka yang dianggap meniadakan suatu sifat Tuhan yang diyakini ada.
- Lafdhiyah (orang yang bermasalah soal lafadz) sebagai label bagi mereka yang berkata bahwa ucapakanku atas al-Qur'an adalah makhluk.
- Dll

Label-label itu diberikan oleh para musuh atas musuh mereka, bukan dari mereka sendiri. Kalau sekarang, kira-kira seperti label "kecebong, kampret atau bani serbet" bagi pendukung tokoh politik tertentu atau label teroris, ekstremis, radikal dan sebagainya. Semua label dari musuh ini tak berarti apa-apa di akhirat sebab di akhirat nanti tak ada yang dimintai pertanggung-jawaban atas label yang disematkan orang lain kepadanya. Justru masing-masing orang dimintai pertanggungjawaban atas label yang disematkannya atas orang lain. Jadi kalaupun ada yang menganggap Asy'ariyah sebagai muatthilah, itu tak lebih hanya sekedar label seorang musuh atas musuhnya yang tak berarti apa-apa sama sekali. Yang melabeli sebagai muatthilah bisa dibalas dengan label Hasyawiyah. Tapi hanya orang kurang piknik yang menjadikan label sebagai patokan segala-galanya, apalagi hanya label yang diberikan seorang musuh.

Lalu apa perbedaan hakiki dari mereka yang melabeli dirinya sebagai Ahlusunnah Wal Jamaah ini? Perbedaannya adalah:

1. Tidak memastikan sesuatu kecuali apa yang dipastikan oleh Allah dan Rasulullah.
2. Menggunakan akal/rasio dan naql/riwayat secara berimbang.

Berbeda dengan mereka, aliran lainnya kerap memastikan sesuatu yang tak pernah dipastikan keberadaannya oleh Allah dan Rasulullah. Seperti Syi'ah yang memastikan adanya wasiat Rasulullah soal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib langsung setelah beliau wafat, padahal yang ada hanyalah riwayat-riwayat tentang kecintaan Rasul kepadanya. Kecintaan Rasul dipastikan ada tapi soal wasiat itu berbeda. Demikian juga Mujassimah yang memastikan adanya bentuk fisik bagi Allah beserta arah maupun tempatnya di atas sana, atau pun Jahmiyah yang memastikan bahwa Allah ada di mana-mana padahal yang ada hanyalah riwayat-riwayat berisi ungkapan yang maknanya masih bersayap antara makna hissy (fisik inderawi) dan makna maknawi (ungkapan kiasan). Siapapun yang dianggap menolak apa yang mereka pastikan sendiri itu divonis sesat dan bahkan kafir. Mereka sendiri yang menyimpulkan, mereka juga yang memvonis berdasar kesimpulannya sendiri. Untunglah surga dan neraka milik Allah, bukan milik mereka.

Demikian juga Ahlussunnah menggunakan pertimbangan rasional yang berimbang dengan riwayat. Kalau riwayatnya mutawatir maka dipastikan kebenarannya sebab tak mungkin banyak orang sepakat untuk salah semua. Kalau riwayatnya ahad (perseorangan), maka riwayatnya tak bisa dipastikan valid sehingga tak bisa jadi pijakan utama dalam hal akidah meskipun bisa dipakai sebagai pendukung pijakan mutawatir yang sudah ada. Adapun kalau riwayatnya lemah, maka dibuang jauh-jauh. Berbeda dengan mereka, selain Ahlussunnah banyak yang memakai riwayat lemah dan munkar sebagai pondasi akidah mereka, misalnya riwayat tentang Arasy yang merintih sebab merasakan berat sesuatu yang ada di atasnya. Ibnu Taymiyah dan yang sealiran dengannya memakai riwayat seperti ini sebagai hujjah, bahkan mengatakan bahwa rintihan Arasy itu sebab berat badan Tuhan.

Demikian juga dengan hal-hal yang tak logis, maka dibuang jauh-jauh. Misalnya, mengatakan Allah punya ukuran yang besar sekali adalah tak logis sebab selama masih ada ukurannya berarti punya batasan. Kalau punya batasan berarti ada yang membatasi. Kalau ada yang membatasi maka: ada kalanya dibatasi oleh diri-Nya sendiri (ini berarti Allah berevolusi hingga mencapai batasan itu) atau dibatasi oleh oknum lain (ini berarti ada saingannya atau bahkan penciptanya). Dua-duanya bukanlah sifat ketuhanan sehingga tak layak dipertuhankan. Ini kebenaran rasional yang tak mungkin dibantah oleh siapapun yang merasa punya rasio.

Berbeda dengan mereka, golongan selainnya kerap kali meyakini sesuatu yang tak masuk akal lalu memaksa orang untuk diam. Dalil mereka hanya satu, yakni "pokoknya". Sama persis seperti orang yang berkata: Pokoknya pahatan kayu ini adalah tuhan, pokoknya matahari itu adalah tuhan, pokoknya tuhan itu punya anak, pokoknya tuhan itu ada banyak, pokoknya tuhan itu ada tempatnya, pokoknya tuhan itu ada batasannya, pokoknya tuhan itu punya organ tubuh, pokoknya ikut ucapan tokoh ABC dan seterusnya yang diakhiri dengan "Pokoknya kalau tak begini maka sesat!". Seringkali, untuk mengatakan "pokoknya" ini, mereka harus berbelit-belit dengan menyusun nukilan pendahulu mereka sebanyak ratusan halaman, tapi intinya hanya satu saja tetap "pokoknya" meskipun dengan redaksi yang diperhalus. Argumen mereka mempunyai tiga unsur utama, yakni:

1. Pokoknya begini
2. Pokoknya kamu diam jangan bawel
3. Pokoknya kalau tak percaya berarti sesat.

Mencari pencerahan dari mereka sama saja dengan mencari bagian yang hilang dari tengah donut sehingga membuatnya berlubang. Contoh nyatanya kita tunggu saja barangkali ada yang muncul di kolom komentar.

Semoga bermanfaat.

Sumber :  Kiyai Abdul Wahab Ahmad

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment