Thursday, April 19, 2018

Kebenaran Orang Alim Dan Kebenaran Orang Awam

Rate this posting:
{[['']]}

KEBENARAN ORANG ALIM DAN KEBENARAN ORANG AWAM

Oleh: Kiyai Abdul Wahab Ahmad

Sebenarnya, kebenaran hakiki itu satu jua tetapi dalam prakteknya kebenaran versi ulama dan versi orang awam kadang berbeda.

Orang awam melihat kebenaran secara hitam putih, sederhana sekali. Pokoknya tidak tepat maka langsung salah total dan dicela total. Pokoknya tidak putih polos maka hitam legam. Hal ini berimplikasi pada cara mereka berkomentar. Sebut saja kebenaran macam ini sebagai kebenaran sempit.

Adapun ulama melihat kebenaran dan ketidakbenaran secara bertingkat. Ia membacanya bukan hanya dari segi kebenaran itu sendiri tetapi juga dari segi lain yang berkaitan dengannya. Semuanya ditimbang dengan matang maslahah mafsadahnya barulah mereka sampai pada suatu kebenaran yang lebih komprehensif.

Kadang, orang alim itu tahu bahwa yang benar itu A dan yang salah itu B, tetapi dia merasa bahwa memilih A dapat mendatangkan mafsadah yang lebih besar daripada memilih B. Akhirnya dia berkata bahwa B lah yang benar. Ini disebut "irtikabu akhaffid dlararain".

Kadang, orang alim itu tahu bahwa suatu perbuatan itu boleh, tapi ia katakan bahwa perbuatan itu tak boleh sebab kalau dibolehkan akan berpotensi mendatangkan keburukan. Ini namanya "Saddud dari'ah".

Kadang, orang alim itu tahu bahwa suatu perbuatan itu salah besar, tapi ia nyatakan bahwa itu tak terlalu salah sebab kalau ini dipermasalahkan maka akan timbul gejolak yang luas. Ini namanya "dar'ul mafasid muqadamun 'ala jalbil mashalih".

Kadang, orang alim itu tahu bahwa suatu perbuatan itu tak wajib, tapi ia katakan sebagai kewajiban agar tercapai kebaikan tertentu yang lebih besar. Ini namanya "maslahah mursalah".

Kadang, orang alim itu tahu bahwa pertimbangan A itu lebih tepat daripada pertimbangan B, namun ia merasa pertimbangan B lebih mendatangkan kebaikan dalam konteks yang dihadapi. Akhirnya ia mengunggulkan pertimbangan B. Ini namanya "istihsan".

Hal-hal seperti ini seringkali tak bisa dijangkau oleh nalar orang awam sehingga mulut mereka tak ragu berkata yang tidak-tidak bahkan juga bertindak yang tidak-tidak dalam menanggapinya. Marilah sejenak kita lihat kembali sejarah di masa terbaik umat ini, di masa sahabat. Saat itu Khalifah ketiga umat Islam dibunuh dengan cara yang zhalim di rumahnya, tapi Khalifah penggantinya, Ali bin Abi Thalib sang mujtahid tak segera memproses kejahatan kejam itu. Bukan beliau tak tahu bahwa pembunuhan tersebut salah dan bahwa mengadili pelakunya secepat mungkin adalah benar, tetapi karena beliau punya pertimbangan menciptakan stabilitas politik dahulu. Dar'ul mafasid muqaddamun 'ala jalbil mashalih.

Tetapi orang-orang awam dengan versi kebenarannya tak mampu memahami ini dan bereaksi berlebihan hingga menimbulkan gejolak fitnah yang luar biasa yang akhirnya menyebabkan lahirnya berbagai faksi dalam umat ini. (Saya tahu ada beberapa tokoh besar yang terlibat menentang Sayyidina Ali, tapi mereka semua masuk dalam kategori awam bila dibandingkan dengan Khalifah keempat itu).

Tidak sepakat dengan kebenaran versi orang alim itu wajar saja sebab memang Allah tak menciptakan banyak kepala dengan satu isi saja. Tapi janganlah berlebihan merespon tindakan orang berilmu yang sepintas terlihat tidak benar. Bisa jadi ijtihadnya memang mengarahkan ia ke sana sehingga kebenaran versi orang banyak tak mereka lihat sebagai kebenaran yang komprehensif. Nanti di hadapan Allah akan ketahuan kebenaran siapa yang paling diridhai-Nya.

Namun satu hal yang kita tahu pasti tak benar menurut siapapun, murni hitam tak ada putih-putihnya, yakni membumbui hal yang dianggap tak benar dengan tuduhan-tuduhan tanpa bukti. Ini berat pertanggungjawabannya di akhirat, apalagi bila korbannya adalah ulama. Daging mereka beracun saudara-saudara!

Sumber : Kiyai Abdul Wahab Ahmad
Wallahu a'lam Bishowab
Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment