Thursday, April 19, 2018

Kisah Di Balik Lahirnya Sebuah Mazhab Akidah Terbesar

Rate this posting:
{[['']]}

KISAH DI BALIK LAHIRNYA SEBUAH MAZHAB AKIDAH TERBESAR

Oleh: Kiyai Abdul Wahab Ahmad

Imam al-Hafidz Ibnu Asakir (571 H) adalah seorang pakar hadis dengan puluhan karya monumental dan sekaligus sejarawan yang menulis buku Tarikh Dimasyq setebal lebih dari 60 jilid. Imam adz-Dzahabi menyebut profilnya sebagai ولا كان له نظير في زمانه (tak ada tandingannya di masanya). Tokoh besar dalam mazhab Syafi’i ini bercerita dalam kitabnya yang berjudul Tabyiin Kadbi al-Muftari fiimaa Nusiba ila al-A'syari (Menjelaskan Kebohongan Yang Dibuat-Buat Tentang Apa Yang Dinisbatkan Pada Imam al-Asy’ari) tentang kisah awal mula bertaubatnya Imam Abu Musa al-Asy’ari dari mazhab Muktazilah.

Ia menulis sebuah kisah panjang dengan sanad lengkap dari Syaikh Abul Hasan bin Mahdi yang mendengar Imam Abu Hasan al-Asy’ari bercerita kepadanya sebagai berikut:

------------awal cerita---------
Yang mendorongku keluar dari mu'tazilah dan memikirkan ulang dalil-dalil mereka serta mengeluarkan kesalahannya adalah aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam mimpiku di awal bulan Ramadan.

Beliau berkata kepadaku: "Wahai Abu Hasan, engkau menulis hadis?"

"Benar, Ya Rasulullah"

" Ataukah engkau tidak menulis bahwa Allah Ta'ala dapat dilihat di akhirat?"

"Benar, Ya Rasulullah"

"Lalu apa yang membuatmu enggan untuk berkata seperti itu (bahwa Allah bisa dilihat)?

"Dalil-dalil akal yang membuatku enggan kemudian aku mentakwil hadits-hadits itu."

"Dalil-dalil akal itu menurutmu tidak bisa menyimpulkan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat?"

"Benar, Ya Rasulullah. Itu hanyalah ketidak jelasan saja"

"Lihatlah lagi dengan pandangan yang komprehensif. Sesungguhnya itu bukanlah ketidakjelasan tapi justru dalil-dalil (yang kuat)".

Kemudian Rasulullah menghilang dariku. Lalu ketika aku bangun aku sangat terkejut dan aku mulai memikirkan kembali apa yang dikatakan oleh Rasulullah dan akupun mencari validasi kemudian aku menemukan faktanya memang seperti yang beliau katakan. Kemudian menjadi kuatlah dalil-dalil itsbat (penetapan bahwa Allah bisa dilihat di akhirat) dan melemahlah dalil-dalil penafiannya.

Imam al-Asy'ari terdiam sejenak, lalu menlanjutkan:

Aku tidak menampakan sesuatupun pada orang-orang dan aku dalam kebingungan tentang keadaanku. Kemudian ketika aku memasuki 10 hari kedua dari bulan Ramadan, aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Salam datang lagi (dalam mimpi) lalu bersabda:

"Wahai Abu Hasan, Apa yang telah kau lakukan dengan perintahku dulu?"

"Wahai Rasulullah, faktanya memang seperti yang anda sebutkan. Semoga salawat dari Allah senantiasa atasmu. Kekuatan dalil memang di sisi pihak itsbat (penetapan bahwa Allah dilihat di akhirat)".

Beliau bersabda: "[sekarang] Pikirkanlah seluruh masalah (ilmu kalam) yang ada dan renungkanlah!".

Lalu aku terbangun kemudian aku berdiri lalu mengumpulkan semua kitab-kitab ilmu kalam yang ada di depanku. Aku mengarsipkan dan mengangkat kitab-kitab itu. Akupun menyibukkan diri dengan kitab-kitab hadits, tafsir dan ilmu ilmu syariat. Bersamaan dengan ini, aku juga memikirkan semua masalah-masalah (ilmu kalam) yang diperintahkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kepadaku. Kemudian setelah aku memasuki 10 terakhir dari bulan Ramadan, aku melihat beliau kembali datang di malam Lailatul Qadar.
Beliau berkata kepadaku dalam keadaan TAMPAK MARAH: "Apa yang telah engkau lakukan dengan perintahku dulu?"

"Wahai Rasulullah, saya berpikir tentang apa yang telah anda ucapkan. Saya pun tidak pernah meninggalkan berpikir dan meneliti hal itu. Hanya saja SAYA TELAH MEMBUANG SEPENUHNYA ILMU KALAM dan saya berpaling darinya kemudian menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu syariah".

Kemudian Rasulullah bersabda kepadaku DALAM KEADAAN MARAH:

"Siapa yang memerintahkanmu untuk melakukan hal itu?. Buatlah kitab dan pikirkan jalan ini yang telah Aku perintahkan dirimu. Sesungguhnya itulah Agamaku dan itulah kebenaran yang aku bawa".

Kemudian aku terbangun lalu aku mulai mengarang kitab dan menolong serta menampakkan mazhab yang benar. Inilah sebab keluarnya diriku dari mazhab Muktazilah menuju mazhab Ahlussunnah Wal Jamaah.
------------akhir cerita---------

Saya tulis terjemahnya saja sebab terlalu panjang. Ada versi kisah lain dengan sedikit perbedaan redaksional.

Dengan ini, makin jelaslah bahwa Imam al-Asy’ari tidak membuat sebuah aliran baru melainkan menguatkan pendapat yang sudah ada dari masa Rasulullah dengan dalil-dalil ilmu kalam yang kuat, sebagaimana diperintah oleh baginda Rasulullah sendiri. Kesimpulan ini juga dinyatakan oleh banyak imam besar, seperti Imam Tajuddin as-Subky, yang menulis:

طبقات الشافعية الكبرى للسبكي (3/ 365)
اعْلَم أَن أَبَا الْحسن لم يبدع رَأيا وَلم ينش مذهبا وَإِنَّمَا هُوَ مُقَرر لمذاهب السّلف مناضل عَمَّا كَانَت عَلَيْهِ صحابة رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فالانتساب إِلَيْهِ إِنَّمَا هُوَ بِاعْتِبَار أَنه عقد على طَرِيق السّلف نطاقا وَتمسك بِهِ وَأقَام الْحجَج والبراهين عَلَيْهِ فَصَارَ المقتدى بِهِ فى ذَلِك السالك سَبيله فى الدَّلَائِل يُسمى أشعريا
“Ketahuilah sesungguhnya Abu Hasan TAK MEMULAI SEBUAH PENDAPAT BARU DAN TAK MEMUNCULKAN SEBUAH MAZHAB. Itu tak lain hanya merupakan penguatan terhadap mazhab salaf. Dia membela apa yang diyakini sahabat Rasulullah saw. Maka penisbatan diri pada beliau tak lain hanyalah pengakuan bahwa beliau mengikuti jalan salaf, berbicara dan berpegang teguh dengannya, mendirikan hujjah dan bukti-bukti atasnya. Maka yang mengikuti beliau dan menempuh jalan beliau itu dalam dalil-dalil disebutlah seorang Asy’ariyah”.

Jadi, untuk menjadi seorang Asy’ariyah, diperlukan dua hal saja: Pertama, harus paham betul akidah Salafuna as-Shalih sebelum semua perbedaan pendapat muncul di kalangan umat Islam dan setelahnya. Kedua, harus mampu menegakkan dalil dan hujjah untuk membelanya dengan ilmu-ilmu baru yang berkembang sehingga orisinalitas dari masa lalu menjadi kuat dengan analisis-analisis baru dari masa kini.

Beginilah jalan yang ditempuh mayoritas ulama dari empat mazhab dan mereka merasa bangga di jalan itu. Maka jadilah bagian dari pengikut mereka dan berbanggalah bersama mereka.

Semoga bermanfaat.

Sumber : Kiyai Abdul Wahab Ahmad

Wallahu a'lam Bishowab

Allahuma sholii 'alaa sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa salim

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment